My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
127. I Love You


__ADS_3

Esok hari, pada akhirnya Kalista pulang dan bersiap untuk hadir di pesta ulang tahunnya. Benar kata Rahadyan bahwa tidak ada satupun orang di rumah ini yang menganggap Kalista waras. Buktinya, waktu Kalista pulang, mereka menyambut Kalista seolah-olah ia baru pulang liburan alias tidak menyinggung mengenai insiden 'diusir dari rumah makanya dia kabur ke pelabuhan'.


Itu menyebalkan, satu sisi.


"Masa sama sekali enggak ada yang permasalahanin soal kemarin?!" protes Kalista tanpa henti pada Agas yang menemaninya di kamar, didandani oleh make up artist. "Emangnya segitu banget jelas aku pasti pulang?! Kan ada kemungkinan aku pergi jauh-jauh! Kenapa enggak ada yang bilang 'jangan kayak gitu lagi' even itu Opa?!"


Agas tersenyum polos. "Karena orang dewasa tahu bahwa remaja akan menyesali tindakannya saat mereka sudah dewasa, Nona."


Dengan kata lain itu sudah jelas Kalista pasti kembali sebab kabur dari rumah adalah tindakan konyol anak kecil tidak waras.


Kalista menggembungkan pipinya sebal. Itu kan juga sama saja dengan berkata bahwa Kalista terlalu bocah untuk dianggap serius oleh semua orang.


Kalista tidak suka dianggap bocah! Ia sudah dewasa!


"Bagaimana jika Nona melupakan itu saja dan turun bersama saya? Nona sudah terlihat sangat cantik sekarang."


"Cantik banget?"


"Sangat cantik, Nona." Agas mengulurkan tangan layaknya pangeran membantu tuan putri turun dari kereta kencana—walau secara fakta itu cuma membantu Kalista turun dari kursi make up.

__ADS_1


Kalista menggenggam tangan Agas dan tersenyum. Setidaknya setuju bahwa segala hal tentang drama kemarin lebih baik dilupakan karena malam ini adalah malam pestanya.


"Aku enggak peduli soal ulang tahun," ucap Kalista memeluk lengan Agas. "Yang penting Kakak mau dansa sama aku nanti. Aku udah bilang sama Kak Cassie mau ada dansa jadi Kak Agas harus mau!"


"Nona bisa berdansa?"


Kalista membeku. Mendadak dibuat sadar kalau dirinya tidak bisa berdansa seperti tuan putri di pesta dansa.Kenapa dirinya tidak memikirkan itu dari sangat banyak waktu ia bisa memikirkannya?!


"Nampaknya sampai akhir Nona memang sangat suka melucu." Agas tertawa sembari menuntun Kalista berjalan lagi. "Mari pikirkan dansa nanti setelah Nona turun dan membutakan mata semua orang."


Ekspresi Kalista seperti menahan tangis. Demi Tuhan ia sering berpikir mau berdansa dengan Agas dan lupa berpikir bahwa dirinya tidak tahu berdansa.


"Mari, Nona."


Kalista sedikit merasa takut. Ia tahu di bawah sana ada sangat banyak orang yang akan memandangnya sebelah mata.


Sangat banyak.


Ketika keraguan itu menyelimuti Kalista, mendadak seluruh lampu dimatikan. Suara tamu yang terkejut dapat terdengar, namun itu hanya sesaat sebelum lampu menyorot pada Kalista dan satu lagi ke arah ... Cassandra yang memainkan piano.

__ADS_1


Wanita itu mendongak pada Kalista dan bibirnya mulai melantunkan lirik penuh ketulusan.


"Heart beats fast colours and promises, how to be brave? How can I love when I'm afraid to fall?"


Kalista mengatup mulutnya dan hanya berkaca-kaca melihat Cassandra. Kalista tak bodoh jadi ia tahu Cassandra duduk di sana, menyanyikan lagu cinta seolah dia benar-benar jatuh cinta pada Kalista adalah untuk memamerkan pada semua orang bahwa gadis ini, anak haram yang mendadak datang dan menjadi bagian dari keluarga ini, adalah gadis yang sangat dicintai bahkan oleh orang yang seharusnya benci pada kehadirannya.


"One step clooooser." Cassandra tersenyum lembut melihat Kalista menangis. "I have died everyday waiting for you. Darling don't be afraid I have love you for a thousand years. I love you for a thousand more."


Kaki Kalista hanya terpaku di anak tangga. Namun seolah tak cukup bagi mereka membiarkan Cassandra bernyanyi, secara bersamaan Raynar dan Rahadyan naik, masing-masing mengulurkan tangan untuk menjemput tangan Kalista yang seketika terisak-isak.


"Kenapa malah nangis, Princess?" tanya Raynar lembut. "Ini bahkan lebih romantis daripada waktu Om ngelamar Cassie."


Rahadyan terkekeh mengelap air mata Kalista. "Mulai sekarang enggak ada yang bakal bikin kamu sakit hati biarpun dikatain anak gundik," bisik Rahadyan. "Papa enggak bakal biarin ada yang ngelewatin romantisnya hari ini, termasuk kalo Papa nikah."


Bibir Kalista bergetar. "Norak," ejeknya tapi terlihat jelas sudah takluk.


Rahadyan tersenyum, membungkuk mengecup kening Kalista. "I love you, Baby. I love you."


*

__ADS_1


__ADS_2