My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
43. Rahadyan Pengangguran


__ADS_3

Kalista tidak menduga kalau ia sampai harus diantar oleh Sergio ke kelas. Katanya, itu demi keamanan Kalista sendiri, padahal sudah ada Agas.


Tentu saja Kalista tahu keamanan yang dibicarakan bukan soal keamanan fisik saja. Sekolah elitis yang uang masuknya tidak akan bisa dibayangkan oleh kaum menengah ke bawah ini jelas saja dipenuhi dengan anak-anak elitis pula.


Mereka bakal julid melihat anak haram dari gundik tiba-tiba muncul jadi OKB.


Tapi, Kalista tidak peduli. Ia berjalan riang digandeng oleh Agas, memamerkan ke semua sekolah kalau jodoh masa depannya itu manusia sempurna.


Ayo irilah, ayo dengkilah.


Ayo lihat betapa beruntung nasib kaum rendahan ini. Kalista malah senang jika itu terjadi.


"Halo."


Di antara aktivitasnya pamer, Kalista berbalik mendengar suara Sergio. Dia mengangkat panggilan dari seseorang. Ekspresinya agak kaku, berdehem seolah canggung.


"Ya, aku bentar lagi ke kelas."


Hm? Nampaknya itu perempuan. Kalista cukup peka mengetahuinya dari gerak-gerik Sergio.


"Okay, give me fifth. Hm, bye."


Begitu panggilan berakhir, Kalista langsung bertanya, "Cewek lo?"


Tidak biasanya Sergio menghela napas penat. "Bukan."

__ADS_1


Walau kemudian dia langsung mendelik. "Lo kan cewek gue, geblek. Gimana ceritanya lo nanya santai bener."


"Gue ikhlas kok kalo lo selingkuh." Kalista bersungguh-sungguh pada ucapannya.


Membuat Sergio malah semakin melotot. "Udahlah buruan. Gue banyak urusan jadi lo di kelas aja, enggak usah ke mana-mana!"


"Serah gue."


*


Rahadyan agak lupa kalau dirinya ... sedang jadi pengangguran dadakan.


Sampai Rahadyan dan Kalista benar-benar akur sebagai ayah dan anak, Papa berkata kalau Rahadyan tidak usah memikirkan pekerjaan.


Ujung-ujungnya ketika Kalista pergi, ya Rahadyan lonely.


Lalu ujung setelah ujung-ujungnya, Rahadyan menyusul ke sekolah Kalista buat memata-matai.


"Daripada ngawasin anak Raynar, mending gue ngawasin anak gue sendiri."


Rahadyan menggerutu karena tadi Raynar meledeknya dengan berkata Rahadyan di rumah saja jaga si Rahil.


Rahil adalah nama anaknya Raynar, omong-omong.


Suasana sekolah sudah tenang ketika Rahadyan datang. Mobilnya masuk lewat gerbang depan, memastikan identitas sebelum bisa membawa mobilnya masuk.

__ADS_1


Rahadyan tidak berhenti di parkiran umum sekolah. Mobilnya berputar masuk sampai ke bagian belakang, tepatnya gedung direktorat.


Hanya butuh waktu beberapa menit, Rahadyan sudah duduk di sofa nyaman ruang tamu Direktur Sekolah.


"Saya tau kamu datang ke sini karena anak perempuan kamu." Direktur Sekolah berbicara akrab dengannya walau mereka baru saja berkenalan.


"Saya dapat perintah dari atas kalau semua urusan soal anak perempuan kamu itu diistimewakan. Jadi jangan canggung sama apa pun."


"Saya enggak canggung."


Rahadyan adalah manusia yang percaya bahwa uang adalah kekuatan terkuat di dunia manusia.


"Kalo gitu daripada basa-basi, Bu Direktur, saya mau semua CCTV yang ngawasin Kalista bisa saya pantau langsung."


Permintaan gila karena CCTV di sekolah ini tersebar dalam jumlah ribuan dan dianggap sebagai salah satu rahasia sekolah. Namun, sekali lagi uang adalah raja.


Dengan mudah Rahadyan memegang tablet di tangannya, tersambung pada semua kamera yang mengawasi Kalista sekarang.


Rahadyan menekan salah satu rekaman dari sudut kamera terdekat dan memperbesarnya.


Mata Rahadyan langsung terbelalak melihat video itu.


Kenapa Kalista basah kuyup di tengah lorong?!


*

__ADS_1


__ADS_2