My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
60. Penyusup


__ADS_3

"Lo beneran diculik sama Om Rahadyan?" Sergio langsung memburu Kalista dengan pertanyaan bernada tak percaya tapi percaya. "Lo di mana sekarang, serius?"


"Enggak tau. Gue enggak kenal ini tempat."


"Hah?"


"Emang kenapa? Lo mau jemput gue kalo tau?"


Sergio sempat diam, lalu tiba-tiba justru bertanya, "Are you okay?"


Soalnya Sergio bisa mendengar nada yang berbeda dari Kalista biasanya. Cara Kalista bicara sekarang terkesan sangat murung, bahkan bisa dibilang sedih akan sesuatu.


Sedih untuk manusia seliar Kalista itu rasanya kurang cocok.


"Enggak, ngapain gue enggak oke?" balas Kalista mengelak, gengsi dibilang gampang sedih. "Udahlah, banyak nanya deh. Gue mau nelfon Kak Agas dulu."


"Buat apaan? Sama gue aja sini, gue kan cowok lo."


"Cowok enggak kepake. Bye."


"Kalista."


Tak peduli dengan nada mengancam Sergio, Kalista tetap mematikan layar ponsel. Tapi setelah itu barulah Kalista sadar kalau ia tak punya nomor ponsel Agas.


Kemarin-kemarin waktu Kalista minta ....


"Masukin nomor Kakak ke HP aku dong. Biar kalo ada apa-apa aku telpon Kakak."


"Maaf, Nona, saya tidak punya."


"Eh?"

__ADS_1


"Ponsel dilarang ketat saat bertugas, jadi saya tidak punya. Tapi tidak perlu terlalu khawatir, karena saya tidak akan meninggalkan Nona diluar jam bertugas."


Hmmmm, sekarang Agas tidak ada karena Kalista yang meninggalkan dia diluar jam tugasnya.


Lagipula itu memang jadi masuk akal. Agas selalu bersama Kalista dari pagi hingga malam, tapi tidak pernah sekali saja Agas bermain ponsel atau mengecek pesan di ponsel atau menerima telepon.


Ck, kalau begini Kalista tidak bisa pulang, dong?


Toktoktok.


Kalista mengangkat wajahnya dari bantal, lalu bergegas turun untuk mendekati jendela. Ditarik tirai jendela agar terbuka, cuma buat terkejut melihat kehadiran Agas.


Loh?


"Mohon maaf menyusul Nona agak lambat. Saya mengantar anak manja itu dulu kembali ke rumah." Agas menggeser jendela terbuka agar bisa masuk.


Dia sedikitpun tidak menjelaskan kenapa bisa dia ada di jendela padahal ini lantai dua.


"Tentu saja, Nona."


Di sisi lain, Rahadyan buru-buru lari ke lantai atas mendengar laporan ada penyusup memekai mobil sport manjat ke lantai kamar anaknya.


Jelas saja Rahadyan juga kaget bahwa ternyata itu Agas.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Rahadyan syok sekaligus jengkel pada kenyataan dia manjat ke lantai dua alih-alih izin dulu.


Tapi Agas malah cuma menatapnya tanpa ekspresi.


"Kontrak saya dan Anda mengharuskan saya tidak meninggalkan Nona Kalista kecuali jam kerja saya berakhir. Saya ingat tidak ada tulisan saya harus menyingkir jika Anda bersama Nona."


Rahadyan dan Kalista cengo.

__ADS_1


"Tentu saja, saya tidak akan mengganggu jika Anda dan Nona ingin bicara secara pribadi. Tapi di mana Nona, di sana saya."


Perkataan Agas itu membuat pipi Kalista memerah.


Walau dia mengucapkannya tanpa ekspresi, perkataan 'di mana dia di sana Kalista' itu terkesan dia tidak bisa meninggalkan sisinya sedikitpun.


Berbeda dari Kalista, Rahadyan melotot kesal. Tapi ekspresi datar Agas buru-buru membuatnya menghela napas, sadar bahwa dia benar.


Sabar, sabar. Manusia ini harganya satu miliar sebulan. Tentu saja dia tidak bisa hanya makan gaji buta dari atasannya.


Sudah bagus dia mengikuti bahkan tanpa disuruh.


"Yaudah, aku mau pulang aja sama Kak Agas. Ayo, Kak."


"Apa?!" Rahadyan langsung melotot lagi.


Tapi, bergegas ia mengatur ekspresi karena Kalista nanti merasa tak nyaman. "Maksudnya, ehem, enggak. Enggak usah. Kita nginep di sini."


"Aku enggak mau, Om."


Rahadyan sudah memutuskan mereka menginap jadi ia tidak mau mengalah.


"Besok kamu enggak sekolah jadi kita nginep di sini, Kalista. Saya—maksudnya, Papa mau ngabisin waktu sama kamu sebentar. Tapi kalo kamu mau jalan-jalan sama Agas dulu, yaudah enggak pa-pa."


Rahadyan harus mengalah sedikit sebelum anaknya berlari liar ke Oma dan Opanya buat mengadu yang tidak-tidak.


"Agas, kunci mobil."


Mobilnya disita dulu.


*

__ADS_1


__ADS_2