My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
29. Pokoknya Lo Pacar Gue


__ADS_3

"Agas."


"Ya, Pak?"


Rahadyan bersedekap. "Saya bayar kamu ke Al satu miliar buat kontrak sebulan. Jadi kamu tau kan kamu tuh enggak murah?"


"Tentu saja." Pria itu membalas profesional dan sedikitpun tidak menyinggung soal dirinya diperjual-belikan. "Saya juga membaca kontrak, jadi saya memahami tugas dan kewajiban saya."


"Bagus, bagus. Saya percaya sama uang."


Rahadyan mengangguk memikirkan banyak uangnya yang keluar untuk ini.


"Jadi sekarang tugas kamu selain yang pokok itu dua. Pertama, jangan sampe suka sama anak saya, apalagi berani nyentuh dia. Kedua, jauhin dia dari Sergio."


"Ya, Pak." Agas membalas tenang namun sangat tegas dan penuh keyakinan.


"Tapi sebelumnya, karena sepertinya Anda mempermasalahkan, saya meladeni usaha putri Anda agar bisa lebih dekat sebagai teman. Cara ini menjadi salah satu metode pengawalan Narendra jadi saya harap Anda tidak salah paham."


Kalau begitu sekarang tidak. Tadinya Rahadyan mau protes tapi yah baiklah.


Kalau dipikir juga, mustahil Kalista bisa dijaga kalau dia malah tidak suka pada pengawalnya.


"Oke. Yang penting kamu enggak nyentuh anak saya. Itu aja."


"Ya, Pak."


Dengan begini setidaknya Rahadyan sudah mengurus yang paling penting, kan? Menjaga Kalista plus menjauhkan dia dari si Sergio plus membuat dia jinak.


"Yaudah, kamu jagain Kalista."


"Ya, Pak."

__ADS_1


Robot yang berguna. Rahadyan tidak sia-sia menyewa dia mahal-mahal.


*


Kalista merasa kehilangan ketika Agas tidak terlihat walaupun cuma lima belas menit. Katanya dia pergi beristirahat sebentar, jadi Kalista mau tak mau harus patuh.


Namun tetap saja itu lama bagi Kalista.


Apalagi diantara itu ....


"Lo bisa-bisanya selingkuh sama pengawal lo sendiri! Baru dua hari kita jadian, Sayaaaaaaang!"


Kalista mengorek kupingnya yang gatal lalu menguap tak peduli pada protesan Sergio.


"Situasi berubah," ucapnya retoris. "Kalo lo mau pulang juga enggak pa-pa, gue udah enggak peduli."


Ekspresi Sergio seperti dia habis tertembak mati. "Bisa-bisanya," gumam dia samar. "Bisa-bisanya gue ketemu cewek iblis macem lo!"


Kalista sibuk celingak-celinguk menunggu Agas.


"Lo bayi kuda enggak level sama Ayang gue, yah, jadi jelas gue enggak milih elo! Shu-shu! Sana!"


Bayi kuda.


Sergio syok berat mendengar Kalista cuma menyamainya dengan bayi kuda.


Mungkin Sergio tidak segaul keluarganya yang lain, hobi ke luar negeri naik jet pribadi sambil pamer jam tangan mahal, sepatu mahal, berlian mahal, atau entahlah apa yang mereka pamerkan.


Tapi ... tapi masa Sergio yang punya darah rasnya Cristiano Ronaldo cuma dianggap bayi kuda?!


Yaiya sih si Agas ganteng, tapi Sergio juga ganteng!

__ADS_1


"Gue enggak terima." Sergio mengepal tangannya kuat-kuat. "Gue enggak bisa terima kalo kayak gini."


Kalista bahkan sudah tidak dengar, sibuk bercermin mengecek kecantikannya.


Rambut dia sengaja dibuat berantakan agar terkesan seksi, lalu celananya yang sudah pendek malah semakin dinaikkan agar semakin pendek, terus pusarnya dibuat di kelihatan biar makin menggoda.


Demi pengawal. Cuma demi pengawal, black card-nya Sergio dibuang.


Beraninya!


"Kalista."


"Haaaaaa." Gadis itu berbalik malas-malasan. "Paan? Mau pamit pulang? Yaudah, hati-hati di jalan. Salam buat nenek di rumah, bye."


Sergio bergegas mendekati Kalista, menarik lengannya agar dia berbalik.


"Lo pacar gue."


"Hah?"


"Pokoknya lo pacar gue! Kalo lo enggak mau," Sergio melotot lebar-lebar, "gue bilangin ke Om Rahadyan kalo Kalista cuma pura-pura pacaran sama gue biar dia kesel!"


"Bilang aja. Gak peduli, tuh."


"Hooh, beneran enggak peduli?" Sergio menatap menantang. "Kalo Om Rahadyan tau lo sengaja bikin dia kesel, menurut lo dia mau kesel lagi? Paling dia enggak bakal ngelirik. Bakal langsung tau lo mau bikin emosi."


Raut wajah Kalista langsung berubah masam.


Sialan.


*

__ADS_1


Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊


__ADS_2