My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
82. Yang Sabar, Yah


__ADS_3

"Terserah aja."


Aca menatap Rahadyan karena jawaban Kalista yang super tidak semangat itu. Dipandangi desainnya sendiri untuk memastikan apakah ada yang kurang, tapi Aca cukup percaya diri bahwa desain ini yang lagi digemari anak-anak seumuran Kalista, menurut testimoni pelanggan.


"Mas." Aca menyikut Rahadyan. "Ini gimana?"


Rahadyan menghela napas murung. Mereka jadi diam karena jawaban Kalista itu, sementara dia malah pergi duduk sambil bermain handphone alias sedikitpun tidak berniat berubah pikiran.


"Udahlah, lagian gue ambil tiga-tiganya juga."


"Um, oke." Aca meminta asistennya buat pergi mengajak Kalista mengukur badan, menyisakan dirinya dan Rahadyan saja di ruangan itu. "Well, gue denger sih, Mas, katanya anak lo unexpected, tapi gue enggak nyangka dia kayak gitu."


Iya, kan? Siapa pun yang mendengar status Kalista adalah anak gundik yang dioper ke Rahadyan karena mamanya mati, mereka membayangkan Kalista adalah anak pemalu atau paling tidak peragu.


Dia pasti sangat canggung karena pindah keluarga. Dia pasti juga tidak tahu berinteraksi dengan orang-orang apalagi memanfaatkan statusnya sebagai Putri Rahadyan, cucu pertamanya Oma Harini dan Opa Sutomo.


Tapi setelah bertemu Kalista, dia sedikitpun tidak mencerminkan semua kesan yang mereka bayangkan.


Dia tidak pemalu, dia tidak peragu, dia tidak canggung. Malah, dia terlihat tidak peduli sampai kesannya sangat terbiasa.


"Mas, sori yah gue nanya kayak gini cuma ... lo sama anak lo enggak deket?"

__ADS_1


Rahadyan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. "Keliatan?"


Kayaknya orang asing juga bakal bisa tahu dari ekspresi Kalista di sekitar Rahadyan.


"Kalista enggak mau deket sama gue." Rahadyan memghela napas lesu. Mendadak curhat karena Aca duluan bertanya. "Gue udah deketin dia pake segala cara, lo tau. Gue sampe nyewa pengawalnya Narendra buat jagain dia. Tapi ya lo liat sendiri."


Aca memandangi Rahadyan dan tampak memikirkan sesuatu yang rumit.


"Lo ada ide enggak sih gimana caranya deket sama anak? Gue enggak tau gimana bikin dia suka sama gue, sumpah. Kayak, dia ogah banget sama gue."


"Even lo belanjain dia?"


"Gue kasihin sport car dia ke sekolah, asal lo tau." Rahadyan mendengkus. "Gue belanjain yang dia mau enggak pake ngomong 'beli satu aja yah'. Udah diikutin sama pengawal satu M, gue bikinin pesta ulang tahun kayak kawinan—mukanya masih gitu-gitu aja."


Bahkan biarpun tadi Rahadyan sudah berteriak soal sikap Kalista itu membuatnya marah, dia tetap terlihat acuh tak acuh.


Hah. Kenapa sebenarnya anak itu begitu sulit membuka hati?


"Gimana kalo lo ngilang, Mas?"


Rahadyan mengangkat alis terkejut. Tapi hanya sesaat sebelum sudut bibir kanannya terangkat naik, tertawa sinis. Bahkan sebelum sadar, tangan Rahadyan sudah menepuk kepala si Cebol Aca, bernafsu menumbuknya.

__ADS_1


"Cebol, lo mau tambah cebol, hm?"


Aca meringis kesakitan. "Dengerin dulu gue ngomong, playboy karatan!"


"Dengerin lo ngomong gue ngilang?! Cih, mending elo yang gue ilangin!"


Aca menggertak giginya seperti kucing yang sedang marah. Berusaha sangat keras menepis tangan berat Rahadyan dari puncak kepalanya itu.


"Maksud gue tuh," Aca bergeser menjauhi Rahadyan, "lo ngilang sebentar dari anak lo."


"Gue udah ngilang enam belas tahun!"


"Yaelah, Mas, lo kayak abege baru mimpi basah aja sih. Lo ngerti dong maksud gue. Kadang-kadang ada cewek yang cuek banget tapi pas ditinggalin malah dia yang nyariim."


Rahadyan tersentak. Seketika berpikir bahwa itu benar.


Iya, yah. Cewek begitu kan banyak, yah. Apalagi tipe tsundere macam Kalista.


"Tapi, Mas."


"Hah?"

__ADS_1


"Kalo habis lo ngilang anak lo masih cuek juga," Aca mengusap-usap lengan Rahadyan dengan ekspresi prihatin, "itu artinya dia beneran enggak peduli dan enggak bakal pernah peduli. So, yang sabar."


*


__ADS_2