My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
28. Cuma Pencitraan


__ADS_3

Jika orang melihat Kalista apalagi mengenal ibunya, mereka pasti akan berpikir bahwa Kalista juga sama. Mungkin tidak sampai menjajakan tubuhnya demi uang, namun pasti terbiasa akan sesuatu yang disebut laki-laki.


Dan memang benar. Kalista hidup di lingkungan yang membuatnya paham makhluk seperti apa laki-laki itu.


Tapi, percintaan Kalista itu bisa dibilang nol besar. Biasanya tidak mudah bagi Kalista buat jatuh cinta, tapi Kalista pun punya 'kemampuan' menilai seorang laki-laki hanya dari melihatnya.


Pengawalnya ini adalah laki-laki dengan aura terbaik yang Kalista pernah lihat.


Senyumnya terkontrol, tatapannya teduh tapi tidak lemah, ekspresinya yang menyenangkan, dan yang paling penting, matanya menunjukkan dia tahu banyak rahasia dunia.


Widih, keren, kan?


Tapi Kalista serius. Ia merasa orang ini sangat istimewa dibandingkan dengan si Om Tidak Berguna atau si Sergio Cupu itu.


"Kakak belum jawab aku. Nama Kakak siapa?" tanya Kalista tanpa rasa canggung, karena dirinya tidak terbiasa jadi peragu.


Walau Kalista juga tersenyum malu-malu karena jatuh cinta. Bodo amatlah soal sandiwara dengan Sergio.


Lalu pria dewasa yang mungkin berusia dua puluh tiga tahunan itu kembali tersenyum manis. "Salam, Nona. Nona bisa memanggil saya Agas."


Kalista agak mengerutkan kening pada ucapan terlalu formal dan baku itu. Rahadyan yang menyadarinya langsung berkata, "Kamu enggak usah ngomong formal di sini. Ini bukan tempat Narendra."


Tapi, buru-buru Kalista menimpali, "Aku suka, kok. Kakak ngomong apa adanya aja."


Malah ucapan dia jadi terdengar beda sendiri. Meskipun agak aneh karena tidak terbiasa, entah kenapa Agas tidak terdengar bicara formal juga.


Seperti itu bahasa informal baginya.

__ADS_1


"Tentu, Nona."


Kalista terkekeh-kekeh senang karena Agas tersenyum.


Duh, manis dan segarnya dapat.


Rahadyan berdehem menghentikan adegan mesra-mesraan itu, sekaligus heran bagaimana bisa anaknya ini malah mau langsung selingkuh ketika baru kemarin dia jadian dengan Sergio.


"Mending sekarang kita ma—"


"Kakak mau aku ajak jalan-jalan enggak? Bukan maksud apa-apa kok. Soalnya Kakak baru di sini."


Helo? Siapa sebenarnya yang perlu diajak jalan-jalan?


Rahadyan cemberut menyadari fakta bahwa Kalista memanggilnya Pa cuma buat pencitraan. Cuma buat dipandang sebagai anak yang tidak suka memberontak di depan laki-laki idamannya.


"Pa, aku pergi sama Agas dulu yah. Opa, Oma, duluan."


Kalista dengan cepat beranjak, sekaligus mengajak Agas mengikuti langkahnya.


Bahkan Kalista tidak peduli waktu melewati Sergio yang cengo, sepenuhnya fokus pada sosok Agas ifu.


"Kakak umur berapa?" tanya Kalista penuh rasa ingin tahu yang sedikitpun tidak disembunyikan.


"Hmmmm, Nona ingin tahu untuk apa?"


"Ih, usil banget, sih. Kan tinggal jawab."

__ADS_1


Sergio mendadak gatal-gatal mendengar suara Kalista sekilas.


Apa-apaan?!


Bahkan kalau semuanya cuma pura-pura, masa dalam waktu dua hari dia sudah mencampakkan Sergio sepenuhnya dari dunia?


Di mana harga dirinya anak itu?!


Namun tentu saja, Kalista tidak peduli.


Mana ia peduli soal Sergio yang cuma alat buat membuat Rahadyan kesal sementara Agas adalah cinta sungguhan yang berbunga di hatinya baru saja.


"Bagaimana dengan Nona?" balas Agas dengan senyum pura-pura tidak tahu Kalista sedang merayunya.


"Kakak jawab dulu, dong. Baru aku kasih tau juga."


"Saya akan memberitahu kalau Nona memberitahu lebih dulu."


"Kok gitu?" jerit Kalista protes, tapi sambil senyum-senyum senang. "Yaudah, aku lima belas. Udah mau enam belas nanti."


"Jadi begitu. Pantas saja Nona menggemaskan."


Kalista tersenyum sampai gigi-gigi keciknya nampak dan benar-benar terlihat menggemaskan.


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊

__ADS_1


__ADS_2