My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
108. Seperti Sedang Jatuh Cinta


__ADS_3

Sejak hari itu, Kalista tidak mau lepas dari Bu Direktur.


Gadis itu seperti orang yang sedang jatuh cinta. Selalu terlihat riang tiap kali ke sekolah, dan selalu mau pergi menyapa Bu Direktur sekalipun cuma sebentar.


Bagi Kakista yang jarang dekat dengan seseorang, keberadaan Bu Direktur menjadi spesial. Perempuan itu mengerti perasaan Kalista dan selalu mau mendengar ceritanya.


Bu Direktur juga tidak menghadapi Kalista dengan penghakiman atau kemarahan. Beliau malah suka bertanya kenapa, mendengar sudut pandang Kalista, berbeda dari ibu-ibu lain yang merasa paling tahu dunia jadi cuma mereka yang patut didengarkan.


"Ibu!" Kalista melambaikan tangan riang, langsung berlari ke arah mobil Bu Direktur yang berhenti di dekat gerbang.


Sejak Kalista sering menyapanya, Bu Direktur tidak pernah naik mobil masuk ke gedung direktorat. Beliau selalu jalan dari depan gerbang, katanya sekalian melihat murid-murid lain.


"Kalista." Bu Direktur ikut tersenyum cerah melihat anak muridnya datang penuh kegembiraan. "Hm, tumben minggu ini kamu enggak bolos. Ibu denger kamu tiap hari full di kelas."


Kalista tertawa riang. "Soalnya mau ketemu Ibu."


Perkataan Kalista membuat Bu Direktur sempat terkejut. Walau sudah merasa bahwa Kalista agak menyukainya, tidak ia sangka anak ini sampai melakukannya.


"Ohya?" Bu Direktur kembali tersenyum ramah. "Saya juga seneng liat kamu sehat-sehat. Ngomong-ngomong, ulang tahun kamu tinggal lima hari, yah?"


Kalista mengangguk. "Papa katanya pulang besok. Saya udah minta Papa beliin Bu Direktur oleh-oleh jadi besok saya bawain yah, Bu."

__ADS_1


"Hm? Saya jadi penasaran apa."


Pemandangan itu menarik perhatian karena bukan hanya keberadaan Agas, kini Kalista terlihat sangat dekat dengan Bu Direktur sekolah.


Jelas tidak banyak orang menyukainya. Sudah jadi rahasia umum anak-anak yang suka sok caper pada guru itu dibenci okeh anak lain.


Apalagi Kakista memang sejak awal tidak disukai oleh siapa pun.


Tentu saja, Kalista tidak peduli. Ia lebih peduli mengeluarkan kotak bekal di tasnya, diulurkan pada Bu Direktur.


"Buat Ibu. Sandwich kesukaan saya, pagi-pagi banget saya bikinin."


Bu Direktur tidak pernah membiarkan seseorang merasa tidak nyaman di sisinya—mungkin kecuali Rahadyan. Maka dari itu beliau tersenyum tulus, menerima pemberian Kalista ke tangannya.


"Hehe, iya, Bu."


"Ohiya, ngomong-ngomong, Kalista. Kamu belum ngasih tau saya mau hadiah apa. Inget, kan? Saya ngasih waktu kamu buat mikir."


Kalista menyengir lebar. "Terserah Ibu. Pokoknya apa aja saya bakal suka."


"Yakin?"

__ADS_1


"Iya. Saya maunya Ibu yang milih. Harus. Pokoknya harus yah, Bu?"


"Oke, oke." Bu Direktur terkekeh kecil. "Yaudah, saya jalan duluan. Saya ada rapat sama dewan sekolah pagi-pagi. Belajar yang rajin, oke?"


"Oke, Bu. Dadah."


"Dadah." Bu Direktur merasa lucu saat ia mendadahi muridnya sendiri. Tapi itu tidak terlalu buruk.


Lagipula Bu Direktur—tidak, Winnie menjadi seorang Direktur sekolah karena memang cukup menyukai anak-anak. Entah remaja seperti Kalista atau anak yang lebih kecil, berinteraksi dengan mereka terasa berbeda dari berinteraksi dengan orang dewasa.


Suasana hati Bu Direktur menjadi sangat baik karena disapa penuh cinta oleh muridnya.


Beliau masuk ke kantornya, duduk membuka kotak makanan pemberian Kalista.


Alis Bu Direktur langsung terangkat naik menemukan secarik kertas dalam kotak, bertuliskan kalimat manis dari anak yang manis pula.


Semangat kerja yah, Bu Guru Favorit Kalista.


"Kayak bocah banget." Bu Direktur tertawa kecil. Menyantap sarapan paginya walau tadi sebenarnya beliau sudah sarapan.


Tidak boleh mengecewakan murid, kan?

__ADS_1


*


__ADS_2