My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
69. Tugas Merepotkan


__ADS_3

"Hah." Rahadyan menghela napas panjang begitu melihat Kalista tidur bahkan jauh lebih cepat daripada Rahil.


Anak itu berbaring menyamping di atas karpet, memegang mainan dan kayaknya tidak sengaja jatuh tertidur lantaran bosan.


Rahadyan segera mengambil Rahil. Membantu anak itu ganti baju dan ganti popok, lalu meletakkan dia dalam boks tempat tidurnya.


"Time to sleep, buddy." Rahadyan mengusap-usap kepala keponakannya yang sudah mengerti bahwa dia akan tidur karena lampu sudah mati. "Goodnight."


Kecupan kecil mendarat di kepala anak itu sebelum Rahadyan meninggalkannya, beralih mendekati Kalista.


Sebelum benar-benar mendekat, Rahadyan mencolek lengan Kalista untuk memastikan apakah dia bisa bangun ataukah tetap tidur.


Untungnya tetap tidur.


Rahadyan lantas mengambil anak itu dalam gendongannya. Membawa dia pelan-pelan keluar dari ruang bermain Rahil. Tentu saja, Agas juga masih berjaga.


Dia tidak bisa disuruh pergi, jadi Rahadyan biarkan dia mengikutinya naik ke lantai tiga, membawa Kalista ke kamar.


"Tutup pintu."


Agas menarik pintu tertutup sesuai keinginan Rahadyan begitu mereka masuk ke kamar. Jelas, Agas di luar.


Sementara itu, Rahadyan mulai meletakkan anaknya baik-baik di kasur tempat tidur.


Rahadyan selimuti Kalista baik-baik, mengatur suhu kamar agar tidak panas dan tidak terlalu dingin pula. Baru setelah itu Rahadyan duduk, memandangi wajah Kalista sambil berpikir mengenai banyak hal.

__ADS_1


Ulang tahun Kalista nanti, kontrak dengan Agas bulan depan, lalu kehidupan sekolah Kalista yang masih sulit disebut baik-baik saja, kemudian permintaan dia tadi mengenai Rahadyan menikah.


Hah, ada sangat banyak hal yang harus dilakukan.


"Papa sayang kamu, Kalista." Rahadyan berucap tanpa alasan saat melihat wajah galak Kalista dalam tidurnya. "Papa sayang kamu."


Tidak pernah Rahadyan sesayang ini pada seseorang melampaui rasa sayangnya pada Kalista.


Setelah lama Rahadyan memandangi anaknya dan puas akan hal itu, baru ia beranjak. Tak lupa meninggalkan kecupan kecil di kening Kalista, berharap dalam tidurnya dia memimpikan hal menyenangkan.


Di luar, Agas masih berdiri sigap karena jam masih menunjuk ke pukul setengah delapan.


"Agas."


"Ya, Pak?"


"Tentu saja." Agas menjawab tenang tapi tak sedikitpun ragu pada perkataannya. "Saya hanya harus memberitahu bahwa kontrak saya hanya bisa diperpanjang dua bulan. Saya harus kembali melayani Nona Lissa setelah itu."


Ya, Rahadyan tahu itu karena Al juga sudah menekankan.


"Kalo gitu saya kasih kamu tugas baru sekarang."


"Ya, Pak?"


"Bikin Kalista enggak suka sama kamu."

__ADS_1


*


Agas tak bisa berhenti merenung setelah Rahadyan memberinya tugas baru itu.


Bikin Kalista tidak suka, katanya.


Jujur saja, selama ini Agas sudah menajalnkan banyak misi aneh yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh bayangan orang-orang. Dan Nona Lissa yang Agas layani bersama beberapa pengawal lain, itu jauh-jauh-jauh sangat jauh lebih istimewa (dalam arti merepotkan) daripada Kalista.


Tapi belum pernah Agas dapat tugas justru membuat kliennya tidak suka. Ia tidak diajari cara melakukan itu, terus terang.


"Kak Agas."


"Ya, Nona?"


"Kak Agas lagi ada masalah?"


Agas terkejut bukan karena pertanyaannya, melainkan kenyataan bahwa Kalista menyadari Agas tengah berpikir serius.


Padahal Agas sudah terbiasa mengosongkan ekspresinya bahkan saat panik, tapi Kalista masih memerhatikan?


"Tidak, Nona." Agas sedang bingung bagaimana ia membuat Kalista benci padanya tanpa membuat dia menangis apalagi menyakiti.


Soalnya tugas Rahadyan itu juga super tidak masuk akal.


Tidak boleh menyakiti, harus menjaga, tidak boleh membuatnya menangis, harus memanjakan, harus membuat dia senang—tapi buat dia juga benci.

__ADS_1


Maksudnya apaan?


*


__ADS_2