My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
39. Alat Memancing Cemburu


__ADS_3

Kalista terduduk di kasur memandangi tangan kanannya. Entah kenapa, Kalista merasa seperti ia semalaman tidur sambil menggenggam sesuatu.


Sesuatu yang nyaman dan hangat.


Kayak tangan Mama, gumam Kalista bingung. Mimpi kali, yah?


Kadang-kadang, Mama harus pulang larut malam hingga Kalista tidur duluan. Lalu setiap kali Mama pulang, melihat Kalista tidur di kasur kecil mereka, Mama bukannya beristirahat malah memegang tangan Kalista.


Sebenarnya, Mama kadang-kadang juga menangis. Entah memikirkan apa, tapi Mama cuma menangis memegangi tangan Kalista.


Besoknya Mama pasti bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.


"Aku sayang Mama." Kalista menyuarakan perasaannya sendiri. Mencium tangan kanannya yang ia pikir setidaknya masih ingat akan sentuhan tangan Mama. "Aku kangen Mama."


Yah, sudah cukup sampai di sana, karena Kalista paling tidak suka orang melihat kelemahannya.


Buru-buru Kalista lompat dari kasur, menuju kamar mandinya untuk bersih-bersih. Saat bersih-bersih itu, pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Non, ini Latifah. Saya disuruh bangunin Non, katanya hari ini mau sekolah."


"Iya!" Kalista berteriak dalam kamar mandi. "Ini aku lagi mandi!"


"Iya, Non. Sarapannya mau dibikinin apa, Non?"


"Enggak. Enggak usah. Aku mau beli di luar aja."


Setelah itu Latifah berpamitan pergi dan Kalista menyelesaikan mandinya. Tapi berhubungan baju Kalista ada di ruangan lain, ia hanya memakai handuk untuk keluar.

__ADS_1


Niatnya mau ke sebelah, namun dibuat tersentak.


"Akh!"


Agas menutup matanya dengan ekspresi sedikit tertawa. "Nona mungkin tidak diberitahu tapi saya akan berdiri di sini mulai pukul empat pagi setiap hari, jadi tolong terbiasa."


Dan tolong jangan telanjangg saat keluar, adalah pesan tersirat yang tak disampaikan.


Wajah Kalista memerah karena malu. Walau hanya sebentar sebelum ia kembali berjalan percaya diri.


"Kakak kok tutup mata? Enggak mau liat aku?"


"Kontrak saya sedikit berbahaya, Nona. Bagaimana kalau Nona memakai sesuatu selain handuk dulu baru mengajak saya bicara?"


"Enggak mau."


"Maka saya tidak akan membuka mata."


Kalista memasang ke badannya sebelum melenggang keluar dengan handuk khusus rambut.


"Kak Agas, bantuin ngeringin rambut." Sengaja Kalista minta, biar bisa berdekat-dekatan dengan Agas.


Tapi baru saja Agas mau melakukannya, seseorang lebih dulu mengambil handuk Kalista.


"Biar gue aja." Sergio melotot. "Lo kan pacar gue, bisa-bisanya malah sama cowok lain!"


Ekspresi Kalista langsung malas lagi.

__ADS_1


Hih, dasar pengganggu. Dia tuh seharusnya pulang ke rumah nenek dia saja, entah di mana neneknya dia itu.


Kalista mau menyemprot Sergio dengan kemarahan Naga, tiba-tiba handuk di tangan Sergio diambil oleh Agas.


"Tolong jangan mengganggu suasana hati Nona, Anak Muda." Agas tersenyum pada Kalista. "Mari, Nona, saya bantu."


Sergio melotot. "Lo enggak denger gue ngomong apa?! Kalista tuh pacar gue! Pacar gue!"


"Saya tidak dengar jadi maaf. Mari, Nona."


Jelas dia dengar!


Tapi, ada satu orang yang ekspresinya mendadak cerah melihat situasi itu.


Kalista. Gadis itu menatap berbinar pada Sergio tiba-tiba, jauh berbeda dari tatapan malasnya tadi.


Itu tatapan yang seolah mengatakan 'akhirnya aku menemukan kegunaanmu hidup di dunia, duhai manusia tidak berguna'.


Tatapan yang membuat Sergio bergidik.


"Apa?!" tanya Sergio galak, karena juga masih sensi pada Kalista.


Kalista terkekeh. "Kak Agas, enggak jadi. Sama Sergio aja."


Ekspresi Agas langsung berubah. "Nona tidak memilih saya?"


Tawa Kalista berubah menjadi senyum lebar.

__ADS_1


Bagus, Bagus. Mulai sekarang Sergio adalah alatnya memancing cemburu Agas.


*


__ADS_2