
Suara mobil berhenti di depan rumah langsung menbuat Kalista lompat dari sofa. Kalista berlari keluar, menemukan Rahadyan turun dari mobil yang mengantarnya bersama seorang wanita asing.
Tapi Kalista tidak terlalu penasaran siapa dia. Kalista cuma mau hadiahnya buat Bu Direktur.
"Om."
Rahadyan yang tidak menyangka Kalista bakal keluar lebih dulu tak bisa menahan rasa harunya. Sampai-sampai Rahadyan merentangkan tangan, siap memeluk Kalista sambil berpikir bahwa mungkin saran Aca benar.
Setelah ditinggal sebulan lebih, anaknya bakal merindukan Rahadyan.
"Kalista—"
"Om, hadiah buat Bu Direktur mana?"
Rahadyan mematung dengan tangan terangkat, merentang, kesepian karena Kalista malah lewat.
Anak itu malah pergi ke mobil, menunggu supir membuka bagasinya.
Satu per satu keluarga Rahadyan keluar. Melihat Rahadyan cengo dalam posisi siap memeluk tapi tidak ada yang memeluknya.
Tentu saja, Raynar tertawa keras.
"Kasian, ngira Kalista kangen. Ngimpinya kepagian, Bang."
Cassandra di sebelah suaminya ikut terkekeh. "Peluk sana gih, Yang. Kasian Abang Dyan."
"Sergio, peluk sana Om kamu."
__ADS_1
"Psikiater keluarga aku lagi ke luar negeri, Om, jadi enggak boleh ketularan sakit mental dulu."
Jawaban gendeng Sergio tidak sempat Rahadyan balas karena sudah berbalik melihat anaknya.
Dia benar-benar cuma fokus pada oleh-oleh ternyata. Malah duduk di teras cuma buat membuka koper.
"Kalista." Rahadyan berusaha tidak baperan, datang mendekati anaknya. "Bukanya di dalem aja."
"Enggak, Om, aku mau langsung pergi bawain Bu Direktur. Soalnya udah janji."
Kenapa dia terus membicarakan Bu Direktur?
"Emangnya Bu Direktur nyuruh kamu bawain oleh-oleh hari ini?"
"Aku udah janji. Janji ya janji." Kalista mendongak. "Oleh-olehnya mana? Kok gini semua?"
Ya soalnya itu koper oleh-oleh buat dia, bukan buat Bu Direktur.
"Gak, mau nganter sendiri." Kalista menjawab acuh tak acuh, pergi meninggalkan oleh-oleh dia untuk mencari koper berisi oleh-oleh buat Bu Direktur.
Rahadyan merasa agak sedih. Apakah sedikit saja Kalista tidak rindu padanya? Sedikit saja?
Padahal Rahadyan pergi agar Kalista merasa sedikit kehilangan tapi dia malah lebih fokus pada Bu Direktur? Serius?
"Yey, dapet!" Kalista berseru senang justru saat dia mendapatkan plastik hadiah yang Rahadyan memang tuliskan nama Bu Direktur di atasnya. "Kak Agas, ayok. Sekalian mau makan malem sama Bu Direktur."
"Baik, Nona."
__ADS_1
Oma cuma tersenyum melihat Kalista. "Salam buat Bu Direktur, Sayang."
"Iya, Oma." Kalista menjawab ceria, berlalu pergi tanpa menengok Rahadyan lagi.
Semua orang menyaksikan mobil Rahadyan yang dipinjamkan pada Agas untuk mengantar Kalista mulai keluar dari halaman.
Baru setelah itu Rahadyan benar-benar dapat perhatian, itupun cuma berupa tepukan Papa di pundaknya.
"Kita ngobrol di dalem. Kamu pasti capek."
Tidak secapek saat ia melihat Kalista malah pergi, alih-alih duduk sebentar walau sekadar bertanya bagaimana kabar Rahadyan.
Rahadyan memang dengar Kalista sedang dekat dengan Bu Direktur, tapi memangnya harus sampai mengesampingkan Rahadyan?
"Enggak usah sedih gitu. Nanti juga Kalista balik lagi."
Ya tapi itu berarti Rahadyan bukan prioritas.
"Ngomong-ngomong, ini yang kamu ceritain sama Mama? Laura, yah?"
Laura tersenyum formal pada Harini dan Sutomo. "It's so lovely to see you, Om, Tante. And, long time no see, Raynar."
"Very lovely to see you, Laura." Mama langsung menyambut Laura hangat, sudah mengetahui bahwa dia adalah calon istri Rahadyan. "Come, let me see you close."
Rahadyan cuma diam melihat Laura membaur dengan keluarganya begitu cepat. Laura adalah perempuan cerdas dan penuh percaya diri, jadi tak sulit kalau hanya sekadar berkenalan di awal.
Fokus Rahadyan tidak pada perkenalan itu melainkan Kalista.
__ADS_1
Apa jangan-jangan kepergian Rahadyan itu sebenarnya sia-sia, yah? Kalista tidak memedulikan apa pun yang Rahadyan lakukan karena memang dia tidak berharap apa-apa.
*