
Suara ketukan pintu kamar Kalista terdengar nyaris bersamaan dengan dirinya keluar dari kamar mandi. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk lembut, Kalista berjalan mendekat.
Kalau mengetuk pintu tanpa suara begitu, yang jelas pasti bukan Agas. Soalnya Agas sering memberitahu lalu masuk tanpa menunggu, sebab sudah diizinkan.
Ternyata, itu Kak Cassie.
"Kalista." Ekspresinya terlihat jelas sangat keteteran dan lelah.
Kalista jadi merasa sedikit bersalah karena sudah merepotkan. Seketika terlintas di benaknya bagaimana perdebatan dengan mamanya tadi, yang sejujurnya sangat tidak penting dan tidak menarik.
Intinya, perempuan itu tidak suka pada Kalista. Bahkan kayaknya merasa terganggu.
"Kalo Kakak mau bahas soal mamanya Kakak, enggak usah. Aku udah ngerti."
"Kalista, jangan kayak gitu." Cassie bergegas masuk menyusul Kalista yang berjalan cuek ke depan cermin. "Mama bukan maksud ngomong gitu. Mama tuh cuma—"
"Kak." Kalista menoleh, menatap tajam sang bibi yang terlihat lebih seperti kakaknya memang. "Aku tuh paling benci orang munafik."
Cassandra tersentak.
"Aku juga benci sama orang yang suka bohong biarpun dia niatnya mau baik. Mending bohong aja biar dia enggak sakit hati. Aku BENCI konsep kayak gitu. Aku bisa jaga hati sendiri, jadi enggak usah repot-repot."
Mungkin karena Kalista sering bertingkah konyol belakangan, orang lain jadi melihatnya sebagai gadis tolol.
Hah, sungguh tidak lucu sama sekali. Apa di mata orang lain Kalista ini polos? Dirinya ini?
"Jadi gimana kalo Kakak jujur aja, daripada ngomong 'maksud Mamanya Kakak bukan begini'."
__ADS_1
Cassie menelan ludah untuk alasan yang sulit dia mengerti.
Sejak awal dia sudah merasakan, tapi kadang-kadang Kalista itu mengeluarkan tatapan yang menakutkan dan dingin. Itu tidak seperti Rahadyan atau Raynar apalagi Opa Sutomo.
Matanya yang menakutkan dan mati rasa itu bukan sesuatu yang normal dimiliki anak seusianya.
"Hah." Cassie menghela napas sebelum memutuskan untuk jujur saja. "Pihak keluarga aku nganggep kamu gangguan karena posisi Rahil."
Sudah Kalista duga. Jadi cucu pertama dan anak pertama itu punya privilege tersendiri, jadi Rahil yang seharusnya anak pertama dan cucu pertama malah digeser ke posisi cucu kedua—ya tentu tidak menyenangkan.
"Sebenarnya itu enggak ada gunanya juga." Cassie mengernyit seolah dia sendiri tak suka memikirkannya. "Mereka salah paham. Oma sama Opa enggak pernah nerapin sistem ahli waris ahli warisan di sini?"
"Maksudnya?"
"Mau siapa anak pertama ya, mungkin bedanya cuma soal perhatian aja. Bukan soal warisannya." Cassie menghela napas. "Papamu sekarang masih kerja di bawah Opa juga, tapi Papamu juga punya kerjaan sendiri diluar Opa. Sama aja, Papanya Rahil juga gitu. Makanya, soal warisan kamu sama Rahil, ya itu dari Papa kalian berdua, bukan dari Opa atau Oma."
"Tapi uang bikin buta." Kalista yang mengucapkan itu. "Makanya orang lain ngeliat uang buat aku bakal lebih banyak daripada uang buat Rahil."
Cassie menatap ke arah lain dan kembali menghela napas. "Semua orang udah denger kamu dapet pengawalnya Narendra. Orang-orang mulai ngomong kamu dapet privilege khusus sementara Rahil enggak. Padahal yang bayar Agas ya Papamu, sendiri pake uangnya. Oma sama Opa enggak ikut campur sama sekali soal jajan kamu juga."
"Tapi banyak yang salah paham makanya enggak seneng?" tebak Kalista tepat sasaran.
"Karena kamu yang bilang jangan munafik, aku terus terang. Di mata semua orang, enggak peduli apa, kamu anak gundik."
Kalista tersentak. Agak sedikit terkejut walaupun bukan dalam arti negatif.
"Keluargaku, keluarga Oma Opa juga, banyak yang ngerasa kamu cuma ngerusak image keluarga. Mereka enggak seneng kamu dibikin pesta ulang tahun, enggak seneng kamu dikasih pengawal. Apalagi banyak orang bilang kalau kelakuan kamu di sekolah itu murahan."
__ADS_1
Kalista tersenyum sinis.
"Jelas aku enggak mikir gitu. Aku sama Papanya Rahil selalu nganggep kamu keluarga kita. Enggak peduli mamamu siapa. Oma bener soal—"
"Enggak peduli."
"Eh?"
"Aku enggak peduli sama orang yang enggak suka." Kalista berbalik cuek. "Kakak kan bilang, Mama aku gundik. Kakak tau kerjaan gundik apa? Disukain buat objek seksuall, tapi dibenci karena enggak punya harga diri."
Kalista dibesarkan oleh orang seperti itu.
Apa mereka pikir Kalista adalah orang yang bakal terganggu cuma karena dibenci?
Hah! Mereka harus bekerja lebih keras kalau ingin membuat Kalista terganggu. Paling tidak orangnya harus sekelas Kak Agas.
"Sebenarnya, dari awal aku mikir Kak Cassie enggak suka sama aku." Kalista tersenyum. "Aku selalu mikir enggak ada yang suka sama aku, makanya aku juga enggak perlu suka sama mereka. So, enggak ada pengaruh."
Cassie mengerjap sebelum tiba-tiba dia tersenyum canggung. "Kamu bikin Kakak ngeri kadang-kadang."
"Aku anggep pujian."
"Emang pujian." Wanita itu mendekat. Mencubit pipi Kalista hingga senyum Kalista berubah ringisan sakit. "Jangan terlalu dingin sama keluarga sendiri. Kamu nih mau semandiri apa pun tetep butuh keluarga. Dasar enggak tau diri."
"Emang ada manusia tau diri?!"
"Ada. Aku." Cassie terkekeh.
__ADS_1
*