
Rahadyan tidak terlalu khawatir lagi pada Kalista setelah Agas menegaskan dirinya sebagai seorang bawahan Narendra.
Memang sih, jika diibaratkan tentara, para pengawal Narendra itu bisa disebut pasukan militer terbaik di negara ini, dalam urusan kesetiaan.
Dari lahir hingga besar mereka diasuh okeh Narendra, hingga keterikatan mereka itu bahkan melebihi hubungan darah.
Makanya Rahadyan mulai percaya pada Agas daripada sekadar 'percaya'. Akan tetapi ... situasi apa yang sedang ia intip ini?
"Mengeringkan rambut Nona bisa termasuk tugas saya sebagai pengawal. Nona tidak seharusnya memberikan tugas saya pada orang lain."
Kenapa bocah besar itu menggerutu karena masalah mengeringkan rambut?
Rahadyan sempat merasa heran, tapi akhirnya sadar ada apa.
Hoo, Kalista tertawa. Lebih tepatnya tertawa menikmati dan berdekat-dekatan dengan Sergio.
"Tapi Kakak kan denger sendiri Sergio pacar aku. Iya kan, Sayang?"
Sergio memandang Kalista seolah anak itu gila.
"Nona." Agas tersenyum. "Bukankah seharusnya ini lebih dipersingkat? Mari saya bantu mengeringkan rambut indah Nona dan biarkan Bocah ini turun."
Begitu, yah.
Bagus. Bagus, Agas!
__ADS_1
Rahadyan langsung mendukung Agas setelah memahami semuanya dengan baik.
Dia berusaha menjauhkan Kalista dengan Sergio sesuai kontraknya. Memang sudah tugas dia tapi bagus.
Tapi ... Kalista malah mengira Agas cemburu dan mau terus memancingnya.
"Ummmm, enggak, deh. Aku sama Sergio aja. Ayok, Sayang."
Ya Tuhan. Rahadyan menepuk dahinya, pasrah dan berserah pada Yang Maha Kuasa. Anak gue kok gitu banget, yah?
"Nona sepertinya mau melihat kemarahan kecil saya." Agas tiba-tiba menarik tangan Kalista, menyentak tubuhnya lebih dekat.
Rahadyan melotot melihat pria muda itu meletakkan tangan di pinggang Kalista, lalu menunduk hingga wajahnya dan wajah Kalista berdekatan.
"Nona Kucing Liar saya Yang Menggemaskan." Agas merebut diam-diam handuk di tangan Kalista. "Tolong lebih patuh pada pengawal Nona ini, hm? Mengerti, Nona?"
Kalista seperti tersihir. Dia mematung memandangi wajah Agas dari jarak begitu dekat. Tapi bukan cuma dia, Sergio pun juga melotot horor melihat pengawal itu malah memeluk-meluk Kalista.
Dasar Kutil ini!
Dan semua kemarahan itu tidak sebanding dengan kemarahan Rahadyan yang mau meledakkan kepala mereka.
"Bocah sialan enggak tau neraka," gumam Rahadyan, nyaris mencakar tembok.
Saking fokusnya mengintip, Rahadyan sampai tidak sadar kalau di belakangnya sudah ada Raynar menyaksikan punggung dia miris.
__ADS_1
Otaknya korslet karena punya anak, bisik Raynar prihatin. Apalagi anaknya modelan Kalista. Wajar sih, wajar.
Raynar sedang menggendong anaknya pun mengusap-usap kepala bocah laki-laki itu. Dalam hati Raynar berdoa agar baik Rahadyan atau Kalista tidak menjadi panutan dari anaknya kelak.
Lalu Raynar mendekat. Ikut mengintip apa yang diintip Rahadyan.
"Wah, perselingkuhan." Raynar langsung menyeletuk.
Wajah Rahadyan sudah luar biasa gelap. Abangnya itu malah seperti sedang mengutuk dua laki-laki di sana, karena berani-berani mengapit anak gadisnya yang cantik jelita.
"Ohiya, Bang."
Raynar tidak melewatkan ini buat berkomentar.
"Kalo misal Kalista demen sama Agas terus mau nikahin, berarti lo bayar satu triliun dulu dong ke Narendra?"
Mulut Rahadyan komat-kamit bersama kutukannya yang semakin cepat menyebar.
Kata menikah dari mulut Raynar malah semakin membuatnya ingin meledak.
Dua orang itu. Dua orang yang pantas mati itu, tidak seharusnya Rahadyan percaya pada mereka!
"Kalista." Suara dingin Rahadyan menghentikan semua drama handuk untuk rambut itu.
*
__ADS_1