My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
118. Pintu Asmara


__ADS_3

Bahkan kalau Bu Direktur mau memarahinya, Rahadyan pasrah saja. Ia keluar setelah menerima koordinat lokasi pertemuan mereka malam ini.


Rahadyan tiba lebih dulu. Hanya memakai pakaian santai karena memang sudah tengah malam. Tak jauh beda, Bu Direktur muncul dengan penampilan nyaris tanpa riasan. Wanita itu cuma memakai alis tipis, lalu sedikit pewarna bibir yang nampak manis.


"Saya udah pesen makanan barusan. Tapi kalo kamu mau, pesen lagi aja."


Bu Direktur meletakkan ponsel sekaligus kunci mobilnya di atas meja, sebagai satu-satunya hal yang dia bawa datang. "Enggak usah," jawab dia singkat.


Rahadyan tidak bicara lagi, menunggu dia mengatakannya.


"Soal Kalista," Bu Direktur langsung pada intinya, "terus terang saya mau minta maaf."


Lah? Rahadyan mengerjap. Kirain mau marahin. Kenapa malah minta maaf?


"Maaf buat?"


"Oleh-oleh Kalista ke saya. Dia nunggu depan apartemen saya berjam-jam, tapi saya malah nyuruh dia pulang. Kalista pasti sedih."


Ah, soal itu, kah? Tapi Agas sudah bilang bahwa dia yang menyuruh Bu Direktur mengatakan hal demikian, agar Kalista pulang ke pelukan Rahadyan jadi sejujurnya Rahadyan tidak menyalahkan Bu Direktur.


"Saya pikir ngasih dia pengawal Narendra nunjukin saya sayang banget sama dia." Rahadyan tersenyum kecut. "Enggak ada yang lebih baik dari mereka, kan? Tapi malah jadi gini."


Bu Direktur mendengkus. "Enggak salah soal yang terbaik. Tapi, fungsinya di anak kamu enggak efisien. Pengawal Narendra itu dibesarin cuma buat anak-anak Narendra sama mereka yang nyawanya terancam. Kalista bukan dua-duanya."


Ya tapi Rahadyan masih berpikir bahwa itu membuatnya bisa menunjukkan kasih sayang. Karena pengawal Narendra cerdas, lalu tampan, dan sangat tahu cara menyenangkan tuannya.

__ADS_1


"Terus, soal Kalista pergi, maksudnya gimana?"


Rahadyan langsung menautkan tangan di atas meja, tertunduk seperti anak remaja yang berbuat salah lalu mengaku pada gurunya.


Bersamaan dengan itu pesanan Rahadyan malah datang. Tapi Rahadyan cuma diam membiarkan semuanya diletakkan di meja, menunggu pelayan pergi sebelum ia bicara.


"Kalista enggak pernah senyum. Maksud saya, enggak keliatan bahagia." Rahadyan merasa sedih hanya karena memikirkannya. "Dia enggak pernah seneng sejak sama saya."


Walau Rahadyan tidak benar-benar tahu bagaimana Kalista dulu sebelum bertemu dengannya, tapi ia cukup yakin anak pemberani seperti Kalista tidak tumbuh dengan kesedihan yang mendalam.


Dia dulu pasti bahagia sekalipun tidak ada Rahadyan. Mungkin dia mengalami kesulitan soal uang, lalu ibunya bekerja secara tidak benar dan dia tahu itu, tapi tetap saja ... Kalista tidak menunjukkan tanda-tanda dia tumbuh depresi.


Anak itu sangat normal ... sebelum dia terlibat dengan Rahadyan.


"Lama-lama saya ngerasa saya cuma ngerebut kesempatan dia bahagia."


"Saya pengen waktu saya habis sama Kalista. Saya mau nebus waktu kosong saya di hidup Kalista belasan tahun kemarin. Tapi, mungkin malah egois yah, Bu? Soalnya Kalista justru enggak bahagia sama saya. Sama sekali."


Rahadyan masih sangat ingin menghabiskan waktunya bersama Kalista.


Setiap malam rasanya ia bermimpi bagaimana tawa anaknya bisa terdengar karena ucapan Rahadyan.


Tapi nyatanya tidak. Anak itu membenci Rahadyan. Dia menolak Rahadyan sebagai ayahnya.


"Rahadyan."

__ADS_1


Panggilan itu memaksa Rahadyan menatap Bu Direktur. Sedikitpun tak dia sangka kalau wanita yang menurutnya mirip Anjing Galak itu sekarang malah tersenyum teduh.


"Enggak ada anak yang nolak orang tua penyayang."


"Tapi—"


"Cuma ada anak yang telat sadar sepenting apa rasa sayang orang tuanya."


"...."


"Saya enggak bisa bilang Kalista enggak benci sama kamu, atau Kalista sebenernya bohong soal dia enggak mau ngeliat kamu. Kayaknya sih dia enggak bohong. Entahlah, saya enggak paham."


Bu Direktur mengulurkan tangan, menepuk-nepuk punggung tangan Rahadyan.


"Tapi saya bisa jamin, seenggaknya saya yakin seratus persen, kalau ada waktu Kalista bakal butuh sama kamu, sadar kalau dia butuh kasih sayang kamu. Jadi, berhubung kamu yang punya tanggung jawab lebih, seenggaknya kamu mesti sabar sedikit lagi, kan?"


Saat itu, Bu Direktur sedikitpun tidak menyadari bahwa ucapan tulusnya sebagai wali Kalista di sekolah, sebagai penanggung jawab anak muridnya ... justru mengetuk pintu asmara di hati Rahadyan.


Pria yang baru saja menganggap Bu Direktur hanya sebatas Direktur Sekolah anaknya mendadak panas dingin.


Pemikiran bodoh terlintas di benaknya.


Kalau ....


Kalau Bu Direktur yang jadi ibunya Kalista ... mungkinkah mereka bisa bahagia?

__ADS_1


*


__ADS_2