My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
124. Love Language


__ADS_3

Kayaknya mengharapkan kehidupan Kalista normal itu mustahil. Sergio pikir nanti dia bakal kembali dengan senyum cerah atau malu-malu sudah berbaikan dengan Rahadyan, tapi yang datang malah sepasang anak dan ayah yang saling cemberut, bertengkar soal hubungan 'romantis' mereka.


"Bu, saya juga ngerti kalo remaja emang lagi umur-umurnya suka pacaran, tapi enggak salah dong kalo saya nekanin ke anak saya kalo pacar tuh enggak ada guna-gunanya?" ucap Rahadyan pada penengah, alias Bu Direktur yang terpaksa jadi hakim mendadak.


"Besides, anak laki-laki itu semuanya enggak ada yang bisa dipercaya! Mau tampangnya lempeng kayak Agas atau sok imut kayak Ferguson ini! Jadi Ibu tolong jelasin ke anak saya yang lagi puber ini kalo pacaran sama saya itu seratus persen lebih berfaedah!"


Kalista menggeram macam kucing yang terusik. "Papa kira ngaku-ngaku jadi pacar aku tuh ada gunanya?! Justru orang-orang yang ngeliat aku cewek enggak bener jadi punya sasaran lain, jadi punya bahan buat bilang aku cuma peliharaan om-om!"


"Hah, bagus! Mending kamu dikira peliharaan Papa sekalian biar enggak ada yang deketin kamu! Kalo kamu peliharaan om-om kayak Papa, paling enggak satu sekolah kamu minder semua. Sisanya tinggal Papa ledakin aja pake misil."


"AAAAAAAKKHHH, PAPA TUH GILA, YAH?!"


"Terserah kamu nganggep apa!" Rahadyan melipat tangan, tak sadar dia sedang bertingkah macam remaja seumura putrinya yang secara fakta memang sedang mendebat putrinya itu. "Huh, Papa udah gatel-gatel mikirin orang-orang ngeliatin kamu! Harusnya Papa congkel aja semua mata cowok di sekolah kamu. Enggak, Agas yang harusnya jagain kamu. Enggak ada yang boleh—"


"AKU GAJADI MAAFIN PAPA!"


Brak!


Keduanya terkesiap, begitu pula Sergio dan Agas yang seketika menatap Bu Direktur.

__ADS_1


Wanita yang baru saja memukul meja sangat keras itu kini malah berdehem anggun, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Memang banyak yang bilang kadang-kadang dalam pertengkaran, hubungan keluarga justru makin erat. Biasanya antar saudara, tapi enggak mustahil antara orang tua dan anak juga," ucap wanita itu, penuh kontrol.


"Jadi," lanjutnya menatap mereka berdua, "bisa enggak usah pake bahasa kasih berantem? Ada banyak jenis love language yang lebih sehat. Pelukan, hadiah, ucapan, tindakan, waktu, silakan pilih yang sehat aja."


Rahadyan seketika batuk-batuk, berusaha mengalihkan diri dari rasa malu. Tapi setelah itu Rahadyan meraih Kalista dalam pelukannya, sesuai saran Bu Direktur.


"Papa!"


"Kamu mau liat Papa nangis?"


"Papa mau meluk kamu dari kamu baru lahir." Rahadyan mendekap anak remaja itu erat-erat, memejamkan matanya dan justru terbayang bagaimana rasanya memeluk dia saat masih sangat kecil.


Rahadyan selalu ingin menangis jika memikirkannya. Ia yang paling tidak rela Kalista telah tumbuh sebesar ini dan sudah bukan bayi tak berdaya.


Padahal katanya ada masa di mana anak perempuan merebut papanya dari sang mama saking maunya mereka dimanja.


"Kamu cuma punya Papa," bisik Rahadyan. "Cuma Papa. Itu aja, Kalista, jangan bantah. Yang lain terserah kamu tapi soal itu aja ... kamu punya Papa."

__ADS_1


Kalista yang punya seribu satu protesan seketika diam. Sebenarnya Kalista cuma sedang malu dan merasa aneh. Bagaimanapun kemarin dia dan Rahadyan seperti anjing bertemu kucing. Tiba-tiba dipeluk tanpa henti membuat Kalista sesak.


"Papa bau," gumam Kalista. "Seenggaknya mandi dulu. Aku juga jadi basah."


"Ck, biarin aja."


"Akunya enggak suka!"


Rahadyan terpaksa menjauh, tapi masih tampak tidak rela sampai dia menangkup wajah Kalista. Keningnya menekan kening Kalista, menggesekkan ujung hidung mereka seolah-olah Kalista itu bocah.


"Kamu nyusut lagi bisa enggak sih? Balik lagi sehari habis lahir. Ayok."


Kalista hanya bisa menatap dia prihatin. "Papa mestinya ketemu psikiater."


Tak peduli kata Kalista, Rahadyan menciumi seluruh wajahnya sebelum dia beranjak, dengan pesan bahwa dia akan kembali dalam lima menit.


Saat itulah Kalista sadar bahwa Bu Direktur berada di depannya dan terakhir kali mereka bertemu adalah malam Bu Direktur bersikap dingin.


*

__ADS_1


__ADS_2