
Kepala Rahadyan mendadak pening begitu mendengar seluruh penjelasan dari Bu Direktur.
Jadi, kata dia, sekolah ini memang dibentuk demikian. Ibaratnya sebuah negara, siswa di sini adalah rakyat biasa namun OSIS adalah pemerintahan dan Komdis adalah militer.
Sementara guru dan seluruh staf sekolah termasuk Direktur cuma sebagai pengawas yang baru akan turun tangan jika masalah sangat besar terjadi.
"Kalista udah tau di sana ada air." Orang dari Komdis sekolah menunjukkan rekaman CCTV pada Rahadyan beberapa saat sebelum kejadian.
Itu adalah waktu di mana Agas menahan Kalista, lalu seperti memberitahunya sesuatu dan kemudian Kalista berjalan sampai ditumpahkan air.
Sulit dipercaya ada orang sengaja pergi ke tempat jebakan menunggu, tapi Rahadyan mengerang karena ini adalah Kalista.
Sekali lagi, ini adalah Kalista.
"Kamu kira kamu bayar ratusan juta ke sekolah ini cuma buat anak kamu bisa belajar enak?"
Bu Direktur menjadi ketus setelah melihat ekspresi bodoh Rahadyan.
"Kami di sini ngajarin anak-anak buat jadi manusia, bukan robot yang taunya cuma soal buku. Kalau cuma soal kasus kecil begini, mereka udah lebih bijak daripada kamu."
Rahadyan berdehem. Ya siapa gitu yang tidak panik melihat anaknya dibully?
__ADS_1
"Tapi tetep aja," ucap Rahadyan kesal, "harusnya sekolah ngelindungin Kalista."
Direktur menggelar napas seolah-olah dia sekarang sudah sangat malas bersikap formal.
"Ada anak-anak yang mesti dilindungin karena mentalnya lemah, ada juga anak-anak yang mesti dibiarin karena dia mau jadi kuat. Saya baru ketemu anak kamu lewat CCTV tapi kayaknya saya lebih tau. Anak kamu enggak butuh pahlawan."
Makjleb.
"Intinya, Pak Rahadyan, cukup awasin anak kamu lewat video. Sekolah bertanggung jawab penuh sama semua masalah anak-anak selama mereka jadi siswa di sini. Jangan suka ngambil kerjaan orang, tolong."
Rahadyan mau tak mau menggerutu karena ucapan itu.
Judes amat sih, kesal Rahadyan dalam benaknya.
Sekolah ini bahkan tidak menerapkan sistem ranking siswa.
"Saya enggak bakal ganggu lagi kalo gitu." Rahadyan mundur teratur daripada Bu Direktur Judes ini makin menatapnya seperti sampah. "Tapi yang bully anak saya, saya mau tau siapa. Dia punya urusan sama saya."
Bahkan tanpa berkedip, siswa dari Komite Kedisiplinan langsung menyerahkan lembaran informasi siswa.
Nama perempuan di sana membuat Rahadyan mengerutkan kening.
__ADS_1
"Astrid?"
Bocah ini, sekarang Rahadyan ingat. Kalau tidak salah dia dan keluarganya Sergio dekat sampai terdengar kabar kalau mereka berdua, Sergio dan Astrid itu bertunangan.
Walau baru tunangan lewat mulut orang tua mereka, tapi biasanya di kalangan elitis, hal yang sudah diucapkan terutama oleh para tetua berarti bakal terjadi di masa depan.
"Kayaknya dia gangguin anak kamu karena cemburu."
Bu Direktur menatap gambar Astrid dengan mata 'ngapain aku ngurusin urusan beginian?'.
"Bullying karena urusan percintaan udah biasa di kalangan remaja dan kasusnya juga udah banyak diurus sama sekolah."
Mata Rahadyan dingin memandang profil Astrid. "Bocah enggak ada otak," umpat Rahadyan tanpa sadar.
"Dikira Sergio ada harganya sampe dia cemburu nyemburin air ke Kalista? Bapaknya mau kubikin stroke baru tau rasa!"
Semua orang di ruangan itu, termasuk murid yang diberi wewenang sebagai OSIS dan Komdis cuma menatap Rahadyan seolah yakin dia sinting.
Tapi Rahadyan tidak peduli.
"Saya mau dia dikeluarin! Drop out!"
__ADS_1
Bu Direktur mengerang kesal.
*