
Jika kemarin Kalista jadi pusat perhatian karena terus diikuti oleh Agas, hari ini rasanya seluruh mata di sekolah menjadikan Kalista pusat perhatian cuma karena ia hidup.
Sudah dimulai sejak ia muncul dari parkiran bawah tanah sampai di kelas, rasanya tidak ada yang berhenti memberi Kalista tatapan mata.
Hah. Bukankah itu agak norak bagi mereka terus menatap Kalista seolah-olah tidak ada hal lain yang bisa dilihat?
"Segitunya mau diperhatiin," bisik seseorang pada temannya, jelas membicarakan Kalista.
"Kalo gue sih malu pamer bawa-bawa pengawal gitu. Heloo, you're not a princess, darling."
"Maklumin aja. Emang kan anak cewek murahan, jadi ya tingkahnya murahan juga."
Kalista bisa mendengar semuanya saat ia melewati mereka. Tapi, Kalista sedikitpun tidak terusik.
Malah Agas yang nampaknya khawatir pada perasaan Kalista.
"Nona baik-baik saja?"
"Enggak semua." Jelas Kalista terluka oleh ucapan semacam itu.
Mereka membicarakannya terang-terangan seolah Kalista itu tidak pantas berdiri di bumi ini.
__ADS_1
Namun, menurut pengalaman Kalista ....
"Mereka juga iri." Kalista tersenyum penuh percaya diri pada Agas. "Mereka iri karena Kakak ngikutin aku ke mana-mana, mereka iri soalnya mereka enggak punya yang kayak Kakak."
Mereka mungkin punya harta buat menyewa Agas juga, tapi mereka tidak punya orang tua yang sesinting Rahadyan buat rela uangnya habis cuma membayar satu orang mengintili anaknya ke mana-mana.
Jadi yah, jelas mereka cuma bisa iri dan menghina. Tentu saja, ada orang yang tulus menganggap Kalista norak dan tidak mau melakukannya juga.
Tapi ... berapa banyak sih perempuan yang menolak diikuti pria semempesona Agas? Dia bukan sekelas 'orang tampan' saja.
"Kakak tau apa yang paling nyiksa buat perempuan?" Kalista tertawa polos saat berbicara. "Itu ngeliat perempuan lain punya sesuatu yang mereka enggak bisa punya."
Agas tersenyum. "Bukankah itu berarti saya adalah benda yang tidak bisa dimiliki orang selain Nona?"
Kalista tidak peduli pada penggunaan kata benda atau manusia atau apa pun yang Agas tekankan, karena pada kenyataannya Agas adalah Agas bagi Kalista.
"Mereka bisa punya cowok super romantis buat mereka, tapi mereka enggak bisa punya cowok super romantis yang seganteng Kak Agas ngikutin mereka ke mana-mana. Mungkin mereka enggak bisa tidur di rumah mikirin kenapa aku punya padahal aku anak gundik."
Agas terkekeh. "Nona memang suka melakukan sesuatu yang menyenangkan."
Lalu tiba-tiba dia mendekat, mengulurkan tangan pada Kalista. "Kalau begitu, bagaimana kalau sedikit lebih romantis lagi?"
__ADS_1
*
Bocah itu. Bocah itu berani menyentuh Kalista lagi!
Siapa yang menyuruh dia melakukan hal tidak berguna itu dan menggandeng Kalista seperti kekasihnya?
Rahadyan bahkan belum pernah menggandeng tangan anaknya!
"Kamu nyuruh saya bantuin kamu atau nontonin kamu makin enggak waras?"
Rahadyan melotot pada Bu Direktur yang ikut menonton tayangan CCTV di tablet itu atas paksaannya.
"Ini! Ini masalah yang mestinya sekolah selesaiin! Harusnya sekolah ngasih peraturan cowok sama cewek enggak boleh sentuhan! Enggak, harusnya dipisah! Harusnya dijauhin! Bangun aja sana sekolah khsusu cowok di Papua!"
Bu Direktur benar-benar yakin kalau baut kepala Rahadyan ada yang jatuh saat dia lahir. "Terus gunanya kamu nyewa pengawal tuh apa kalo biarin dia dipegang aja enggak boleh?"
"Saya niatnya mau pengawal cewek!"
Orang ngerepotin, batin Bu Direktur kesal.
*
__ADS_1
selalu tinggalin like kalian untuk perkembangan karya author yah 😊