My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
123. Udah Tua


__ADS_3

Sergio mundur dari tempat itu, sadar bahwa lebih baik dirinya menghilang sebentar untuk memberi mereka waktu. Bagaimapaun, Kalista sangatlah pemalu jadi berdua dengan Rahadyan pasti lebih nyaman baginya jika ingin minta maaf.


Saat Sergio berbalik, tak sengaja malah ia melihat Bu Direktur. Wanita itu tengah mengusap matanya yang basah, tapi bergegas menutup dengan kacamata hitam karena tahu Sergio mendekat.


"Bu."


Bu Direktur berdeham. "Maaf, saya jadi sentimental." Beliau tersenyum sedikit paksa. "Papa saya udah enggak ada, jadi kangen aja ngeliat mereka."


"Ibu mau saya peluk?" tawar Sergio iseng, sekaligus menghiburnya.


"Kamu mau saya banting?" balas Bu Direktur dengan senyum canda tapi nada serius.


"Hehe. Siapa tau kan Ibu mau."


"Udahlah. Mending kamu temenin saya dulu ke tempatnya Kalista, kamu tau kan?"


"Oiya dong, Bu. Mari, Bu. Apa perlu saya jadi kuda biar Ibu enggak capek jalan?"


"Kamu pernah denger namanya sate kuda?"


Sergio tergelak geli, buru-buru mengakhirinya sebelum Bu Direktur marah sungguhan.


Mereka meninggalkan Rahadyan dan Kalista berdua di sana, memberi Rahadyan ruang untuk menyaksikan wajah anaknya yang terus terisak-isak.


"Aku udah jahat," ucap Kalista dalam tangisannya. "Aku jahat banget sama Papa. Makanya Papa marah sama aku."


"Enggak. Enggak gitu. Papa enggak marah."

__ADS_1


"Bohong, hiks. Buktinya Papa nyuruh aku pergi."


"Papa emosi bukan berarti marah sama kamu." Rahadyan mengusap kedua pipi Kalista, walau percuma karena air matanya kembali berjatuhan. "Papa lebih marah ke diri Papa karena enggak bikin kamu bahagia."


"Akunya yang salah," rintih Kalista seolah-olah dia menjadi sangat benci pada dirinya. "Akunya enggak tau diri."


"Kalo gitu sekarang kita impas aja, yah?" bisik Rahadyan saat meraih anak itu ke pelukannya. "Mulai sekarang Papa bakal jadi Papa heroik kamu, jadi kamu baby princess-nya Papa."


Kalista tak menjawab, namun memeluk Rahadyan erat-erat. Jauh di dalam hatinya Kalista menyesal karena tidak memeluk sang Papa sedari dulu saja.


*


Kalian percaya ada pria sempurna di dunia?


Jelas omong kosong.


Kewarasan.


Lepas berbaikan dengan Kalista, Rahadyan bahkan tidak malu mengambil foto mereka duduk di bibir pelabuhan, dia dalam kondisi basah kuyup dan Kalista menutup wajahnya yang memerah. Tak cukup gila, Rahadyan mengunggahnya di akun sosial media dengan tulisan : udah taken.


"Papa norak banget sih!" protes Kalista yang dihiraukan oleh Rahadyan.


"Sayang, gini yah, ada dua hal yang mesti orang tau soal Papa sama kamu." Rahadyan mengantongi ponselnya dan kembali memeluk Kalista. "First and the most important thing is cuma Papa dan selamanya bakal selalu Papa yang jadi pacar kamu."


Kalista menatapnya datar. "Pacar aku Sergio."


"ENGGAK!"

__ADS_1


"Dih, suka-suka aku dong."


"Enggak bisa gitu dong." Rahadyan melotot. "Kamu itu punya Papa. Cuma punya Papa. Cowok selain Papa itu cuma babunya kamu. Enggak level jadi pacar kamu. Pacar kamu tuh Papa!"


Lihat kan? Kewarasan dia hilang entah ke mana.


"Whatevs, Pa." Kalista beranjak, bermaksud pergi duluan tapi jelas Rahadyan mengejar. "Lagian Papa juga punya pacar. Itu yang Papa bawa ke rumah aku liat."


"Nah, itu second and so important too. Enggak peduli siapa perempuan di hidup Papa, kamu yang nomor satu. Impas, kan?"


Kalista mengerutkan kening jijik. "But I don't need to be your the most important thing, Pa. I'm important to myself."


"Enggak bisa gitu dong, Kalista. Kamu ya Papa, Papa ya kamu."


"Ah, berisik!" Kalista akhirnya berhenti berjalan, berbalik untuk melotot. "Cuma karena kita udah baikan, bukan berarti Papa mendadak jadi pacar aku! Aku tuh sukanya pacar kayak Kak Agas!"


"Tadi kamu bilang Sergio!" balas Rahadyan tak mau kalah.


"Soalnya Kak Agas enggak mau! Seenggaknya Sergio bisa dipamerin makanya dia pacar aku!"


"Kalo mau pamer ya pamerin Papa!" Rahadyan masih ngotot.


"Tapi Papa tuh udah tua!"


Rahadyan mendadak syok.


*

__ADS_1


__ADS_2