
Rahadyan menghabiskan waktunya bekerja untuk mengalihkan kerinduan dari anaknya. Siang malam, kalau bisa ada saja pekerjaan yang ia pegang agar tak berlarut-larut memikirkan Kalista.
Masih sangat lama waktu sampai ia bisa pulang, jadi Rahadyan berusaha menahan sesak di dadanya dengan ini.
Walau pada akhirnya, ada saja saat Rahadyan mau menangis karena rindu.
"Kalista." Rahadyan meracau jenuh setelah memaksakan otaknya terus bekerja. "Papa kangen kamu, Sayang."
Andai saja dia merindukan Rahadyan juga.
Andai saja.
Rahadyan nyaris saja menyuruh orang buat mengambilkan alkohol kalau dirinya tidak ingat Mama bakal membakarnya hidup-hidup jika ketahuan minum.
Alhasil Rahadyan beranjak, keluar sejenak buat makan.
Juga ... kencan.
"Lo tau enggak sih apa namanya orang yang tiba-tiba ngirim teks 'lo mau nikah enggak' ke orang padahal udah lama enggak ketemu? Gila? Sinting? Atau gendeng?"
Rahadyan menyesap minuman non-alkoholnya tanpa merespons patner kencannya itu.
Mata Rahadyan masih kosong, karena pikirannya masih dipenuhi Kalista.
"Okay." Perempuan itu menghela napas. "What's the issues? Talk to me." [Ada masalah apa? Buruan ngomong.]
__ADS_1
"Anak gue nyuruh nikah."
"Anak—what?"
"Anak."
"Kapan lo kawin?!"
"Enam belas tahun yang lalu." Rahadyan menjawab datar, berbeda dari lawannya yang tercengang. "Enggak, tujuh belas kali ya? Dihitung sama hamilnya."
"...." Perempuan itu sampai tak dapat berkata-kata. Cuma menatap Rahadyan seolah dia yakin orang di depannya mulai agak gila.
"Gue nidurin cewek waktu gue SMP—enggak, sekitar awal SMA kali, yah. Intinya itu. Itu cewek mati, kena penyakit kelamin. Jadi sekarang anaknya sama gue."
"I don't buy it." [Gue enggak ngerti.]
Perempuan itu mengamati Rahadyan semakin serius.
Dalam hati dia bergumam, seriusan ini benar? Rahadyan yang dilangkahi menikah oleh adiknya itu punya anak?
"Terus, maksudnya lo bilang mau nikah ...."
"Gue nawarin." Rahadyan akhirnya menatap mata perempuan itu dan sedikit terlihat lebih manusiawi. "Anak gue nyuruh gue nikah, jadi gue lagi nyari calon."
"Terus kenapa gue?"
__ADS_1
"Lo tau gue enggak nganggep serius hubungan sama sekali."
Rahadyan menghela napas. Meniup bibir gelas minumannya dan kembali menjadi kosong.
"Apalagi habis ada Kalista. Gue jadi trauma sendiri. Anak gue aja enggak keurus, apalagi bini."
"...."
"Anggep aja ini kayak kontrak gitu—ya enggak gitu juga sih. Cuma kayak, lo nikah sama gue, kita jadi suami istri, saling nguntungin satu sama lain, tapi juga enggak saling ikut campur. Gue bebasin lo ngapain, lo enggak nuntut gue cinta sama lo."
"...."
"Gimana, Laura?"
Nama perempuan itu adalah Laura. Teman dekat Rahadyan waktu masih kuliah dulu yang sekarang bekerja sebagai dosen di universitas besar di Paris.
Rahadyan tidak punya perasaan khusus padanya, cuma ia bertanya karena Laura adalah perempuan bebas. Dia bukan tipe perempuan yang menjadikan cinta atau pernikahan sebagai tujuan hidup. Malah, dia pernah bilang kalau dia cuma bakal mengadopsi anak kalau nanti dia bisa tidak menikah.
"Of course gue enggak sekadar ngajak nikah. Itu nguntungin lo juga buat relasi."
Laura tidak lahir di keluarga yang terlalu berada, jadi kebutuhan terbesarnya adalah relasi bisnis. Rahadyan bisa memberikan itu asal dia setuju dengan Rahadyan.
"Lo bikin gue pusing mendadak, dah." Laura memijat pelipisnya seketika. "Gue ngerti sih konsep lo gimana cuma, first of all emang anak lo cuma butuh ibu tiri pajangan?"
Kalau anaknya minta dia menikah, berarti tujuannya bukan sekadar punya istri kan? Tapi punya 'hubungan' asli dengan seseorang, alias tidak luntang-lantung jadi bujang bersinar seperti sekarang.
__ADS_1
Iya, kan?
*