
"Nona terlihat senang."
Kalista menjatuhkan diri di kasurnya dan memeluk boneka ikan di sana erat-erat. Sulit bagi Kalista merespons Agas karena pikirannya sekarang dipenuhi hal-hal konyol.
Apa sih Om Tidak Berguna itu? Sok-sok mengatakan sesuatu seolah dia paham tentang Kalista. Harusnya dia menari-nari saja di telapak tangan Kalista seperti kemarin-kemarin, bukan malah mengatakan hal tidak jelas.
"Non, Bapak nyuruh bawain es krim."
Kalista terduduk. Menatap pada nampan yang dibawa oleh Latifah berisi piring dengan potongan sushi, segelas minuman dingin segar dan semangkuk kecil es krim tiga rasa.
"Opa?"
".... Pak Rahadyan, Non."
Latifah mengucapkannya ragu-ragu karena sadar betul anak majikannya ini mungkin cuma bakal melempar piring kalau isi makanannya pemberian Rahadyan.
Namun asisten rumah tangga nyaris seluruhnya tadi melihat Kalista dan Rahadyan berbicara normal, tanpa teriak-teriak. Bahkan waktu menyuruh membawakan ini, Rahadyan tersenyum-senyum tidak waras.
"Yaudah."
Kalista menerima nampan itu.
Membuat Latifah diam-diam tersentak kaget, tidak menyangka Kalista akan sesantai itu.
Walau kemudian Kalista menambahkan, "Kamu jangan bilang aku terima. Bilang aja kamu taro di kamar. Nanti dia kegeeran."
".... Iya, Non."
__ADS_1
Sepertinya tidak salah kalau menyebut Kalista itu aneh. Soalnya dia memang aneh dari awal.
Latifah pun bergegas pergi meninggalkan kamar Kalista, tentu saja dengan pintu sengaja dibuka karena Agas berada di dalam.
"Nona terlihat senang." Agas mengulang perkataannya lagi.
Apalagi waktu melihat Kalista langsung makan dengan lahap seolah tak peduli itu dari Rahadyan. "Nona mulai berubah pikiran sekarang?"
Kalista pura-pura tidak paham. "Kakak ngomong apa?"
Tapi Agas hanya terkekeh. "Nona tahu kebencian berlebihan bisa jadi berubah cinta yang terlalu dalam?"
"Hah! Omong kosong!" Kalista langsung berseru keras, walaupun kelihatan jelas dia tahu maksudnya apa. "Benci ya benci! Enggak ada benci jadi cinta! Bullshitt!"
Agas malah cuma tersenyum.
"Kakak kok malah senyum-senyum?!"
Kalista menggigit sendoknya dan terlihat semakin cemberut. "Aku tau Kakak lagi nyindir!"
"Begitu, kah?"
"Ih, nyebelin!" Kalista menggembungkan pipi sepenuhnya, sebal pada cara Agas berbicara.
Tapi diam-diam, otak Kalista juga tak bisa melepaskan pikirannya dari ucapan Rahadyan.
Lakukan saja yang Kalista mau, dia bilang. Bahkan kalau Kalista anak pelacurr sekalipun, Kalista tetap bukan orang yang menanggung semua dosa ibunya.
__ADS_1
Itu dosa ibunya sendiri.
"Tumben dia pinter," gumam Kalista tanpa sadar, menusuk-nusuk es krimnya dengan sendok. "Cih, paling dia cuma enggak mau peduli. Emang aslinya dia begitu."
Hening.
Agas sedikitpun tidak menimpali sekalipun dia mendengar.
Karena Kalista tahu Agas dengar tapi malah diam saja, Kalista jadi heran sendiri. Kalista diam-diam mengintip ekspresi Agas, penasaran dengan apa yang dia pikirkan.
"Ada apa? Nona ingin berbagi rahasia dengan saya?"
Kalista tersentak. Buru-buru membuang muka. "Enggak. Orang aku lagi makan."
Tapi ternyata Agas memang mau melakukan itu. Dia menatap Kalista dengan sorot mata yang misterius sebelum tiba-tiba dia berkata, "Apa yang Nona harapkan dari orang itu?"
Orang itu. Kalista jelas tahu maksudnya adalah Rahadyan.
"Enggak ada. Ngapain ngarep sama dia? Cih, enggak level."
"Benarkah?"
"Kakak ih. Udah deh, jangan diterusin."
Agas tersenyum simpul. "Saya sebenarnya cukup pandai membaca emosi di wajah seseorang."
"Kakak, aku enggak—"
__ADS_1
"Nona tidak membenci orang yang Nona sebut Om Tidak Berguna, kan?"
*