
"Halo?" Sergio yang masih bisa mendengar perkataan Kalista dibuat tercengang.
Siapa yang dia beri sapaan halo itu? Bukannya dia mau pergi membunuh bapaknya?
Tapi, bukan cuma Sergio yang terkejut. Rahadyan juga dibuat mematung oleh senyum anak perempuan liarnya yang kemarin-kemarin lebih cocok disebut anjing galak.
Siapa tadi yang dia beri halo? Rahadyan? Ah, tidak. Apakah Opa-nya? Opa Sutomo?
"Halo, Kalista." Raynar salah paham, membalas seolah Kalista memberi dia halo. "Sini, Sayang. Duduk sama kita sarapan. Bang, shu-shu, Kalista mau duduk."
Kalista tersenyum-senyum patuh dan datang untuk duduk. Dia bahkan melewati sisi Rahadyan lalu duduk persis di dekat Rahadyan.
Satu meja itu langsung terbelalak. Bahkan Opa Sutomo menatapnya seolah ada yang salah hari ini.
"Kalista, kamu mau roti?" tanya Opa, berusaha mencairkan suasana.
Tapi mereka tidak bisa menahan cengo di wajah mereka saat Kalista berkata, "Iya, Opa."
Tunggu sebentar. Bukankah itu agak terlalu manis? Ke mana anak perempuan dingin yang ekspresinya kalau bukan 😐 maka dia 😑 atau 😒 juga 🙄 bahkan 😠 itu?
Sejak kapan dia belajar senyum?
"Kalista." Rahadyan sampai tidak bisa percaya. "Kamu sakit?"
"Enggak kok, Pa."
Raynar menjatuhkan sendoknya saking tercengang mendengar. Cassandra berdehem dan buru-buru minum air putih agar tidak tersedak.
Lalu Harini? Beliau sedang berusaha keluar dari alam lain bernama 'syok'.
__ADS_1
Tapi tak sebesar guncangan yang melibas mental Rahadyan.
Pa.
Barusan anak ini memanggilnya Pa.
Bukan Om Tidak Berguna tapi Pa.
Tunggu, kenapa tiba-tiba dunia berguncang? Kenapa tanah mendadak bergetar? Apa jangan-jangan ada bencana alam?!
"Ehem." Cuma Opa Sutomo yang cukup tenang buat mengajak Kalista bicara. Beliau mengolesi roti untuk Kalista dengan cokelat, lalu berkata, "Ohiya, Sayang, ini orang yang bakal jagain kamu. Opa yang minta supaya kamu kemana-mana aman."
Kalau berkata itu dari Rahadyan, mereka khawatir Kalista mengamuk, jadi semua sepakat berbohong itu dari Opa Sutomo.
Karena itu masih wajar kalau Kalista berkata, "Iya, Opa."
Ibarat mereka semua adalah lampu, satu per satu menyala bersamaan dengan pahamnya mereka ada apa.
Lampu yang pertama menyala adalah Cassandra, lalu Raynar, disusul Oma, kemudian Opa, dan terakhir Rahadyan.
Rahadyan yang tadinya ibarat air tenang di danau pegunungan bersih mendadak terlonjak jadi magma panas.
Anak ini! Sekarang dia mengincar pengawalnya?! Kenapa dia sangat suka menbuat Rahadyan kesal?!
"Kalista, enggak lucu kamu—" main-main pacaran sama semua cowok cuma buat bikin saya marah, adalah apa yang mau Rahadyan katakan.
Tapi sebelum bisa selesai, Kalista menoleh padanya. "Kenapa, Pa?"
Pa.
__ADS_1
Cuma Pa.
Tapi dua huruf itu sukses membuat Rahadyan yang awalnya 'teng' jadi 'ssshh'.
Dari yang awalnya mau meledak seperti gunung merapi, mendadak jadi air sungai di waktu subuh.
Semua orang tidak bisa menemukan kesadaran mereka. Tapi, Cassandra sebagai wanita yang terbilang masih muda setidaknya bisa membuka suara.
"Kalista, kamu enggak keberatan punya pengawal, kan?"
"Enggak." Kalista menjawab manis. Sangat amat manis seolah dia bukan anjing gila yang kemarin teriak-teriak. "Enggak pa-pa. Enggak pa-pa banget kok. Hehe."
Dia menoleh pada pengawalnya buat senyam-senyum.
Rahadyan yang melihat itu langsung simalakama.
Anak ini berbuat manis karena suka pada pengawalnya, which is Rahadyan mau murka akibat hal itu. Tapi gara-gara itu, dia memanggil Rahadyan tanpa embel-embel tidak berguna.
Tenggorokan Rahadyan seperti terkancing.
Aku keluar satu M buat kontrak sebulan, gumam Rahadyan dalam hati, sambil berdehem-dehem sendiri. Ya, enggak pa-palah yah, dia juga profesional. Duitku kan balik juga kalo dia macem-macem.
Rahadyan tersogok oleh dua huruf dari mulut Kalista.
Pa.
*
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊
__ADS_1