My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
38. Maaf atau Jangan?


__ADS_3

"Anda tahu Narendra mengagungkan diri mereka lebih di atas segala hal."


Rahadyan termenung memikirkan perkataan Agas padanya.


"Seorang Narendra bahkan dilarang membungkuk ke Ratu Kerajaan Inggris. Mereka tidak bersujud pada siapa pun dan tidak akan pernah. Anda tahu, kan?"


Rahadyan menghela napas.


"Saya datang sebagai wakil Narendra, Pak, jadi saya mengemban harga diri Narendra. Tolong jangan terlalu sering mempermasalahkan pekerjaan saya kecuali benar-benar terjadi masalah."


"Nona Kalista menangis bukan karena saya berkata dia tidak tahu diri, tapi saya berkata Nona layak mendapatkan cinta keluarganya. Bagaimanapun, hubungan Anda dan Nona memang buruk, jadi sangat mudah hal-hal semacam ini terjadi."


Agas membungkam Rahadyan dengan kenyataan telak.


Uang satu miliar tidak berbohong, itu intinya.


Tapi gara-gara itu Rahadyan jadi termenung mengingat tangisan Kalista. Dia begitu bersedih dan terluka.


Sebenarnya Rahadyan tahu kalau anak itu tidaklah sekuat yang dia tampakkan. Dia terluka oleh banyak hal di sekitarnya. Terutama soal Rahadyan.


Rahadyan menghela napas untuk kesekian kali. Beranjak dari tempat tidur, Rahadyan keluar dari kamar dan langsung dihadapkan pada kamar anaknya.


Di depan kamar itu Agas berjaga.

__ADS_1


"Kalista udah tidur?"


"Sudah, Pak."


Jam kerja pengawal Narendra pun sudah diatur. Dari pukul empat pagi sampai pukul sembilan malam. Kebetulan Rahadyan keluar satu menit sebelum pukul sembilan, hingga ketika jam menunjuk ke waktu yang telah ditentukan, Agas pun undur diri.


"Kalau begitu, saya permisi."


Rahadyan memandang punggung pria muda itu frustrasi. Tidak bisa dibantah, memang karismanya dia tidak main-main. Dia tampak hanya satu tingkat di bawah para Narendra asli.


Jelas aja Kalista suka.


Rahadyan mendengkus pada fakta menjengkelkan itu, diam-diam mendorong pintu kamar Kalista agar terbuka.


Rahadyan mendekati anak perempuannya itu. Duduk memandangi wajah polosnya yang tengah pulas.


"Saya—Papa minta maaf, Kalista."


Rahadyan mengulurkan tangan tanpa keraguan ke wajah anaknya. Membelai pipinya yang halus dan ingat itu memerah saat dia marah ataupun menangis.


"Papa minta maaf udah enggak becus."


Dia adalah kehadiran yang tiba-tiba muncul dalam hidup Rahadyan. Tak ada angin tak ada hujan, Sukma Dewi datang meminta anaknya diurus karena dia akan segera mati.

__ADS_1


Rahadyan sekali lagi mengatakan ia tak bisa percaya, tapi ketika melihat anak ini, rasanya segala dunia Rahadyan pun telah berubah.


Ya Allah. Rahadyan berganti mengusap wajahnya sendiri. Menyebut Tuhan-nya bahkan sebagai individu yang bisa dikatakan jauh dari agama.


Berkelebat di benak Rahadyan, kalau saja dulu ia tahu lebih cepat. Paling tidak saat usia Kalista masih beberapa bulan, setahun atau dua tahun.


Enam belas tahun dia besar sendirian, cuma sama Mamanya.


Rahadyan diam-diam menggenggam tangan Kalista.


Emang enggak masuk akal kalo dia beneran bisa manggil aku Papa.


Enam belas tahun itu seperempat umur manusia pada umumnya. Kalau Kalista hidup sampai umur enam puluh tahun, berarti satu per empat dari hidupnya itu berisi kekosongan akan Rahadyan.


Bukan waktu yang sebentar.


"Papa mesti bilang apa sama kamu?" Rahadyan bergumam dalam kekosongan itu. "Maafin Papa? Tapi Papa tau enggak bakal pantes. Terus, jangan maafin Papa?"


Tapi Rahadyan mau hubungannya dengan Kalista tidak berlarut-larut dalam kebencian ini.


Lantas ia harus bagaimana?


*

__ADS_1


__ADS_2