My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
34. Mungkin Karma


__ADS_3

Rahadyan mematung melihat anak gadisnya beranjak pergi, lari keluar meninggalkan rumah.


Tentu Rahadyan spontan mau mengejarnya, karena bagaimanapun dia tidak boleh berkeliaran seorang diri malam-malam.


Tapi Agas tiba-tiba muncul dan mengejar ke arah Kalista, seolah dia sudah mendengar semuanya.


Ohiya. Agas sudah diberi izin mengawasi Kalista sedalam mungkin. Jadi tentu saja dia akan melakukan itu.


"Bocah." Rahadyan berpaling pada Sergio. "Kamu mau manggil anak saya anak gundik?!"


Sergio tersentak. "Enggak! Enggak, Om!"


Maksud Sergio adalah 'padahal dia cuma anak kecil, jadi seharusnya dia sedikit mendengarkan nasehat orang dewasa walaupun dia mau jadi nakal'.


Sedikitpun Sergio tidak mau menghina Kalista itu anak pel*cur.


Lagipula, Kalista sudah terlalu sering menyebutnya sendiri hingga itu tidak lagi terdengar seperti singgungan.


"Hah." Oma Harini menghela napas. "Gimana juga umurnya masih enam belas tahun. Logikanya belum bener."


Semua orang juga berpikir sama jadi mereka hanya bisa berusaha paham Kalista tidak dalam kondisi waras secara utuh.


Tapi, ada ekspresi gelap di antara semua wajah memaklumi itu.

__ADS_1


Rahadyan. Pria itu masih bisa merasakan dadanya ngilu akan ucapan pedas Kalista.


"Gue enggak pernah bilang mau jadi anak dia. Lo kira gue bangga jadi anak dia?"


"Hah, bangga dari Jerman! Orang yang hamilin cewek tapi dia lupa ceweknya siapa, terus baru muncul pas ceweknya udah mati—lo kira gue bangga punya bapak enggak guna kayak dia? Cuih."


Rahadyan menelan ludah saat tenggorokannya mendadak disumpal batu besar.


Sedikitpun ia tak mau membela diri untuk apa pun itu tapi ....


Kalau Rahadyan tahu ada wanita yang ia hamili, Rahadyan akan lebih memilih dicincang oleh Mama dulu daripada meninggalkan dia sendirian.


Ia tak sengaja tapi kenapa ....


Rahadyan malah semakin tersentak.


"Mama tau kamu sedih, Mama juga tau kamu ngerasa bersalah—tapi kenyataannya, kamu udah biarin anak kamu hidup di luar belasan tahun jadi yatim."


Tangan Rahadyan terkepal oleh emosi yang berkumpul di dadanya.


Itu benar. Mau apa pun alasannya, ia biarkan anak itu tumbuh di luar sebagai yatim.


Dia mungkin malah berpikir bapaknya sudah mati jadi jangan diharap hidup lagi.

__ADS_1


"Mama mungkin enggak suka sama perempuan yang ngelahirin anak kamu, tapi kenyataannya juga dia jadi gundik buat ngasih anakmu makan."


Itu benar.


"Karena kamu enggak ngasih anakmu makan. Lima belas tahun di badannya, darahnya, tulangnya, dagingnya, otaknya, semuanya itu semua hidup karena uang ngelacur. Kamu yang mesti ngapus semua yang kotor di sana."


Rahadyan cuma bisa diam. Diam-diam melirik ke arah Raynar dan Cassandra yang berpura-pura tidak ada lagi, karena mereka merasa tidak boleh ikut campur.


Pernahkah kalian bertanya kenapa anak pertama seperti Rahadyan malah keduluan menikah dari adiknya?


Itu karena, entah kenapa, Rahadyan tidak pernah menemukan seorang wanita yang mau jadi istrinya.


Mereka semua yang ia temui cuma wanita yang mau hartanya, mau kedudukannya, bukan mau menjadi tempat pulangnya.


Namun sekarang Rahadyan memikirkan.


Mungkin ... ini karma.


Ada anak yang ia lupakan di luar sana, jadi bagaimana mungkin Tuhan mengizinkan Rahadyan punya istri lalu bermanja-manja dengan istrinya, mungkin punya anak satu atau dua sementara anak yang lebih dulu ada terlupakan seolah-olah tidak pernah ada.


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊

__ADS_1


__ADS_2