
Kalista berjalan riang melintasi lobi apartemen Bu Direktur. Masuk ke kotak lift bersama Agas sambil sesekali bersenandung senang.
Hadiah untuk Bu Direktur. Kalista mau memberikannya biar Bu Direktur menganggap Kalista anak baik yang memikirkannya.
Kalista sangat suka didahulukan. Ia paling senang kalau seseorang menjadikan dirinya prioritas, melakukan hal repot untuk Kalista. Karena buat Kalista, itu bentuk cinta. Makanya Kalista melakukan ini buat Bu Direktur juga.
Tapi, senyum Kalista berubah murung ketika ternyata apartemen Bu Direktur kosong.
"Nona, jangan berkecil hati. Ini memamg masih jam kerja. Tentu saja Nona Direktur belum kembali."
Kalista mendongak. "Nona Direktur?"
"Ah, Nona belum tahu Direktur Sekolah belum menikah? Beliau memang masih muda. Hanya sedikit lebih tua dari saya. Sekitar dua puluh sembilan tahun."
Kalista mengerjap, baru memikirkan hal itu.
Iya juga yah. Bu Direktur memang masih muda dan kelakuannya tidak kolot sama sekali. Dia menyenangkan, tidak suka marah dan banyak tersenyum.
Tapi Kalista pikir paling tidak Bu Direktur sudah menikah.
__ADS_1
"Bu Direktur mau enggak yah ngenalin aku ke pacarnya?" Kalista bergumam gembira. Seperti anak kecil yang menantikan hadiah tahun barunya. "Nanti double date mau enggak ya?"
Agas tersenyum kecil. "Nona sepertinya menganggap Nona Direktur sebagai sahabat."
"Kira-kira cocok enggak, Kak? Aku cocok kan sama Bu Direktur?"
"Saya tidak bisa memastikan sesuatu semacam itu, Nona, tapi saya cukup yakin Nona adalah sahabat yang menyenangkan."
"Iya, kan?" Kalista tertawa cerah. Bersenandung kecil sambil terus menunggu.
Agas ikut tersenyum melihat senyum Kalista. Duduk di sampingnya dan melipat tangan, bersabar menunggu sampai tak sadar kini sudah malam, menjelang jam sepuluh.
Mata Kalista sudah tertutup, bersandar pada Agas sambil memeluk paket oleh-olehnya. Karena itulah Kalista tidak sadar ketika lift berdenting di ujung sana, memunculkan sosok Bu Direktur.
Bu Direktur mengerutkan kening pada isyarat itu, namun dia tak bisa sembarangan meremehkan perkataan pengawal Narendra, apalagi pengawal langsung dari salah satu Nona Muda Lissa.
Sudahkah Agas memberitahu bahwa Bu Direktur bekerja untuk Narendra? Tentu saja, divisinya berbeda dan mereka tidak saling berkaitan. Tapi, atasan mereka sama dan Bu Direktur bisa menjadi direktur itu semata karena Narendra memberinya izin, percaya padanya.
"Kalista." Bu Direktur pun meneruskan langkah, mendekati anak muridnya. "Kamu ngapain di sini?"
__ADS_1
Kalista yang dibangunkan langsung terssntak. Seketika berdiri seolah tak habis tidur sama sekali.
"Bu." Kalista tersenyum lebar di wajah mengantuknya. Menyerahkan paket oleh-oleh yang dia janjikan sejak kemarin pada sang guru favorit. "Ini, Bu. Papa udah pulang jadi saya langsung bawain oleh-oleh buat Ibu."
Bu Direktur menatap oleh-oleh itu lalu pada Kalista. "Kamu bisa kasih besok."
"Saya udah janji, jadi enggak mau Ibu ngira saya bohong." Kakista menyengir. "Ini, Bu. Buka, yah."
Bu Direktur menghela napas. "Kalista."
Anak itu memiringkan wajah, bingung. "Iya, Bu?"
"Kamu bukannya baru ketemu Papamu? Kan lebih baik kamu ngabisin waktu dulu sama dia daripada sama Ibu. Soal hadiah, kapan-kapan juga bisa. Saya enggak kepikiran juga."
"Tapi—"
"Lagian saya juga baru pulang kerja. Bukannya saya enggak menghargai, tapi saya mau langsung istirahat."
Wajah cerah Kalista seketika menjadi kosong. Mata anak itu mendadak gemetar seolah ada ketakutan besar dalam dirinya. Buru-buru dia menunduk, samar bergumam, "Maaf, Bu."
__ADS_1
Setelahnya, Kalista bergegas pergi diikuti Agas di belakangnya.
*