My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
114. Kangen Mama


__ADS_3

Pagi harinya, Kalista bangun kesiangan. Tapi tidak ada yang membangunkannya sama sekali termasuk Agas. Kalista juga sedang malas ke sekolah, jadi satu-satunya yang Kalista lakukan selepas bangun adalah pergi joging.


Kemarin-kemarin Kalista semangat ke sekolah karena bisa bertemu Bu Direktur, tapi setelah mendapat teguran, Kalista tahu diri bahwa Bu Direktur malah risi padanya.


Jadi, Kalista putuskan buat tidak menjadi teman dari siapa-siapa mulai sekarang. Sergio juga sedang sibuk sekolah dan tidak punya waktu memedulikan Kalista, jadi sebenarnya ini adalah masa kebebasan.


"Aaaah!" Kalista merentangkan tangannya lebar-lebar lepas berlari sangat lama, penuh keringat juga lelah. "Waktunya makan pizza!"


Agas di belakang langsung menimpali, "Nona sudah berolahraga lalu mau menimbun lemak lagi?"


"Hmmmm, aku enggak olahraga buat ngusir lemak, tuh. Cuma lagi bosen aja." Kalista terkekeh. "Let's go! Beli pizza dua boks!"


"Nona memang sangat eksentrik."


Kalista langsung berlari menyebrangi zebra cross begitu lampu hijau penyebrangan menyala. Gadis itu mendorong pintu kedai pizza terbuka, langsung berdiri mengantri untuk memesan pizza yang dia inginkan.


Agas hanya mengikuti dari belakang. Mengawasi Kalista sambil terus berpikir bahwa nona sementaranya ini sungguh menyedihkan.


Bukan dalam arti mengejek, tentu saja, tapi Kalista sekarang sedang berusaha kabur dari kenyataan.


Agas tidak menyadari kalau Kalista akan sangat keras kepala menolak Rahadyan. Padahal jelas-jelas dia berharap Rahadyan bisa mengobati lukanya, tapi dia terus berlari ke tempat lain sambil memamerkan bahwa dia bisa mengatasi semuanya sendiri.


Sejujurnya aku tidak terlalu bisa memahami perasaan anak yang tumbuh tanpa ayah, pikir Agas.

__ADS_1


Agas tumbuh tanpa kedua orang tua ataupun keluarga. Ia tumbuh di peternakan berisi banyak anak-anak tanpa keluarga, sebatang kara, dididik untuk fokus menjadi bawahan Narendra.


Jadi Agas tidak paham sebab ia jarang punya waktu berpikir mengenai 'keluarga'. Makanya juga Agas merasa cukup sulit dengan Kalista sekarang. Dia sudah tahu Rahadyan bisa membuatnya nyaman, tapi dia malah tidak mau mengaku.


Nona. Agas menggumamkan tuannya dalam hati, berharap bisa memikirkan sesuatu yang tepat di situasi ini.


Nona-nya, Lissa Makaria, pasti bisa mengatasi hal kecil ini. Beliau gadis yang dingin dan cuma suka bersenang-senang, tapi beliau juga sangat memahami bagaimana manusia itu sendiri.


"Kak Agas ngelamunin apa, sih?" Suara Kalista memecahkan lamunannya.


Agas tersentak. "Maaf, Nona."


"Kak Agas mau pizza yang mana? Toppingnya apa aja?"


Kalista mengangkat alis, tapi memilih tidak bicara lagi pada Agas. Lepas mengatakan semua pesanannya dan membayar harga semua pizza pesanan itu, Kalista mengajak Agas duduk di kursi yang tersedia.


Nampak jelas kalau Kalista sedang punya pikiran berat. Mungkin diam-diam dia memikirkan bagaimana nasibnya kedepan.


Dia tidak mau menerima Rahadyan, sementara masa tugas Agas akan segera berakhir, lalu di ulang tahunnya beberapa hari kedepan Kalista akan secara resmi bertemu semua kerabat juga rekan keluarga Rahadyan, sementara dia sebagai yang ulang tahun tidak punya satupun tamu pribadi.


Tidak ada teman, tidak ada kerabat, tidak ada siapa pun yang benar-benar datang untuk Kalista.


Awalnya Bu Direktur, Kalista pikir, tapi ternyata tidak juga.

__ADS_1


Karena tahu itu, Agas membahasnya. "Ulang tahun Nona sebentar lagi. Nona sudah meminta hadiah dari Pak Rahadyan?"


"Enggak tertarik. Ulang tahun enggak penting."


"Benarkah? Nona terlihat menantikannya beberapa hari lalu."


Kalista langsung menatap Agas gamang. "Kak Agas kenapa jahat banget, sih? Padahal udah tau."


"Saya hanya bertanya. Maaf sudah menyinggung Nona."


"Enggak." Kalista mengibaskan tangan. "Enggak masalah. Lagian dari awal Kak Agas udah bilang perasaan aku cuma mainan buat Kak Agas."


Sepertinya Agas tidak bilang begitu, tapi Agas diam karena tidak masalah dia menganggapnya begitu.


"Aku kangen Mama," ucap Kalista tiba-tiba. Menatap kosong langit-langit sambil menarik napas panjang berulang kali.


Aroma pizza yang memenuhi udara justru membuat Kalista ingat pada Sukma Dewi. Ibunya sangat suka pizza dari dulu. Walau pizza harganya mahal, Sukma Dewi kadang membeli dua bahkan tiga kotak pizza untuk mereka berdua makan.


"Aku dari awal mikir enggak bakal ada yang sama kayak Mama lagi di dunia. Enggak mungkin ada." Kalista tersenyum ketika air matanya justru jatuh. "Ternyata beneran enggak ada, yah?"


Kalista sedang merasa dunia ini, seluruh isinya, tidak menganggap Kalista penting bahkan seujung kuku.


*

__ADS_1


__ADS_2