My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
75. Drama


__ADS_3

Pagi-pagi melihat Kalista datang bersama Sergio mau tak mau sudah mulai dijadikan pemandangan biasa. Semua orang pun sudah dengar kalau Sergio tinggal bersama Kalista karena hubungan kekerabatan di antara mereka.


Tapi melihat Kalista dan Sergio datang tanpa Agas itu menarik perhatian.


Pria tinggi yang jelas-jelas bukan murid tapi diizinkan membaur bersama murid lain demi menjaga Kalista, dia yang biasanya ada menjadi tidak ada, tentu itu mencolok.


Terutama di mata Astrid.


Pembullyan Astrid pada Kalista kemarin terpaksa ia hentikan karena teguran dari keluarganya. Mereka mundur begitu tahu bahwa Agas adalah pengawal Narendra yang biasanya cuma disewa oleh orang-orang gila kaya.


"Sergio."


Maka dari itu, Astrid tak ragu mendekati tunangannya yang tanpa malu datang bersama gadis lain.


Di sisi lain, Kalista yang mendengar suara Astrid lebih dulu menoleh daripada Sergio. Matanya langsung menemukan ekspresi tak bersahabat dari gadis itu, hingga Kalista ikut memasang wajah dingin.


Entah sengaja atau tidak sengaja, keduanya saling melempar tatapan tajam penuh permusuhan.


Membuat Sergio jadi ketar-ketir sendiri, lantaran takut Kalista mengamuk lalu dia tergores dan Om Rahadyan jadi menggila.


"Ehem." Sergio berdehem singkat. "Kalista, lo ke kelas duluan. Gue mau ngomong sama Astrid dulu."


"Enggak mau." Kalista melipat tangan. "Gue sih enggak ngerasa perlu dianter ke kelas, tapi kalo gue duluan, gue kalah."


Kalah dari apa?! Adalah yang mau Sergio tanyakan, namun diserobot lebih dulu oleh Astrid.


"Kalah dari apa?" Astrid berdiri dengan dagu terangkat angkuh.

__ADS_1


"Hmmm, dari apa yah?" Kalista membalas dingin saat berpura-pura bingung. "Mungkin dari drama Aku Yang Tunangan, Anak Gundik Yang Kamu Sayang."


Sergio tersedak.


Walau Kalista tidak peduli, melainkan tersenyum miring. "Lo nyuruh orang nyirem gue kemarin, kam? Ah, kasiannya orang yang makan kenyataan. Barang lama emang suka enggak laku."


"Cewek murahan." Astrid mengernyit kesal. "Lo kira Sergio beneran suka sama lo? Anak pelacurr kayak lo? Gue yakin lo sendiri gue sadar kalo ada yang deketin lo, itu cuma karena—"


"Karena mau nikmatin rasa manisnya anak pelacurr yang murah." Kalista mengibaskan tangan santai.


Tak peduli Astrid melotot kesal, Kalista tersenyum sumringah.


"Emang kenapa kalo cowok deketin gue buat itu?" tanya Kalista menantang. "Ah, karena lo anak mama jadi enggak paham, yah. Lo tau kenapa pelacurr laku? Karena cowok brengsek? Bukan, Sayang. Itu opini putus asa."


Kalista berbalik, tak lupa mengibaskan rambutnya.


Sergio bengong dengan perdebatan mereka yang ... entah harus disebut 'terlalu cerdas sampai sulit dipahami' ataukah 'terlalu tidak penting jadi sulit dipahami'.


Tapi, Sergio melirik Kalista dan merasakan dorongan mengikutinya saja, daripada meladeni Astrid.


Meskipun langkah Sergio dihentikan.


"Aku denger kamu enggak pernah ngajarin dia sama sekali."


Sergio meringis diam-diam. Bukannya tidak mau, cuma Kalista tidak pernah mau.


Waktu Sergio ajak dia belajar atas perintah Oma, Kalista malah mendengkus dan berkata, "Lo idup seratus tahun lagi baru bisa ngajarin gue, baaaaaaaaka."

__ADS_1


Alhasil, Sergio memang tidak pernah mengajari dia.


"Sergio."


Panggilan Astrid ia jawab dengan gumaman singkat saja.


"Aku bukan cewek murahan kayak dia jadi cara main aku enggak setolol yang dia pikirin."


Sebenarnya, Kalista mungkin tidak terlalu mau memikirkan cara main Astrid itu apa.


"Maksud kamu?" jawab Sergio, karena tak enak jika diam terus.


"Enggak usah pura-pura enggak tau."


Sergio memang tidak tahu.


"Kalo kamu enggak jaga jarak," Astrid melewati Sergio begitu saja, "aku enggak jamin dia aman."


Ekspresi Sergio hanya datar memandangi punggung Astrid.


Yah, maunya sih bilang Astrid mana mungkin bisa melukai Kalista selama ada Agas di sisinya. Sergio menganggap Agas musuhnya, tapi ia harus mengakui kalau melukai orang itu mungkin mustahil.


Masalahnya ... Astrid pasti tahu kan soal Agas?


Kalau begitu ancaman dia tidak bisa dibilang mustahil juga.


Soalnya dia tinggal menunggu masa kerja Agas berakhir buat melukai Kalista.

__ADS_1


*


__ADS_2