
Kalista menarik pintu terbuka dan baru saja mau berkata 'enggak usah lebay', Sergio sudah menubruk tubuhnya, memeluk Kalista terlalu erat.
"Bego." Sergio bergumam penuh penekanan. "Dasar bego."
Mulut Kalista terkunci rapat. Ia mendadak tak tahu harus mengatakan apa termasuk pura-pura tak tahu ada apa dengan Sergio.
"Harusnya kalo lo marah ya lo usir ke Om Rahadyan, kenapa pulak lo yang pergi." Sergio semakin mengeratkan pelukannya. "Kalo lo kenapa-napa di sini gimana, bego?"
"Itu bukan rumah gue," cicit Kalista tapi setengah cemberut.
Yang tidak ia ataupun Agas sangka, Sergio tiba-tiba mendorongnya, menampar wajah Kalista.
Tentu saja, Kalista tercengang. Walaupun tidak terlalu sakit, namun Kalista tak percaya dirinya baru saja ditampar dan itu malah oleh Sergio.
"Lo!"
"Gue yang ngomong kayak gini kayaknya enggak cocok tapi, Kalista," Sergio mengepal tangannya, "butuh waktu nerima segalanya sama egois itu kadang bisa sama. Persis kayak lo sekarang."
"Apa?" Kalista mematung.
__ADS_1
"Lo yang sekarang bukan butuh waktu lebih lama nerima bokap lo. Bukan. Lo cuma egois enggak mau nerima Om Rahadyan. Lo enggak mau dianggep luluh sama dia, nerima dia, karena kalo gitu artinya lo kalah!"
Kalista tersentak.
"Lo egois nolak bokap lo dan lo tau lama-lama orang bakal marah sama lo soal itu. Makanya lo pergi sendiri. Lo tau lo salah."
Kalista seketika berbalik. "Itu urusan gue—"
"Enggak. Bukan urusan lo doang. Ujung-ujungnya lo mesti mikirin perasaan orang di sekitar lo. Bukan perasaan lo doang. Termasuk perasaan gue."
"Hah? Kenapa jadi harus—"
Pelukan yang membuat Kalista kembali membeku.
"Lo enggak kalah sama siapa-siapa kalo nerima keluarga Om Rahadyan, Kalista. Biarpun lo orangnya emamg keras kepala, sesekali ngalah sama orang lain. Please."
Kalista menggigit bibirnya.
Ia sangat benci kenyataan bahwa hatinya berkata Sergio benar. Benar bahwa Kalista keras kepala karena takut kalah. Entah dari siapa tapi ia tak mau mengalah.
__ADS_1
Benar bahwa ia sebenarnya cuma sedang egois dan si Om Tidak Berguna itu ... tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Punggung Kalista gemetar ketika satu per satu air matanya jatuh. Ia terisak-isak di pelukan Sergio tanpa menyembunyikan apa pun lagi.
Kalista mengatakan semuanya. Bahwa ia sangat kecewa Bu Direktur risi padanya. Bahwa ia takut karena semua orang memusuhinya. Kalista tidak mau peduli bagaimana orang lain membencinya, tapi pada kenyataannya Kalista juga takut dibenci oleh terlalu banyak orang.
"Lo juga udah cuek banget," racau Kalista dalam tangisannya. "Kak Agas bilang karena tunangan lo enggak suka lo deketin gue. Tapi kalo enggak ada lo, gue enggak punya temen, hiks."
Sergio mendekapnya. "Maaf. Gue juga salah, maaf."
Sementara mereka berpelukam dan menumpahkan perasaan, Agas putuskan menyingkir, kembali ke dapur.
Kalau Sergio sudah menumpahkan semua kebenaran dan Kalista menangis begitu, seharusnya tidak akan ada masalah lagi.
Maka sekarang adalah waktu yang pas untuk Rahadyan muncul dan minta maaf pada Kalista. Walau Kalista yang salah, dia masih terlalu kekanakan untuk minta maaf duluan jadi sebaiknya Rahadyan yang mulai.
Dan jika sudah begitu ... berarti tugas Agas pun sudah hampir selesai.
*
__ADS_1