
Kalista menipiskan bibir atas senyum Agas itu. Meskipun baru kenal beberapa hari, Kalista sudah tahu bahwa Agas akan selalu menjawab tegas apa yang akan dia lakukan.
Jadi kalau dia tidak menjawab, berarti besar kemungkinan jawabannya mengecewakan Kalista.
Kalo Kas Agas enggak ada, Kalista terus mengepalkan tangannya.
Ia tak mau membayangkan Agas meninggalkan sisi sekalipun Kalista sudah tahu betapa mahal Rahadyan membayar Agas.
Lagian aku kan emang mau morotin dia. Kalau Kalista menyewa Agas setahun, berarti Rahadyan harus keluar uang semiliar sebulan dalam setahun juga.
Benar. Kalista bakal mempersiapkan ulang tahunnya satu setengah bulan kemudian, untuk memastikan Agas tetap bersamanya.
"Om." Malam hari setelah Kalista selesai siap-siap dan Agas sudah pergi beristirahat, Kalista pergi menemui Rahadyan demi Agas.
Malamnya, Rahadyan sedang duduk di tepi kolam renang bersama laptop terbukan di atas meja. Walau Kalista rasa dia sedang bekerja, Kalista putuskan buat mendekatinya sebentar.
"Kamu pulang telat." Rahadyan langsung menatapnya dari atas ke bawah, seolah perlu buat mengecek apakah ada bagian tubuh yang hilang. "Padahal Papa mau ngajak kamu makan malem."
Kalista pura-pura melihat hal lain, tidak mau berkomentar. Sebenarnya ia sengaja pulang setelah jam makan malam lewat, biar tidak usah makan bersama Rahadyan.
"Aku mau minta sesuatu."
Tanpa Kalista sadar, Rahadyan seketika menegang.
Detik itu juga Rahadyan malah mau langsung mengeluarkan dompet—tidak, kunci brankasnya buat dikasih ke Kalista agar anak itu tersenyum gembira.
Siapa tahu dia bakal berkata 'yey, makasih Papa, muach' dan tentu diakhiri ciuman romantis di pipi Papa kesayangannya ini.
__ADS_1
Tapi, Rahadyan juga membayangkan ekspresi dingin Kalista dan bagaimana dia bakal menimpuk Rahadyan pakai batu.
Maka segera Rahadyan berdehem, menatap anaknya (berusaha) tanpa ekspresi.
"Apa?" ucapnya dengan suara nyaris bergetar. "Kamu mau minta apa?"
Tasnya Luis Piton? Atau mungkin paket lengkap baju dan make upnya Diora? Bilang saja, pasti bakal Rahadyan kabulkan.
"Aku mau Kak Agas—"
"Hah?"
"—ngerayain ulang tahun sama aku."
Rahadyan tertegun. "Sorry, say it again."
"Ulang tahun aku nanti, aku mau Kak Agas sama aku."
Ekspresi Kalista jadi kesal. Seolah dia marah karena Rahadyan malah tidak mengerti.
Kenapa kesannya Kalista minta ulang tahunnya dirayakan? Maksudnya tuh Kalista mau, nanti ketika ia ulang tahun, Agas masih ada agar Kalista bisa merayakan ulang tahun berdua dengan Agas!
Tapi Kalista berusaha sabar. Ia takut nanti Rahadyan malah menolaknya karena Kalista tidak meminta secara sopan.
"Kata Sergio, Kak Agas dibayar per bulan buat jagain aku."
Kalista mencengkram kursi yang tidak ia duduki karena cuma mau minta satu hal lalu pergi.
__ADS_1
"Kak Agas kan mahal banget. Jadi aku cuma mau Om janji kalo Kak Agas masih ada pas aku ulang tahun. Itu doang. Aku enggak minta ulang tahun aku dirayain."
Ekspresi Rahadyan hanya datar.
Tentu Kalista tidak tahu bahwa sebenarnya Rahadyan sedang berpikir apakah ia kembalikan saja Agas sekarang juga, sebelum Kalista makin tergila-gila pada dia.
Oke, bukan itu.
"Kalista." Rahadyan menyebut nama anaknya dengan lembut. "Ulang tahun kamu memang mau dirayain."
"Apa?!"
"Ulang tahun kamu mesti dirayain biar semua orang tau kamu beneran anak Papa, diakuin di keluarga Papa."
"Aku enggak suka gitu-gituan!"
Kalista suka ulang tahunnya dirayakan tapi ia tidak mau itu dirayakan di keluarga Rahadyan yang isinya cuma orang-orang julid.
Mereka pasti bakal menghina Kalista karena tidak tahu diri merayakan ulang tahun padahal baru saja terungkap dirinya anak Rahadyan.
Pokoknya Kalista tidak mau!
"Itu harus. Oma sama Opa juga bilang gitu."
"Kok Om enggak nanya pendapat aku dulu?! Itu kan ulang tahun aku!"
"Kamu—"
__ADS_1
"Lagian aku enggak mau! Mau Om bikin acara super gede aku tetep enggak mau dateng! Aku cuma mau sama Kak Agas!"
*