My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
53. Mama atau Papa


__ADS_3

Kalista melihat anggukan itu dan entah kenapa merasa sesak.


Sesuai dugaannya. Orang ini cuma berusaha bertingkah sebagai ayah karena mau tak mau dia mesti tanggung jawab.


Bahkan Kalista memikirkan sekarang. Kemungkinan, Mama mengancam keluarga ini agar mau menerima Kalista atau aib mereka (yaitu kenyataan ada anak haram lalu Rahadyan tidak mau tanggung jawab) itu disebar ke mana-mana.


Mana mungkin orang yang tidak mengenal Kalista benar-benar mau menerimanya.


"Hah." Kalista menghela napas pelan. Tapi juga terlihat baik-baik saja.


Kalista sudah terbiasa ditolak orang.


"Gitu yah, Om? Kalo gitu—"


"Itu sebelum saya tau kamu ada."


Mata Kalista mendadak bergetar.


"Gimana saya mau kamu ada kalo saya aja enggak tau kamu bakal ada? Lagian kalo saya ngarep kamu ada, saya nikahin Mama kamu baru bikin kamu."


Rahadyan menatap mata Kalista lurus-lurus.


"Tapi begitu saya tau kamu ada, saya tau saya mesti tanggung jawab. Jadi kalo pertanyaan kamu itu soal, saya masih mau punya kamu sekalipun kamu rada ngerepotin—ya jawaban saya jelas. Saya mau."


Eh?


"Lagian kamu nih, hah."


Rahadyan menghela napas kasar lalu berdecak. Mengulurkan tangan pada Kalista untuk menariknya keluar dari kamar Sergio.

__ADS_1


"Udah saya bilang berkali-kali kamu itu anak saya. Mama kamu pelacurr tapi kamu juga anak saya. Jadi jangan ngomong enggak jelas lagi."


Kalista merasa badannya gemetar tanpa alasan.


Tidak, mungkin lebih tepat menyebut ia tak tahu kenapa.


Matanya terpaku pada Rahadyan, tapi pikirannya tertuju pada Sukma Dewi.


Itu adalah kenangan lama. Hal yang Kalista lupa di usianya yang keberapa. Yang jelas, suatu malam, Mama tiba-tiba mengatakan sesuatu soal Rahadyan.


"Kalo kamu bisa milih antara Mama atau Papa, kamu milih siapa?"


"Mama."


"Kenapa bukan Papa?"


"Hmmm." Sukma Dewi waktu itu mengerang samar, terlihat memikirkan hal-hal rumit yang Kalista anggap tidak harus dia pikirkan. "Kamu enggak iri sama orang yang punya Papa sama Mama?"


"Gak."


Itu adalah jawaban spontan, tapi juga kebohongan.


Kalista sering merasa iri. Terutama jika ia melihat orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan papanya.


Entah itu anak kecil baru lahir yang digendong penuh kasih sayang oleh ayahnya, ataukah itu anak manja yang cuma tahu merengek pada daddy-nya, Kalista sering iri.


Karena ia tak punya Papa.


Ia selalu berpikir papanya tidak menginginkan Kalista, jadi Kalista juga tidak mau menginginkan dia.

__ADS_1


Sekarang Kalista dihadapkan pada situasi di mana ia benar-benar punya papa dan papanya itu berkata dia menginginkan Kalista.


Apa ... yang harus Kalista lakukan?


"Kalista."


Rahadyan yang menyaksikan mata anaknya perlahan memerah seketika dibuat panik lagi.


"Saya lagi enggak marah sama kamu, loh. Saya enggak marah, oke? Cuma ngasih tau aja. Pelan-pelan. Jangan nangis, yah? Kalista, yah?"


Kalista mengerutkan bibirnya melihat ekspresi Rahadyan.


Dia papa yang payah. Takut pada anak perempuannya sendiri. Tapi anehnya, dia juga terasa seperti sesuatu yang berbeda.


Maksud Kalista ....


Hah! Benak Kalista buru-buru memotong pemikirannya itu. Emang urusanku dia gimana? Cih, ngapain juga dipikirin?


"Kalista."


Membuang mukanya dari Rahadyan, Kalista pergi begitu saja.


"Nona."


"Aku lagi marah."


Agas yang mengikutinya diam-diam tersenyum. "Ya, Nona."


*

__ADS_1


__ADS_2