
Sergio tidak pernah melihat Rahadyan jadi sinting seperti sekarang. Bahkan, sebenarnya Sergio tidak percaya bahwa sekarang ia sedang berhadapan dengan omnya itu.
Mungkinkah Rahadyan sedang dirasuki sesuatu yang berbeda?
Dia membangunkan Sergio pagi-pagi buta cuma untuk memamerkan pada Sergio bahwa sekarang Kalista punya pengawal.
"Kamu kemarin ngancem saya lapor polisi. kan?" Rahadyan dengan bangga memamerkan pengawalnya yang dia sewa sangat mahal. "Nih, liat. Backing-annya yang punya negara. Kalo kamu macem-macem sama anak saya, dia yang matahin leher kamu."
Sergio lebih mau bertanya otaknya Rahadyan ditaru di mana? Dia lupa ambil otaknya di mana?
Biar Sergio ambilkan. Kasihan soalnya.
Lebay banget, decak Sergio miris. Yaiya sih gue deket-deket Kalista rada gimanaaaa juga, tapi enggak gini kali. Masa sampe nyewa pengawal khusus? Punya Narendra pula.
Mungkin bagi Rahadyan uang miliaran untuk kebutuhan pribadi itu tidak terlalu mencekik. Yah, ada di dunia ini orang yang kaya-nya bukan banget lagi tapi kebangetan. Tapi serius Rahadyan melakukan ini?
Sergio tidak bisa percaya.
"Ngapain kamu diem?"
"Enggak, Om." Sergio mengamati pria asing itu dengan teliti.
Mukanya tidak seram, karena tampangnya malah ganteng. Dia malah punya wajah sangat tampan, untuk ukuran gelar pengawalnya. Tingginya juga nyaris menyamai Rahadyan, tidak berotot seperti Deddy Corbuzier, tapi terlihat jelas dia kuat.
Memang kayaknya dia bisa mematahkan leher orang.
"Om."
"Ha?"
Buset. Sergio berasa pengemis yang langganan datang. "Bukan apa-apa sih, tapi serius perlu banget? Saya juga tau diri kali enggak ngapa-ngapain anak Om."
__ADS_1
"Halah, taikuda!" Rahadyan membalas kasar. "Enggak usah nipu saya. Saya pernah seumuran kamu. Anak saya itu cantik, yakali otakmu yang bawah enggak mau."
Iya sih mau. Kalau Kalista mencium Sergio, terlepas dari Sergio ngeri padanya, kayaknya Sergio minta lebih. Tapi Kalista sendiri juga tidak mau jadi Sergio ambil aman.
Bapak sama anak kok bisa sama, yah? Padahal baru ketemu. Sergio geleng-geleng.
Membuat Rahadyan melotot galak. "Ngapain kamu geleng-geleng?"
"Enggak, Om. Pegel doang." Sergio mendadak capek lagi padahal baru tidur. "Kalo udah kenalannya, saya ke kamar yah, Om? Mau mandi."
"Awas kamu baba-babi lagi ke Kalista. Dia yang ngorek ginjal kamu."
Sergio berbalik pergi, mau waras saja.
Tapi ketika di kamar, Sergio buru-buru menghubungi Kalista. Untuk memberitahunya kegilaan Rahadyan pagi ini.
"Halo, Sayang?"
"ARGH!"
Jelas Sergio terkejut. "Lo kenapa?"
"Gue kira suara setan."
Tuh kan. Anak dan bapak sama. Sama-sama enggak waras.
"Om Rahadyan punya surprise buat lo."
"Bilang aja gue enggak mau makan ampe besok. Biar surprise-nya basi."
Sergio geleng-geleng lagi. Kenapa pagi buta begini ia malah harus menghadapi dua kesintingan berbeda?
__ADS_1
"Bokap lo nyewa pengawal. Katanya pengawal biar lo sama gue enggak deket-deketan."
"APA?!"
Dari seberang sana, Kalista langsung loncat dari kasurnya. Gadis itu tidak mematikan ponselnya, mungkin lupa, karena dia sudah sibuk berlari ke bawah.
Kemarahan mewarnai wajah Kalista. Bisa-bisanya Om Tidak Berguna itu mau mengaturnya lagi. Dia mau merasakan kemarahan Kalista yang lebih luar biasa rupanya.
"Kalista, jangan bunuh bapak lo. Serius, itu dosa," peringat Sergio ngeri.
Tapi Kalista terlanjut murka. "Gue cekek dia biar mampus! Dasar enggak guna! Apa-apa mau ngatur, apa-apa mau ngatur! Dia kira gue boneka?! Awas aja dia!"
"Kalista—"
Suara Sergio teredam karena Kalista sudah bertemu Rahadyan. Gadis itu berjalan marah mendekati sang papa. Bahkan, Kalista mau langsung lompat dan menjambak rambutnya agar dia tahu rasa.
Tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Sebelum Rahadyan sadar akan keberadaan Kalista, seorang pria berbalik padanya.
Pria itu mengerjap melihat penampilan acak-acakan Kalista sebelum tiba-tiba tersenyum.
"Halo."
Badan Kalista kaku. Bahkan napasnya tertahan.
Di ujung sana Sergio cemas. Takut jika Kalista mau mengigit leher bapaknya.
Tapi ....
"Halo." Kalista tersenyum malu-malu.
__ADS_1
*
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊