My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
32. Wortel


__ADS_3

Kalista adalah satu dari sekian orang wanita yang sebenarnya kurang menikmati film romantis. Bahkan, Kalista sebenarnya tidak suka sampai kadang-kadang jijik pada adegan romantis di film yang menurutnya tidak realistis dan sangat amat berlebihan.


Makanya tidak heran waktu film baru dimulai, diam-diam Kalista bersandar pada lengan Agas ... buat tidur.


Daripada menikmati film dari tiket mahal yang ia beli, Kalista malah lebih menikmati tidurnya di lengan Agas yang kokoh.


Soda di cup Kalista bahkan tidak dingin lagi dan popcorn-nya malah dihabiskan oleh Agas, yang secara terpaksa menonton film romantis tidak jelas.


Tapi begitu keluar dari Bioskop dengan Kalista yang menguap setengah ngantuk, Agas tetap tersenyum profesional.


"Nona terlihat lelah. Sudah waktunya kembali agar Nona beristirahat?"


Kalista mengantuk dan masih mau tidur, tapi bergegas dia menggeleng. "Jalan dulu."


"Baiklah. Hanya, karena saya menilai Nona sedang lelah, lebih baik berkeliling sebentar saja. Setuju?"


"Deal."


Lagipula yang paling Kalista mau adalah memeluk lengan Agas lama-lama. Dia tidak protes sedikitpun bahkan ketika Kalista menggenggam tangannya.


Agas malah balas menggenggam tangan Kalista, mengajaknya bicara tentang hal-hal yang mereka lihat di etalase.


Tentu saja dari belakang mereka Rahadyan dan Sergio masih betah mengikuti. Namun ekspresi Rahadyan sudah lebih tenang karena dari tadi mengamati, tidak sedikitpun Agas mencari kesempatan lebih.


Selalu Kalista duluan yang menyentuh.

__ADS_1


At least Agas tidak ikut-ikutan genit macam Sergio.


Nah, bicara soal Sergio, anak itu sedang menahan diri tidak menusuk-nusuk boneka santetnya pada Agas.


Baru kemarin! Baru kemarin gue yang nemenin keliling, sekarang haha-hehe-an sama cowok lain.


Yaiyasih cuma akting tapi enggak gitu juga kali!


Pokoknya itu tidak bisa diterima kalau Kalista malah kesemsem sama buah kesemek penyek itu.


Cih, cih, cih. Masa dari tadi Kalista belanja Kalista sendiri yang bayar—pake kartunya Rahadyan.


Si Kutil tidak gentle sama sekali.


*


Tapi Kalista sangat amat bahagia sampai ia terus tersenyum-senyum di dalam rumah.


Bahkan waktu dipanggil makan, Kalista masih tersenyum cerah.


"Kamu habis belanja sama Agas?" Begitu tanya Opa Sutomo. "Gimana sama dia, Sayang? Kamu suka?"


"Suka." Kalista menjawab suka yang berbeda dari makna suka dari pertanyaan Opa. "Suka banget, Opa."


Oma sudah tidak syok, jadi beliau mengangguk-angguk santai. "Memang kelihatan jelas sih itu anak berbobot. Selera kamu emang bagus, Sayang. Cari pacar memang harus yang begitu."

__ADS_1


Rahadyan masam mendengarnya tapi tidak protes sebab dia masih berusaha mengerti.


Ingat, satu miliar. Uang satu miliar tidak pernah bohong.


Uang satu miliar berkata Agas tidak akan menyentuh Kalista, jadi tidak akan mungkin.


Sementara itu Raynar dan Cassandra lebih fokus memerhatikan wajah bete Sergio yang seharian dicueki oleh Kalista.


"Ehem." Raynar berdehem pelan. "Jadi, berhubung Kalista udah enggak pa-pa, kapan masuk sekolah?"


Telinga Sergio bergerak mendengar kata sekolah. Otaknya yang cerdas langsung bisa memikirkan kalau Kalista sekolah, maka otomatis si Kutil tidak ikut.


Berarti Sergio punya kesempatan buat memonopoli—maksudnya buat tidak melihat si Kutil itu di mana-mana.


Benar.


"Kalo bisa secepatnya aja, Om." Sergio langsung buka mulut. "Soalnya aku juga mau sekolah. Aku kan cuti buat nemenin Kalista juga."


"Hmmm, bener." Oma mengangguk-angguk. "Gimana kalau lusa? Kalista, lusa mau enggak ke sekolah?"


Wajah Kalista diluar dugaan langsung terlihat malas.


"Aku enggak mau sekolah," ucapnya seolah itu cuma soal tidak mau makan wortel. "Opa, boleh enggak langsung nikah aja sama Kak Agas?"


Rahadyan tersedak oleh wortel di sayurnya.

__ADS_1


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊


__ADS_2