
Seluruh pesta telah berakhir dan tamu-tamu meninggalkan kediaman mereka. Kalista sedang duduk di karpetnya, membiarkan rambutnya diluruskan oleh Latifah bekas styling khusus pesta tadi.
Sementara itu semua orang berkumpul di kamarnya, mengurus kado-kado Kalista yang justru sibuk merengek.
"Papa, aku mau nikah," kata gadis itu blingsatan. "Kak Julio tuh enggak boleh disia-siain, Papa!"
"KAMU JUGA NGOMONG GITU KE SERGIO SAMA AGAS DULU!" jerit Rahadyan depresi. "Habis kamu nikah, apa hah?! Kamu ketemu cowok baru mau cerai?!"
Cassandra tertawa terbahak-bahak. "Kalista tuh jujur banget yah. Sumpah deh, kamu enggak malu?"
"Masalahnya Kak Julio ganteng banget, Kakak!" Kalista menoleh pada Latifah. "Kamu juga liat kan, Latifah? Kak Julio ganteng banget, kan?! Ngeliat dia tuh kayak ngeliat jodoh!"
Latifah meringis. "Non Kalista jelalatan banget."
"Nah, bener!" teriak Sergio yang sejak tadi menahan emosi. "EMANG TUH DIA JELALATAN!"
"Udah, udah." Opa Sutomo menengahi, capek mendengar mereka terus membicarakan kekonyolan. "Kita mau buka kado bukan mau demo."
"Tapi Kak Julio tuh gemesin banget, Opa!!!!!" Kalista berguling-guling di lantai sampai-sampai Sergio mau menerjangnya buat mencekik dia. "Aku maunya temenan sama Kak Julio aja! Gantiin Sergio sama dia!"
Keluarga Rahadyan menatap anak gadis yang berguling-guling minta dijodohkan itu. Sekali lagi, tidak ada di keluarga ini yang berharap Kalista waras jadi mereka cuma menganggapnya candaan.
Tapi Rahadyan tetap sebal. Pria itu beranjak dari sana, mendumel sambil mengutuk Julio yang sedikitpun tidak berbuat salah selain lahir dengan wajah tampan.
Laura yang tadinya ikut menertawakan Kalista pun menyusul beranjak. Diam-diam berbisik pada Cassandra bahwa dia ingin bicara dengan Rahadyan.
Laura mengikuti langkah Rahadyan turun ke bawah, di mana masih tersisa bekas-bekas pesta tadi. Rahadyan membuka kulkas di dapur, mengambil air dingin untuk ditenggak seperti kehausan tujuh hari.
Dia sangat kesal karena anaknya naksir orang lain, lagi.
__ADS_1
"Hei." Laura menyentuh lengan Rahadyan yang seketika tersentak, tak sadar dia diikuti.
"Laura?" Rahadyan memasang ekspresi seolah-olah dia baru sadar bahwa Laura hidup di dunia ini.
"You know what, you're such a ****." [Lo tau, Rahadyan, lo badjingan.]
Rahadyan meringis. "Laura, gue enggak maksud—"
Tidak bermaksud lupa bahwa dia membawa seorang wanita ke rumahnya, mengajak dia menikah tapi meninggalkan wanita itu sendirian, lupa padanya, sampai-sampai dia bahkan tidak menyapa Laura satu katapun di pesta.
Laura tertawa melihat Rahadyan panik. "It's okay. I'm okay."
"No, gue salah. Tampar gue dua—enggak, lima kali. Please."
"Kalo lo mau minta maaf well... just give me money."
Rahadyan cengo.
".... Okay." Rahadyan meletakkan air sisanya kembali ke kulkas, menutupnya untuk bisa fokus pada Laura. "What is that?"
"Lo suka orang lain, kan?"
Mulut Rahadyan terbuka tapi tak sanggup bersuara.
"Bu Direktur Winnie, right?"
Mulut itu terkatup. Rahadyan mengangkat tangan, tanda dia menyerah. "Oke, lo boleh mukulin gue sepuas hati tapi sebelum itu gue cuma mau bilang kalau gue enggak kepikiran bakal suka sama Bu Direktur waktu gue ke Paris. It's just ... happen... I don't know ... but ... yes, I'm such a **** so kill me or do whatever you want."
Laura tertawa alih-alih membunuhnya seperti kata Rahadyan.
__ADS_1
"Gue maafin lo kalo lo ngasih gue uang. Gue enggak butuh mukul lo."
Rahadyan menurunkan tangannya. "Serius? Lo enggak marah?"
"Come on, Rahadyan. We do not like each other. Lo bilang lo butuh istri karena anak lo nyuruh lo nikah. Tapi kayaknya anak lo enggak sengotot itu nyuruh lo nikah dan ternyata lo suka sama orang lain so you don't need me here."
".... Sorry." Rahadyan menundukkan kepalanya sebagai bentuk penyesalan. "So sorry, Babe. Serius, kalo lo beneran mau mukul gue pun gue enggak masalah. Gue minta maaf."
"It's okay. Just give me like 300 million."
Rahadyan tercengang, tapi kemudian tertawa, menjabat tangan Laura. "Very pleasure to do business with you, Mam."
Laura mengangguk. "So do I, Sir."
"Okay, gue serius. Ini bisa selesai kalau gue ngasih tiga ratus juta, tapi perasaan lo, are okay, Laura?"
Akhirnya Laura menggeleng. "No. I'm not okay."
Rahadyan setidaknya berterima kasih dia jujur. Karena tentu saja dia tidak baik-baik saja sekakipin dia tidak menyukai Rahadyan. Dia datang jauh-jauh dari Paris namun untuk diabaikan dan dikembalikan lagi.
Setidaknya, harga diri dia pasti terusik.
"Tapi gue enggak mau sedih apalagi nuntut lo ngerti perasaan gue. Itu enggak ada untungnya."
Rahadyan mengangguk. "Lo tau kalau ini salah gue jadi bukan karena lo kurang atau karena lo enggak menarik. Ini salah gue."
"Yap. Ini salah lo." Laura ikut mengangguk dan tersenyum kecil. "So, lo mau nembak Bu Direktur?"
Rahadyan benci mengakuinya tapi ia tahu ia akan ditolak oleh Bu Direktur jadi ... tidak.
__ADS_1
*