
Rahadyan sampai berdiri dari kursinya saking terkejut mendengar suara tangisan Kalista. Tapi sesaat kemudian, Rahadyan menemukan kesadaran akan situasi di sana.
"Maaf." Rahadyan kembali duduk dan meremas rambutnya frustasi. "Maafin Papa enggak di sana."
Suara tangisan Kalista terdengar sangat jelas dan begitu dalam.
Sampai saat ini Rahadyan masih menyesal kenapa di malam-malam awal ia mendengar suara tangis anaknya, Rahadyan tak bergerak memeluk dia.
Walau kata Raynar dia tak akan mau dipeluk oleh Rahadyan, harusnya masih lebih baik daripada dibiarkan sendirian.
"Kalista—"
"Om harusnya di sana." Kini tangisan Kalista diselingi oleh racauan. "Om harusnya dari awal di sana biar Mama enggak jadi pelacurr."
Sesuatu rasanya merajam dada Rahadyan.
Terus terang, Sukma Dewi menjadi gundik itu bukan salah Rahadyan. Dia tidak bilang, paling tidak mencoba, agar Rahadyan tahu soal anaknya. Dan di antara semua pekerjaan halal lain, dia memilih menjadi pelacurr yang murahan.
Tapi, meskipun itu salah Sukma Dewi dan pilihannya, tetap saja semua pasti tidak akan sama kalau Rahadyan lebih cepat datang.
Makanya Rahadyan paham apa yang Kalista tangiskan.
__ADS_1
"Orang-orang ngeliat aku kayak semuanya salah aku." Kalista terus terisak. "Semua orang pada ngomong harusnya begini harusnya begitu. Bacot!" teriak dia tiba-tiba.
"Semua orang cuma tau ngomong," geram anak itu selanjutnya. "Semua orang cuma tau nyalahin. Emangnya aku pernah milih jadi anak Mama? Emangnya aku pernah milih jadi anak gundik?! Enggak pernah! Enggak pernah aku milih!"
"Kalista."
"Hiks." Suara anak itu terdengar semakin menakutkan bagi Rahadyan yang tidak bisa ada di sana memeluknya. "Emang apa pentingnya tau aku sakit hati? Kalo sakit hati penting, ngapain mereka ngomongin aku begini begitu padahal tau bikin sakit hati!"
"Bukan Papa." Rahadyan menjawab lemah. "Kan bukan Papa yang bilang. Papa mau tau karena—"
"Emang Om bisa apa?!"
Mungkin sebenarnya tidak ada.
Perjuangan Rahadyan sejauh ini, usahanya menaklukkan Kalista dan menarik minatnya, Rahadyan merasa itu semua tidak berarti apa-apa. Cuma sesuatu yang Rahadyan lakukan buat menghibur dirinya sendiri dari rasa bersalah.
Tapi ... meski begitu ....
"I'll die for you, Baby Girl." Rahadyan tersenyum getir. "Papa will always giving you my absolute best. Anything you need, Baby, anything."
"Siapa juga yang—"
__ADS_1
"Kamu enggak butuh jantung Papa karena kamu enggak sakit apa-apa." Rahadyan mengepal tangannya kuat-kuat. "Tapi, Kalista, bukan berarti enggak ada yang bakal Papa lakuin buat kamu."
"...."
"Papa nanya kamu sedih, kenapa? Karena kalo kamu sedih, Papa bakal lakuin segala cara biar sedih kamu ilang. Entah itu pergi belanja kapal pesiar, entah itu bayarin kamu orang kayak Agas berulang kali, entah itu ngalah kamu enggak liat Papa, atau apa pun, Papa bakal kasih."
Jemari Rahadyan bergerak di udara kosong saat ia membayangkan tangannya meraih Kalista sekarang juga, memeluk anaknya erat-erat dan penuh cinta.
"Enggak peduli kamu di mana, Nak, enggak peduli gimana kamu ke Papa, enggak peduli apa pun, ada Papa buat kamu. Papamu yang enggak becus sampe ninggalin kamu enam belas tahun. Papamu yang brengsek karena enggak mikirin perasaan kamu yang kosong dari kecil. Papamu yang kamu benci banget ini. Enggak peduli gimana, bakal selalu ada buat kamu."
"Papa sayang kamu. Lebih dari Papa sayang sama apa pun. Kamu yang nomor satu. Buat Papa kamu selalu nomor satu."
Rahadyan memejam, meresapi pikirannya yang tengah memeluk Kalista di sana.
"Makanya percaya, satu-satunya yang enggak bakal nyakitin kamu kayak mereka nyakitin kamu, itu cuma Papa."
Paling tidak, Rahadyan tidak akan pernah menyebut dia keturunan hina cuma karena ibunya dia pelacur yang mati karena penyakit kelamin.
Bagi Rahadyan, Kalista adalah Kalista. Anaknya.
*
__ADS_1