My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
64. Menolak Baper


__ADS_3

Mata Kalista masih terbuka lebar bahkan sejak masuk ke kamar. Dan karena tidak ada Agas, Kalista benar-benar tidak punya siapa pun untuk diajak bicara, mengalihkan sedikit saja perhatiannya pada hal diluar Rahadyan.


"Papa mau orang ngeliat anak Papa yang imut ini."


Kalista melotot pada udara kosong di depannya, sebal karena ia tak bisa melupakan itu.


Dan yang paling membikin sebal, bibir Kalista malah tersenyum.


"AAAAAAKKKKHHHHHHH!" jerit Kalista frustrasi.


Tidak, tidak, tidak!


Tidak boleh!


TIDAK BOLEH SAMA SEKALI!


Tidak boleh Kalista sampai termakan oleh omongan manusia brengsek itu.


Pokoknya tidak!


Kalista mengacak-acak rambutnya frustrasi, menolak kenyataan kalau omongan Rahadyan sempat membuatnya baper.


Cuih, cuih, cuih! Najis!


Kalista melompat dari tempat tidurnya, bergegas lari keluar buat menemui Agas.


Pasti dia sedang istirahat sekarang, tapi Kalista tidak bakal bisa melupakan pikiran kotornya ini kalau bukan diganti dengan kebaperan dengan Agas.


Kamar Agas selalu berada persis di dekat kamar Kalista, jadi tidak sulit menemukannya.


"Kak Agas, aku masuk yah." Kalista mengetuk pelan dan mengucapkan izin, tapi tidak sedikitpun menunggu respons sebelum masuk.

__ADS_1


Sesuai dugaan, Agas sedang tidur di kasurnya yang berukuran sama seperti kasur Kalista. Dia terlihat lebih polos saat tengah tidur, dengan ekspresi tenang di wajahnya yang masih saja tampan.


Pelan-pelan Kalista naik ke kasur, lalu berbaring di samping Agas.


Bagus, ia mulai lupa dengan muka menjijikan Rahadyan.


Tapi agar semakin lupa, Kalista menyentuh wajah Agas, berusaha menahan kekehan geli terhadapnya.


Pria itu agak bergerak merespons, lalu tanpa sedikitpun Kalista sangka, Agas menyentuh pipinya yang terdapat tangan Kalista.


Agas bahkan menggenggamnya, samar-samar terlihat tersenyum nyaman.


"Nona."


Kalista mematung. Tunggu, Agas terbangun? Dia tahu Kalista diam-diam menjadi gadis mesum yang naik ke kasurnya tanpa izin?


"Kak Agas—"


"Saya merindukan Nona." Agas menggenggam erat tangan Kalista di pipinya dan tetap terpejam nyaman.


"Kak Agas." Kalista memanggilnya, buat memastikan apakah Agas sedang mempermainkannya atau sesuatu.


Tapi Agas tetap terpejam. Dia justru meletakkan tangannya di pinggang Kalista, menariknya lebih dekat tanpa rasa canggung.


Wajah Agas terkubur di tengkuk Kalista. Tubuhnya menempel erat pada pria itu. Jelas saja Kalista yang menjadi korban langsung memerah padam.


Akan tetapi ... satu bisikan, membuyarkan segalanya.


"Nona Lissa."


Agas ... tidak memimpikan Kalista.

__ADS_1


Agas tidak mengigaukan namanya tapi orang lain.


Lissa, siapa dia? Kenapa Agas meracaukan nama orang itu dalam tidurnya? Jangan bilang dia orang yang sebelumnya Agas layani?


Kalau begitu kenapa Agas masih meracaukannya? Bukannya kenyataan dia pengawal Kalista sekarang berarti Agas sudah bukan pengawal orang lain?


Lissa itu siapa?!


*


Agas terbangun oleh suara alarm di atas meja dekat kasurnya. Tanpa kesulitan dia terbangun, karena seumur hidupnya setiap hari Agas bangun pukul setengah empat pagi, dan paling lambat adalah pukul setengah lima pagi.


Kesadaran Agas masih berusaha terkumpul ketika matanya melihat beberapa helaian rambut panjang. Spontan Agas memicing, mengambil helaian rambut yang jelas milik perempuan itu.


Aroma samar dari jejak-jejak tempat tidur yang nampaknya diisi tak bisa sepenuhnya hilang dari penciuman tajam Agas.


Kalista. Apa yang Nona itu lakukan di sini?


Tidak, dia seharusnya membangunkan Agas kalau ada perlu jadi mustahil itu dia, tapi ....


"Selamat pagi, Nona." Agas merasa harus memastikan. Itu kejadian yang tidak wajar.


Pukul enam pagi ia membangunkan Kalista dari depan pintu, Agas tersenyum menyapanya. Dan Kalista tidak bisa menyembunyikan senyum kikuk.


"Pagi, Kak."


Jadi benar dia menyelinap di kamar Agas.


Yah, itu salah Agas tidak mengunci pintu dan bahkan tidak sadar sama sekali.


Tapi apa yang dia lakukan saat Agas tidak sadar?

__ADS_1


"Saya memimpikan Nona semalam." Agas mengulas senyum lembut yang ia tahu akan membuat Kalista terpesona. "Saya cukup senang kalau Nona dalam mimpi saya dan Nona pagi ini terlihat sama cantiknya."


*


__ADS_2