My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
52. Tak Pernah Mau Memiliki


__ADS_3

Maksudnya Rahadyan menyewa pengawal mahal itu cuma buat Kalista? Cuma karena itu?


Dia .... Dia ....


"Dia gila, yah?" Kalista mengernyitkan dahinya tak habis pikir. "Orang dapet 1 M buat idup setahun dua tahun dia pake sebulan doang? Gila. Dasar Om gila!"


Sergio menjatuhkan dirinya ke sofa dekat jendela, penuh kepasrahan. "Makanya gue bilang Om Rahadyan lagi sinting. Yaiya sih duit segitu buat dia mah kecil, tapi enggak gitu juga kali."


Bibir Kalista cemberut memikirkan fakta kalau Agas benar-benar mahal.


Sebenarnya, itu pantas untuk orang semenawan Agas. Yaiyalah dia mahal. Tapi, maksud Kalista, kenapa Rahadyan melakukan itu?


"Menurut lo kenapa—"


"Kalista!"


Pintu kamar Sergio tiba-tiba dibanting terbuka, memunculkan sosok Rahadyan seperti habis dikejar anjing gila.


Dia terengah-engah menatap mereka, tapi langsung melotot pada Sergio yang bergidik. "Sergio bocah berengsekk!"


"Bukan saya, Om!" Sergio lompat menjauhi Kalista seolah-olah dia akan dikutuk jika mendekat. "Kalista yang masuk ke sini sendiri! Sumpah, Om, sumpah!"


"Halah, bacot! Kamu tuh—"


Teriakan Rahadyan terhenti karena melihat Kalista diam memandanginya. Dan seolah amukan tadi adalah kebohongan, Rahadyan berdeham, menatap anaknya lebih lembut.


"Kalista, kamu enggak boleh ke kamar anak cowok sendirian. Enggak, rame-rame juga enggak boleh tapi sendirian apalagi."


Mulut Kalista sedang cemberut. Dahinya berlipat-lipat memandangi Rahadyan hingga pria itu gugup.


Apa lagi sekarang? Apa dia akan menangis mengatakan dia adalah anak gundik hina jadi tolonglah maafkan dia?

__ADS_1


Atau justru dia akan berteriak mengatakan Rahadyan sangat tidak berguna jadi seseorang maka berhentilah hidup?


Rahadyan tegang memikirkan itu.


Tak tahu bahwa Kalista memandanginya karena sibuk berpikir hal lain.


Kenapa? Kalista masih tidak mengerti berapa kalipun ia coba memikirkannya.


Terima kasih sudah mempertemukan Kalista dengan pujaan hatinya yaitu Agas, tapi kenapa dia membayar orang semahal itu cuma buat menemani Kalista menghayal setiap hari?


"Kalista, ehem." Rahadyan sangat tegang sampai dia berdehem berulang kali.


Didekati anak gadisnya pelan-pelan, tidak tahu apakah dia berubah jadi kucing menyedihkan atau kucing ganas.


"Gini, Nak. Saya bukan mau ngatur kamu, bukan."


Siapa tahu dia marah diatur-atur, tidak boleh masuk kamar Sergio. Walau memang tidak boleh, tapi tidak boleh juga dia mengamuk.


"Bukan saya mau bilang kamu salah. Maksudnya, kalo mau ngobrol sama Sergio harus sama Agas, terus kalo bisa enggak usah ngobro—maksudnya, kalau bisa di luar aja, di depan TV. Biar kamu juga bisa—"


"Om."


Rahadyan sampai tersentak mendengar suara anaknya. "Apa?" balas dia spontan, menatap hati-hati.


Jangan mengamuk, jangan mengamuk, jangan mengamuk. Itu yang Rahadyan gumamkan bagai mantra.


Tapi, ia juga menggumamkan jangan menangis, jangan menangis, jangan menangis, karena belakangan Kalista jadi sering melakukan itu.


Keduanya pokoknya jangan.


Sementara itu, Kalista semakin mengerutkan kening pada pikirannya.

__ADS_1


Ia tak suka pada hal yang terlintas di benaknya sekarang, tapi Kalista juga mau menanyakannya karena suatu alasan.


Lalu pada akhirnya ....


"Om ngenggep aku anak Om?"


Rahadyan ternganga mendengarnya.


Astaga ya Tuhan, mau bertingkah apa lagi anak ini?


"Nganggep apa maksud kamu?" Rahadyan semakin cemas mendengarnya. "Kamu anak saya. Jelas anak saya. Bukan nganggep-nganggepan."


"Tapi Om enggak inget Mama saya."


Jleb.


Rahadyan berdehem canggung. "I-itu—"


"Om enggak pernah pengen aku ada, kan?"


"Kalista—"


"Jawab aja."


Rahadyan menghela napas, tapi diam-diam mengangguk.


Iya, dirinya tidak pernah menginginkan keberadaan Kalista di dunia.


Sedikitpun malah, dirinya tak pernah berpikir mau memiliki dia.


*

__ADS_1


__ADS_2