My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
120. Seseorang Yang Menginginkan


__ADS_3

Kalista semalam tidur lebih cepat dari biasanya. Begitu dapat tempat tinggal baru bersama Agas, Kalista langsung berbaring di kasur dan tahu-tahu malah sudah tertidur.


Tapi bukannya bangun lebih pagi, Kalista malah bangun kesiangan, menjelang pukul sepuluh pagi. Ketika Kalista bangun, yang menyambutnya adalah cahaya terang dari jendela kecil dan aroma masakan Agas dari dapur yang juga kecil.


"Kakak bisa masak?" tanya Kalista penasaran sekalipun suaranya menunjukkan dia belum cukup sadar.


"Selamat pagi, Nona."


Kalista menggosok matanya sambil mengintip masakam Agas. "Kakak tuh suami idaman paket komplit."


"Saya hanya akan menganggap itu sebagai pujian."


"Emang pujian."


Kalista datang ke belakang Agas, melingkarkan tangan ke tubuh pria itu.


Sekilas, ia merasa Agas menegang. Tapi Kalista tetap memeluknya dan menghidu aroma wangi dari tubuh Agas itu.


"Maaf," bisik Kalista muram. "Kak Agas jadi dimarahin Papa gara-gara aku."


"Itu bukan hal yang perlu Nona pikirkan."


"Aku enggak mau Kak Agas benci sama aku gara-gara Papa."


"Saya tidak membenci Nona untuk alasan dangkal seperti itu."

__ADS_1


Kalista mengeratkan pelukannya. Sejujurnya, ia berharap dari pelukan itu Agas mengetahui besar rasa cinta Kalista padanya. Seberapa besar keinginan Kalista agar mereka bersama.


Jika Agas menerimanya, Kalista yakin ia tak membutuhkan siapa pun lagi. Mereka bisa hidup bersama dan Kalista benar-benar bisa meninggalkan sisi Rahadyan yang selalu menekankan soal fakta dia ayah kandung Kalista.


"Nona, sarapannya sudah selesai."


Meski tahu itu isyarat agar menjauh sebentar, Kalista tetap memeluknya. Wajah Kalista terkubur di punggung Arkas, memejamkan mata rapat-rapat.


Samar, terdengar suara Agas menghela napas. "Nona membuat saya kesulitan."


"Aku enggak pa-pa." Kalista terus mengeratkan pelukannya. "Aku enggak masalah sama Kak Agas."


Jelas dia pasti tahu maksud Kalista. Mungkin itu benar-benar terdengar mesum tapi Kalista ingin Agas memeluknya. Bukan hanya sekadar pelukan 'jangan bersedih, Nona' tapi pelukan yang jauh lebih jujur.


"Kak Agas—"


"Saya tidak bisa."


Kalista tertegun.


"Saya hanya melayani Nona Lissa untuk hal itu, Nona. Maafkan saya." Agas berbalik sekaligus mendorong lembut agar pelukan Kalista terlepas.


Saat Agas tersenyum tulus padanya, Kalista cuma menatap kosong mata Agas itu. Tidak sedikitpun terlihat dia menyayangkan kesempatan.


Tidak sedikitpun dia terlihat 'ingin' pada Kalista.

__ADS_1


"Nona mengatakan hal ini karena suasana hati Nona sedang buruk," ucapnya lembut. "Karena itu tenangkan diri Nona dan sarapan bersama saya."


Kalista justru tersenyum getir padanya. "Enggak ada satupun orang yang beneran mau sama aku, kan?"


Entah Mama yang pergi, Rahadyan yang hanya terpaksa mengurusnya, lalu keluarga Rahadyan, semua orang di sekitar Kalista dan juga Agas. Tidak ada satupun ada yang menginginkan Kalista.


"Kak Agas ... dari awal enggak pernah berubah pikiran."


Agas hanya menatapnya tenang tanpa sedikitpun membantah. Dia tak pernah mengubah pikirannya bahwa Kalista itu cuma anak kecil yang terpaksa harus diurus sampai kontrak berakhir.


Tak peduli berapa kali dia melihat Kalista tersenyum, tak peduli berapa kali dia juga tersenyum pada Kalista, Agas tidak pernah berubah pikiran.


"Nona yang menyedihkan." Agas mengusap pipi Kalista tiba-tiba. Berbisik di wajahnya dengan suara lirih. "Saya memang tidak menginginkan Nona, tapi mungkin seseorang menginginkan Nona."


Kalista tersenyum getir. "Siapa? Om Enggak Guna?"


Seolah semesta sudah merencanakan—dan dibantu oleh kontribusi Agas diam-diam—pintu apartemen Kalista tiba-tiba digedor.


Disusul suara yang akrab namun rasanya sudah sangat lama.


"Kalista!"


Itu Sergio.


*

__ADS_1


__ADS_2