My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
58. Kencan Mendebarkan


__ADS_3

"Om jemput aku cuma buat ngajak makan di sini?!"


Kalista terbelalak tak percaya sampai-sampai ia menatap Rahadyan seolah yakin otaknya dia sudah berdebu.


"Om kira aku ada waktu buat ngikutin Om gila di sini?! Terus, Kak Agas juga—"


"Kalista." Rahadyan memotong ucapan Kalista dengan tenang, lalu menatapnya penuh kesan misterius.


Setidaknya, bagi Kalista itu misterius.


Mata yang memancarkan kasih sayang. Mata yang memancarkan rasa penasaran tapi sedikitpun tidak mengganggu justru membuat ia terganggu.


Mata yang menatapnya seolah-olah Kalista itu makhluk kecil mungil menggemaskan, dan seluruh kesalahan Kalista adalah kebohongan.


Itu sangat misterius.


"Saya—enggak. Bukan saya." Rahadyan berdehem, lalu mengulas senyum kecil. "Papa mau ngabisin waktu sama kamu."


Rahang Kalista rasanya mau jatuh lagi. Ia cuma bisa berekspresi 😳 pada Rahadyan.


Tapi, Kalista tak bisa berbicara melainkan terpaku pada ketulusan di mata Rahadyan yang seolah memberitahu bahwa dia sangat serius.


"Well, frankly, we don't know each other. Dalam beberapa aspek. Jadi, saya—ehem, maksudnya Papa mau ngobrol sebentar sama kamu."


Tangan Kalista mendadak gemetar.


Ia mau berteriak mengatakan Rahadyan pasti sudah gila. Dia pasti sudah kehilangan beberapa baut penting di kepalanya hingga bertingkah tidak waras begitu.


Kalista juga mau bilang kalau ia tak sudi saling kenal. Bodo amat kalau mereka tidak mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Namun ....


Namun justru tangan Kalista gemetar, mulutnya terkunci.


Matanya tertuju pada piring makanan, tak tahu harus mengatakan apa lagi.


Sayangnya ada yang tidak Kalista tahu.


Itu adalah kenyataan bahwa jantung Rahadyan lebih bertalu-talu dari jantungnya sendiri.


Pria itu sedang tersenyum santai, padahal sebenarnya dia gugup setengah mati. Rasanya seperti sedang berkencan, tapi juga berbeda karena ini adalah 'kencan' istimewa dengan anak gadisnya yang ganas.


Untuk saling mengenal. Untuk memulai hubungan yang sebenarnya. Untuk bisa saling terbuka dan mencintai sebagai ayah dan anak.


Semuanya jauh lebih menakutkan daripada sekadar kencan pertama dengan wanita asing.


Itu yang Bu Direktur katakan padanya sebagai penasehat.


"Kalo dia jauhin kamu, emangnya itu ngubah fakta dia anak kamu? Anak ya anak. Selama kamu enggak jadi sampah yang ninggalin dia, ya berarti kamu masih bapaknya."


Rahadyan memerhatikan wajah anaknya itu baik-baik.


Alis Kalista sangat mirip dengan alisnya, walau juga melengkung lebih tajam. Cara dia diam lebih ketus, tapi garis hidungnya tak bisa berbohong bahwa itu meniru Rahadyan.


Anaknya.


Keberadaan yang ia tak pernah tahu kecuali saat Sukma Dewi datang bersama kabar kematian.


"Kamu suka makan apa?" tanya Rahadyan, membuka obrolan santai yang ia inginkan.

__ADS_1


Tapi pertanyaan itu dengan segera Rahadyan batalkan untuk dirinya sendiri, karena bukan itu pertanyaan penting sekarang.


Tidak. Ada hal lain yang perlu ditanyakan dulu.


"Mamamu," Rahadyan berdehem singkat dan canggung, "dia pernah ngomong sesuatu soal Papa?"


Kalista tersentak mendengar itu. Padahal dia masih berpikir apakah harus menjawab soal pertanyaan suka makan apa, tapi tiba-tiba Rahadyan mengganti pertanyaannya.


Dan itu soal Mama.


Bibir Kalista bergetar samar sebelum mulutnya terbuka menjawab, "Jarang."


Memang jarang. Itupun jika ada, omongannya akan singkat karena Kalista tidak suka membicarakannya.


"Berarti pernah?" Justru itu balasan Rahadyan.


Kalista menatap dia dengan sorot mata menilai.


"Emangnya kenapa?" Suara Kalista terdengar lebih kalem dari biasanya. Walau itu juga tidak bisa disebut lembut, sebab lebih mengarah pada dingin.


"Dia pernah bilang sana kamu kenapa dia enggak minta Papa tanggung jawab?"


Bibir Kalista berkerut cemberut. Itu tidak terdengar spesial di telinganya sama sekali.


"Bukannya Om udah tau kenapa?"


Kalista bertaruh jika Rahadyan pasti sudah sangat mengerti kenapa.


*

__ADS_1


__ADS_2