
Butuh mobil boks untuk menampung semua belanjaan Kalista seharian itu. Mobil sport Rahadyan tidak cukup. Segala hal Kalista beli dan sebenarnya itu masih belum semua.
Kalista masih mau beli tas, juga belum beli beberapa aksesoris dan belum menjelajahi tempat-tempat yang harus dijelajahi seorang wanita.
Sayangnya sudah malam, jadi Kalista harus pulang. Apalagi, Sergio dari tadi merengek bilang kepalanya pusing, perasaannya tidak enak.
Cih. Laki-laki tapi penakut. Sudah kelihatan jelas dia itu cupu. Tapi karena dia cukup berguna, Kalista biarkan saja dia masuk ke kamarnya.
Sementara Kalista naik ke kamarnya langsung, tidak lagi harus bergabung makan sebab ia sudah makan.
Sementara itu, Rahadyan memilih bergabung dengan keluarganya untuk makan.
"Widih, kayaknya Abang belanja gede-gedean, nih."
Raynar meledek waktu melihat pembantu rumah tangga mereka berbondong keluar, lalu masuk bersama banyak tas-tas belanjaan Kalista yang perlu mobil buat mengangkutnya.
"Gimana rasanya punya anak? Enak dong karena udah gede."
Cassandra tertawa melihat masam ekspresi kakak iparnya. "Bahagia dong yah, Bang Dyan?"
Ekspresi Rahadyan kosong menatap mereka. "Kalo enggak mau ngerasain garpu melayang, mending diem."
__ADS_1
Sepasang suami istri itu terkekeh kompak. Tidak takut pada ancaman Rahadyan.
Sama seperti Mama dan Papa yang juga cuma melihat depresi di wajah Rahadyan.
"Kayaknya Kalista udah mulai terbiasa sama kamu," ucap Mama senang.
Menganggap belanjaan banyak Kalista itu sebagai bukti bahwa cucunya sudah menggunakan sang ayah dengan sangat amat efisien.
"Bagus. Kamu ajakin belanja lagi besok kalo perlu. Beliin yang dia mau biar seneng. Kalo udah seneng, nanti deket sendiri sama kita."
Mama menganggap belanjaan itu sogokan buat Kalista. Tapi Rahadyan menganggap belanjaan itu penyiksaan.
"Bang, keriput kamu udah nyaingin Papa, tuh. Baru juga satu."
"Halah, bacot!" Rahadyan melotot tapi kemudian mengembuskan napas panjang.
Pria itu pun mulai menatap Papa, dengan ekspresi jelas yang biasa dia gunakan kalau punya sesuatu untuk didiskusikan.
"Kenapa?" tanya Sutomo, menyadari maksud anaknya mau mengatakan hal penting. "Kamu mau ngapain?"
"Aku mau nyewa pengawalnya Narendra."
__ADS_1
Mama yang tersedak. "Kamu gila?!"
Raynar bahkan juga terbelalak, walau tidak seheboh Mama. Pria itu langsung menyadari maksud Rahadyan.
Jadi, keluarga Narendra adalah salah satu keluarga old money di negara ini. Mereka memiliki banyak bisnis jasa di mana-mana, tapi salah satu yang paling-paling terkenal di antara seluruh keluarga elitis lain adalah Narendra menyediakan jasa pengawal profesional untuk konglomerat lainnya.
Pengawal mereka sangat patuh. Mahir melindungi bahkan jika nyawa mereka jadi taruhan, mengawasi klien mereka dua puluh empat jam selama masa kontrak. Dan itu terpercaya, sebab anak-anak Narendra dilundingi oleh pengawal-pengawal yang sama.
Tapi ... itu juga berisiko bagi mereka yang berasal dari kalangan elitis. Sebab pengawal Narendra cuma bisa disewa sementara. Mereka tetap milik Narendra dan kesetiaan mereka pada Narendra.
Biasanya orang tidak mau menyewa kecuali benar-benar dalam keadaan darurat atau punya hubungan kepercayaan kuat dengan Narendra, sebab pengawal bisa dijadikan mata-mata di kediaman mereka.
Jelas Mama bereaksi heboh.
"Kamu nih gila yah mau ngasih anak kamu orang kayak gitu?! Emang kamu tuh yah Rahadyan, enggak pernah bener dari dulu! Mama tuh enggak pernah habis pikir sama kamu!"
Rahadyan tidak mengubah ekspresinya.
"Ini keputusan aku. Kalo Mama nolak, aku bawa Kalista pindah."
*
__ADS_1