
"Yang sudah selesai bisa langsung keluar kelas."
Empat orang di kelas itu berdiri, termasuk Kalista. Lembaran soal evaluasi ia letakkan di atas meja guru, lalu beranjak keluar karena sudah diizinkan.
Masih sekitar empat puluh menit lagi sebelum bel berbunyi, jadi Kalista punya banyak waktu.
Kantin ajalah, pikir Kalista malas-malasan.
Tapi saat di depan pintu, sejenak Kalista berhenti. Menatap sosok Agas yang bersandar di tembok dengan tangan terlipat, entah sejak kapan.
"Aku udah bilang jangan ngikutin aku."
Agas menjawab tenang, "Saya tidak mengikuti Nona. Saya datang menjalankan tugas saya."
"Kalo gitu Kak Agas pulang aja, aku yang suruh. Selesai, kan?"
"Melindungi Nona adalah tugas saya. Mendengar perintah Nona adalah pilihan saya. Tolong ingat baik-baik."
Pipi Kalista langsung menggembung kesal. Segera Kalista berpaling, memilih berjalan sambil pura-pura tidak melihat Agas.
Sebenarnya Kalista tidak marah pada Agas. Tidak sedikitpun. Tapi, Kalista hanya sedang memikirkan bagaimana nanti jika Agas pergi. Dan Kalista tidak mau itu terjadi.
Lagipula hidup Kalista begitu tidak penting belakangan ini. Ia tak memikirkan apa pun hingga cuma bisa memikirkan Agas dan Mama.
"Bukankah Nona harus membicarakan masalah Nona pada saya, jika itu menganggu?"
"Gak."
__ADS_1
"Tapi saya tahu Nona ingin mengatakan sesuatu."
Kalista menghela napas. Tetap diam sampai mereka tiba di kafetaria. Kalista duduk di kursi setelah memesan dua porsi burger dan soda, sementara Agas memilih tetap berdiri walaupun biasanya dia duduk.
Pandangan Kalista mengarah pada kekosongan kafetaria lantaran jam pelajaran masih berlangsung.
Kekosongan yang entah kenapa membuatnya sadar bahwa ia pun sendiri kosong.
"Lucu, kan?" Kalista bergumam, pada akhirnya bicara juga. "Pindah dari anak pelacurr jadi anak sultan. Tapi mau ngapain aja enggak tau."
Tujuan. Dalam hidup Kalista, setidaknya setelah bertemu Rahadyan, itu adalah sesuatu yang sangat tidak terjangkau. Maksudnya, tujuan Kalista sendiri tidak terjangkau sebab memang tidak ada.
Sebelumnya saat bersama Mama, Kalista punya ambisi. Suatu saat ia akan jadi wanita sukses, membuat Mama berhenti jadi pelacurr, dan mereka membeli berbagai hal sesuka hati.
Tapi sekarang tidak ada. Rahadyan punya banyak uang sampai Kalista malah sudah bosan membeli sesuatu. Lalu dia juga terlalu kaya buat Kalista merasa harus berpikir soal pekerjaan di masa depan.
Lucu. Hidup yang membosankan.
"Kak Agas selalu tau soal aku jadi Kak Agas juga pasti tau, kan?" Kalista pura-pura tersenyum tapi tampak jelas menertawakan diri sendiri. "Aku pengen nikah sama Kak Agas terus punya anak. Biar apa? Biar aku punya kerjaan."
"...."
"Ujung-ujungnya Kak Agas malah udah mau pergi, sekolah juga ngebosenin, Mama juga enggak ada, ngerecokin Om Enggak Guna juga udah enggak seru."
Tidak ada yang bisa dilakukan.
Tidak ada yang menarik buat dilakukan.
__ADS_1
Atau haruskah Kalista ajak saja bertengkar si tunangannya Sergio itu? Ah, tapi merepotkan jadi tidak.
"Nona."
"Hm?"
"Saya melayani seseorang yang terkurung dalam kastil seumur hidupnya."
Kening Kalista berkerut, tak menyangka Agas bakal membicarakan Lissa Makaria Narendra di depannya secara langsung.
Siapa lagi di dunia ini yang dia layani terus terkurung dalam kastel? Bahkan calon ratu resmi saja tidak terkurung, jadi pasti Lissa.
"Terus?" balas Kalista ketus.
"Beliau terkurung tanpa pernah menyentuh ponsel atau memiliki teman bermain. Tapi beliau mengisi hari dengan senyum dan banyak permainan."
"Bocah banget."
"Permainan terakhir beliau membuat ibunya memutuskan tidak membuka mata lagi selama-lamanya."
Kalista tersentak. Tercengang menatap Agas yang hanya tersenyum lembut.
"Beliau menikmati hidupnya karena menyukai dirinya dan apa pun di sekitarnya. Saya rasa, Nona berkebalikan dari orang itu."
Kalista ... tidak menyukai siapa pun hingga tak bisa menikmati apa pun.
*
__ADS_1