
Sergio merasa kalau ia meledek Kalista sekarang, dia bakal bereaksi merepotkan, jadi Sergio pura-pura abai. Daripada itu, ia berusaha membalas Kalista seperti biasanya.
"Lo suka apaan sih dari si Agus?"
Itu juga menyebalkan. Padahal kan dia sudah punya Sergio. Kenapa gitu dia malah bersikap murahan dan menyukai Agas bahkan pada pandangan pertama?
Jelas-jelas kalau menghitung jumlah warisan, Sergio lebih banyak!
"Yang jelas dia ganteng," jawab Kalista, mendadak kesal sebab kualitas Agas yang dipertanyakan.
"Gue juga ganteng."
Gigi Kalista saling menekan dan matanya memandang Sergio sinis. Yang bilang dia tidak ganteng siapa, hah?
Dia juga ganteng tapi Kalista tidak peduli pada kegantengan dia. Itu saja.
"Kak Agas perhatian."
Sergio malah melotot. "Gue juga bisa perhatian."
Yang mau perhatian dia siapa coba?!
"Lagian si Agus perhatian sama lo ya karena dia kerjanya emang gitu, bukan karena dia suka sama lo. Masa gitu aja lo enggak tau!"
"Gue juga tau, brengsek!" Kalista balas melotot kesal. Walau kemudian ia bergegas menarik napas.
__ADS_1
Hah, tenang. Menghadapi orang bodoh memang butuh kesabaran.
Kalista dengan pongah mengibaskan rambutnya. "Mau Kak Agas perhatiannya karena itu tugas atau karena apa kek, gue enggak peduli. Yang namanya pesona good-looking itu nyata jadi mau mulai dari musuh atau pengawal, cinta bisa bersemi dong."
Tatapan Sergio pada Kalista semakin terlihat kesal.
Karena capek meladeninya, Sergio membuang muka. Memilih tidak banyak bicara daripada nanti mereka saling berteriak di bis sempit bau ini.
Lagian salah gue juga sih, gumam Sergio pada dirinya. Di garasi ada mobil gue sendiri, bukannya naik itu malah naik bis. Hadeh.
"Kak Agas ...."
Suara Kalista terdengar waktu Sergio pikir dia juga akan diam. Memaksa Sergio menoleh, terkejut menemukan ekspresi aneh Kalista.
Bagaimana yah harus mengatakannya? Dia tersenyum tapi matanya terlihat sedih.
".... Kak Agas bikin gue tenang."
"Hah?"
"Nyokap lo masih ada?"
Sergio mengerjap. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal lain dan bukannya menjelaskan alasan dia memuji si Agus tiba-tiba?
"Emang kenapa?"
__ADS_1
"Jawab aja."
"Masih." Perasaan dia pernah mendengar Sergio bicara dengan Mami di telepon.
"Kalo gitu lo enggak bakal ngerti rasanya jadi gue." Kalista menyandarkan kepalanya ke belakang, menoleh ke luar djendela dengan sorot mata kesepian. "Lo belum ngerasain the real kesepian di tempat banyak orang."
Sergio mendadak menelan ludah.
Aneh rasanya melihat Kalista agak bersedih, dan itu sedih sungguhan alias bukan akting, tapi lebih aneh lagi saat dia bersedih, rasanya dia tak mungkin bisa pulih lagi.
"Waktu Mama enggak ada, gue ngerasa dunia mendadak jadi sunyi. Lo tau kayak, gue denger orang ngomong, gue liat orang lalu-lalang, tapi satu sisi kayak ... enggak ada apa-apa. Kayak gue cuma sendirian di hutan, di gurun pasir, di tempat gue enggak bisa ngeliat kecuali ke langit sama ke tanah."
"...."
"Gue enggak ngerasa punya keluarga waktu dibawa sama Papa. Honestly, gue enggak ngerasa punya keluarga mau sama Oma, Opa, Kak Cassie, Om Raynar, atau elo."
Kalista mungkin sedang mabuk alias tidak sadar. Karena untuk kesekian kali dia tersenyum aneh, memperlihatkan kelemahannya.
"Tapi gue enggak tau kenapa sama Kak Agas jadi beda. Enggak bener-bener nyembuhin sakit karena Mama, tapi gue enggak ngerasa terlalu sedih lagi."
"...."
"Makanya gue suka."
Saat itu, Kalista dan Sergio jelas tidak tahu kalau Agas menyadap ponsel Kalista dan Sergio sebagai bentuk pengawasannya terhadap sang Nona.
__ADS_1
Semua yang Kalista ucapkan masuk di telinga Agas ... dan juga Rahadyan.
*