
"Kamu yang nyuruh orang numpahin air ke Kalista, kan?" Sergio bahkan tidak perlu berpikir untuk tahu hal-hal seperti itu.
Soalnya tadi begitu Sergio tiba, Astrid langsung meneleponnya seolah dia sudah mengawasi Sergio dari jauh.
Dan perempuan ini memang seperti ini. Dia selalu berkata dia mengambil keputusan tegas dibalik kekerasan yang dia lakukan.
"Aku enggak ngerti kamu ngomong apa," jawab Astrid tapi dengan wajah 'emang kenapa kalo aku yang nyuruh'.
Sergio menghela napas kesal. Rasanya ingin marah tapi ia juga tak tahu bagaimana melakukannya. Terutama pada perempuan ini.
"Aku deket sama Kalista karena emang aku disuruh jadi temen dia, makanya aku rasa enggak ada alasan buat kamu sampe gangguin Kalista."
"Semua hal bisa berawal dari temen." Astrid membalas anggun saja. "Lagian, dia kan cuma anak haram. Anak perempuan murahan."
"Ya terus?"
Astrid mengerutkan kening. "Maksud kamu 'ya terus'?"
__ADS_1
"Emang kenapa kalo mamanya Kalista pelacurr?" Sergio tak tahu kenapa mendadak ia sangat kesal begini. Padahal biasanya Sergio jarang melawan Astrid.
Bukan takut pada dia, tapi Sergio malas menghadapi kemarahan orang tuanya jika Astrid sudah mengadu, berkata kalau Sergio berucap kasar.
"Pertanyaan kamu lucu juga." Astrid masih terdengar tenang tapi diam-diam juga kesal. "Emang kenapa kamu bilang? Anak selalu ngikutin orang tuanya. Kalo orang tuanya dia pelacurr ya berarti dia juga sama."
"Papanya dia Om Rahadyan. Kamu mau bilang Om Rahadyan itu gigolo?"
"Yang besarin dia dari kecil itu mamanya. Truth be told, Om Rahadyan baru ngurusin dia beberapa hari. Mustahil dia bisa kayak Om Rahadyan."
"Tapi sekarang dia tinggal sama Om Rahadyan." Sergio membalas telak. "Mamanya udah mati, jadi kalaupun dia sama kayak mamanya dulu, sekarang udah enggak. Truth be told juga, ngapain dia jadi pelacur kalo justru dia yang bisa beli harga diri cowok mana pun yang dia mau?"
Lalu, dengan tegas dia berkata, "You like her."
Itu bukan pertanyaan melainkan kejelasan. Dia melihatnya pada diri Sergio, keberadaan perasaan untuk sang anak gundik.
"Kamu suka sama anak pelacurr. Even dia anaknya Om Rahadyan, kamu kira keluarga kamu bakal suka sama dia? Mama kamu aja terpaksa ngebolehin kamu karena omongan Eyang."
__ADS_1
"Girl, I'm just seventeen. I'm a young. Kamu kira sekarang aku peduli soal restu-restuan sama siapa? I don't fucking care about that bullshit. I'm just enjoying my life. Mau Mami suka, mau Papi enggak setuju, in fact aku enggak lagi ngelamar siapa-siapa so it's up to me."
Sergio berbalik pergi meninggalkan Astrid, tidak peduli nanti dia mengadu yang tidak-tidak pada orang tuanya.
Sebagai seorang anak muda, Sergio juga punya prinsip 'suka-suka gue'. Walau selama ini ia dicap baik-baik karena jarang membantah, ya sekali dua kali nakal memangnya tidak boleh?
Apalagi itu soal pendapat mengenai Kalista. Menurut Sergio, Kalista itu baik.
Dia tidak seburuk yang orang lain pikir ketika cap anak pelacurnya dipikirkan. Bahkan, dia malah terlihat normal dan ya seperti anak perempuan egois pada umumnya
Sebenernya ....
Sergio menatap Kalista yang tengah tidur di jok belakang mobil begitu jam pulang tiba.
Sebenernya malah dia lebih seru dari yang lain.
Sergio malah lebih suka bergaul dengan Kalista walaupun dia rada tidak waras.
__ADS_1
*