My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
33. Tidak Pernah Mau Jadi Anaknya


__ADS_3

Kayaknya sudah sangat sering semua orang dibuat syok oleh Kalista. Itu sudah seperti bakat dari lahir. Entah soal keberadaannya yang tiba-tiba muncul, entah soal tingkahnya yang diluar ekspektasi, dan paling sering adalah omongannya.


Bahkan Opa terlihat seperti syok berat mendengar perkataan cucu perempuannya.


Yaiya sih mereka wajar Kalista masih remaja polos rada bodoh dikit, tapi bagaimana bisa dia sebodo—sepolos itu?


"KAMU GILA?!" Rahadyan tiba-tiba memukul meja, berteriak dengan mata melotot merah. "Kamu yah, Kalista, kamu—"


"Apa? Mau bilang aku enggak ada otak karena anak gundik?"


Dan Kalista paling jago menyerang seseorang dengan hal yang biasanya dianggap malu dikatakan.


Ekspresi anak itu mendadak dingin. Menatap risi pada Rahadyan seolah dia sebal dan tidak mau melihatnya lagi.


"Aku nih anak gundik, Om, jadi enggak punya cita-cita jadi Najwa Shihab atau Maudy Ayunda atau entah siapa lagi tuh perempuan sukses di dunia."


"Aku enggak peduli yang begitu-begituan. Terus, aku tanya sama Om, emangnya perusahaan Om tuh bakal buat aku?"


Sebelum ada yang menjawab, Kalista menjawabnya sendiri.


"Jelas enggak. Mau aku cucu pertama, aku enggak langsung ada di sini jadi mustahil. Lagian aku perempuan, jadi enggak mungkin megang kursi pewaris kayak di drama-drama."


"So, apa salahnya aku pengen nikah?"


Cassandra yang berdehem meredakan canggung lalu berusaha menjawab diplomatis. "At least kamu sekolah dulu, Dek."


Kalista tersenyum manis. "Aku udah jago bahasa Inggris kok, Kak. Aku bisa bedain aksen British, American sama Australian. Aku bukan orang bodoh yang bakal ditipu sama orang-orang karena aku enggak sekolah."

__ADS_1


"Terus, aku juga enggak ada niat kerja."


"...."


Semua orang mendadak diam dan hanya saling melirik penuh kecanggungan.


Suasana itu membuat Kalista jadi diam pula, menatap mereka dengan kening berkerut.


Tunggu. Jangan bilang sudah ada rencana dalam kepala mereka untuk hidup Kalista lagi?


Apa? Kalista harus jadi alat dagang untuk memperluas bisnis mereka?


Atau Kalista mesti jadi sesuatu yang mereka bisa pamerkan untuk menaikkan pamor keluarga?


Lagi, lagi, lagi dan lagi.


"Kalian mandang aku orang jalanan yang enggak tau apa-apa."


Kalista kehilangan seluruh senyum di wajahnya dan beranjak dari kursi.


"Kalian lagi mikir aku enggak ngerti apa-apa jadi ngambil keputusan bodoh."


"Emang kenyataan, kan?" timpal Sergio.


Sergio menoleh. Menatapnya dengan alis menukik kesal. "Lo kira omongan lo masuk akal? Enggak sekolah, pinter, bisa bahasa Inggris—enggak masuk akal. Kenyataannya lo kan cuma—"


"Anak pel*cur."

__ADS_1


Kalista mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap mereka semua yang tahu dirinya anak pel*cur.


Bukankah di awal sudah Kalista bilang kalau dirinya tidak akan pernah membiarkan siapa pun lupa, bahwa ia ini anak pelacur?


Itu adalah kebanggaan bagi Kalista, terutama di depan mereka semua.


"Jadi gitu. Jadi anak pel*cur mana tau yang baik atau yang bener."


Kalista mendengkus remeh.


"Kalian yang enggak tau kalo anak pel*cur tuh lebih paham kenyataan. Ya, seenggaknya terutama buat anak Mami kayak lo."


Sergio tersentak. "Apa?"


"Gue enggak pernah bilang mau jadi anak dia." Telunjuk Kalista jelas-jelas mengarah pada Rahadyan.


"Lo kira gue bangga jadi anak dia? Hah, bangga dari Jerman! Orang yang hamilin cewek tapi dia lupa ceweknya siapa, terus baru muncul pas ceweknya udah mati—lo kira gue bangga punya bapak enggak guna kayak dia? Cuih."


Sesuatu seperti merajam dada Rahadyan. Matanya memerah menatap Kalista yang juga menatapnya penuh kebencian.


"Om denger baik-baik yah, denger baik-baik! Semua harapan Om ke anak gundik ini, bakal saya balik jadi lawan harapan Om!"


"Kalo Om mau saya jadi bahagia, saya bakal hidup menderita biar Om tau rasa! Kalo Om mau saya idup, saya mending bunuh diri biar saya enggak ngeliat Om!"


"Jadi jangan berani ngarep apa-apa dari saya!"


*

__ADS_1


Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊


__ADS_2