
Kalista baru selesai mandi saat tiba-tiba pintunya diketuk, disusul suara pembantu muda di rumah ini datang minta izin masuk.
"Non, saya disuruh bawa makanan buat Non sama Opa."
Langsung Kalista izinkan dia masuk, sekalipun Kalista tidak lapar karena tadi makan beberapa porsi makanan cepat saji. Pelayan itu, Latifah, segera meletakkan nampan makanan di atas meja.
Tapi begitu dia mau pergi, Kalista menghentikannya.
"Nama kamu siapa?"
"Latifah, Non."
Sekarang Kalista tahu namanya.
Dengan isyarat tangan ia minta gadis itu mendekat, duduk di karpet bersamanya. Lalu Kalista mengulurkan paperbag yang sengaja ia bawa bersamanya tadi ke tangan Latifah.
"Buat kamu."
"Eh?"
"Umur kamu sama aku hampir sama, kan? Aku beli baju banyak, jadi kubeliin buat kamu juga."
Latifah terbata-bata menerima dan tampak canggung. "Duh, Non, saya enggak enak."
"Itu baju, bukan makanan jadi enggak enak." Kalista membalas asal. "Ambil aja. Aku ngasih kamu bukan karena kasian atau apa, tapi emang mau ngasih soalnya kita seumuran."
"...."
__ADS_1
"Kenapa? Kamu ngerasa aku sombong karena jadi anaknya si Om?"
"Enggak, Non." Latifah menunduk, terlihat memiliki beberapa pemikiran.
Bagi Kalista, itu mudah terbaca. Pasti ada sedikit di hati anak ini yang menganggap Kalista tidak tahu bersyukur. Mereka seumuran tapi nasib mereka berbeda.
Kalista tidak nyaman dengan pemikiran semacam itu, terutama jika datang dari orang yang menurut Kalista sama dengan dirinya sendiri.
"Aku enggak dateng ke sini buat jadi Non kamu." Kalista menegaskan. "Aku cuma dateng ke sini buat ganggiin si Om Enggak Guna. Kalo dia udah capek, nanti juga aku dibuang. Kayak dulu-dulu."
*
Rahadyan memijat pelipisnya karena tiba-tiba merasa pening. Tidak, bahkan sekarang Rahadyan merasa panas dan ingin memuntahkan lahar.
"Al," panggilnya pada pemimpin keluarga Narendra itu. "Saya minta pengawal buat anak perempuan saya biar dia enggak deket-deket sama anak cowok, terus kamu malah ngasih saya pengawal cowok?"
"Perempuan, please."
Al mengulas senyum menatapnya. "Sepertinya ada kesalahpahaman terhadapmu, Teman. Kami Narendra tidak menjadikan wanita pengawal."
"What?!!"
"Kami Narendra menghormati seorang wanita dan menyayanginya." Al menoleh pada sang istri pertama yang tersenyum manis. "Tentu saja, istri-istriku ataupun istri adik-adikku semuanya kuat untuk melindungi diri mereka sendiri. Tapi, itu dan ini adalah dua hal berbeda."
"Pengawal Narendra kami batasi hanya dilakukan oleh laki-laki, sebab wanita adalah individu yang lebih sesuai berada pada posisi dilindungi. Semua orang yang menyewa kami tahu itu."
Rahadyan tidak tahu itu. "Tapi pelayan kamu perempuan. Saya tau dia jago bela diri."
__ADS_1
"Pelayan adalah pelayan. Pelayan Narendra seluruhnya wanita, karena tugas mengurus sesuatu jauh lebih baik dilakukan oleh wanita. Tapi, mereka juga akan berbeda dari pengawal. Pelayan tidak bisa menghentikan seseorang mendekati anakmu, karena mereka cuma dibesarkan mengurus dan mengawasi. Selebihnya itu bukan tugas mereka."
Rahadyan mengacak-acak rambutnya frustrasi. Lantas buat apa ia bayar mahal-mahal orang dari tempat ini kalau ujungnya juga diberi laki-laki?
"Hei, tenang dan dengarkan aku, Rahadyan." Al menyesap tehnya santai seolah tak terpengaruh kekesalan Rahadyan. "Kami mempertaruhkan nama Narendra saat menawarkan jasa pengawalan ini. Karena itu jugalah kamu membayar sangat mahal untuk jasa kami."
Tentu saja. Harganya sangat mahal. SANGAT.
"Apa menurutmu aku akan menerima uang yang sangat banyak darimu lalu memberikan seorang pria yang memperkosa anak perempuanmu?"
Rahadyan tersentak.
Kalau dipikir lagi, itu benar juga. Dasar dari bisnis selalu kepercayaan. Jadi kalau orang-orangnya Narendra tidak bisa dipercaya, mustahil ada orang-orang yang mau menyewa mereka dengan harga miliaran.
"Kamu bisa menutup mata dan memilih mereka secara acak. Aku akan menjamin tidak ada helai rambut anakmu yang tersentuh oleh mereka. Sekali lagi, nama Narendra dipertaruhkan. Jadi aku memberikan jaminan seratus persen."
Rahadyan melihat beberapa orang pria di depannya yang berdiri berjejeran, tampak profesional sekaligus tanpa emosi.
Baiklah.
"Saya bayar lebih buat yang terbaik," putus Rahadyan tegas. "Tapi kontraknya semua uang saya dikembaliin kalau sampe ada masalah."
"Well done." Al membalas tanpa beban.
Malam itu juga Rahadyan pulang membawa seorang pengawal untuk anaknya.
Tidak peduli besok Kalista mau berteriak apa.
__ADS_1
*