
Oma Harini sejak hari pertama menyadari bahwa Kalista bukanlah anak yang berpikiran sempit. Kadang dia mengucapkan hal bodoh seolah dia tidak berpikir tentang masa depan, kadang dia melakukan hal gila semata agar Rahadyan susah, tapi sudut pandang anak ini sedikitpun tidak naif.
Lagipula, ibunya adalah pelacur. Dia melihat dunia yang kotor sejak dia kecil. Pengkhianatan, kekecewaan, kebohongan, hal-hal semacam itu mungkin jadi santapannya.
Dia bukan anak yang mudah didapatkan kecuali dialah yang lebih dulu menginginkan.
"Oma enggak tau. Papamu yang tau." Oma Harini menjawab apa adanya sebab Kalista bukan anak-anak biasa. "Bisa jadi enggak, bisa jadi iya."
Kalista membaringkan kepalanya di atas tangan yang terlipat di kasur. Satu tangan lain mendorong stroberi di atas piring camilan. Sulit memastikan dia sedang sedih ataukah tidak peduli.
"Papamu itu sering bikin Oma nangis." Oma Harini memutuskan sedikit bercerita. "Dia beda dari adeknya. Walaupun sama-sama badung, Raynar itu enggak banyak tingkah. Paling jauh cuma dia pulang malem tiap hari."
"Om pasti badjingan."
"Emang." Oma Harini tertawa kecil. "Rahadyan itu, dari SD udah bikin Oma sakit kepala. Ada aja tingkahnya. Berantem, dilaporin ke polisi, didatengin perempuan yang teriak-teriak nyumpahin dia mati. Kalau boleh jujur, Oma sempet ngerasa itu anak bakal jadi beban."
"Dia enggak mau kerja?"
"Bukan. Bukan gitu. Rahadyan pinter dari kecil. Lebih pinter dari Raynar malah. Maksud Oma, Oma ngerasa nanti dia kalo besar bakal jadi sampah keluarga. Yang enggak sayang sama Oma Opa, enggak tau balas budi atau berbakti. Enggak bakal inget sama orang tuanya."
Kalista mendongak melihat Oma Harini tersenyum.
__ADS_1
"Tapi, Oma salah. Walaupun banyak tingkah, Rahadyan enggak pernah lupa sama Oma. Pelan-pelan dia juga udah sadar gimana caranya berbakti sama orang tua. Udah enggak pernah bentak-bentak Oma, udah enggak ngelawan walaupun Oma marah-marah."
"...."
"Papamu itu berandal, tapi enggak sesampah yang Oma takutin. Dia berusaha berubah sendiri, berusaha ngoreksi dirinya sendiri."
Oma Harini membelai pipi Kalista dan tersenyum penuh kelembutan.
"Rahadyan bukan tipe anak yang diem aja kalo dia enggak suka sesuatu. Oma emang marah-marah sama dia, tapi Oma inget gimana Rahadyan waktu tau kamu ada."
Ketika semua orang terkejut dan memikirkan sangat banyak hal di kepala masing-masing, hanya Rahadyan yang ekspresinya pucat. Bukan ketakutan atau apa pun, tapi rasa bersalah.
Dan Oma Harini tahu bahwa sebelum Kalista datang, bahkan mungkin setelah itu, Rahadyan bersembunyi untuk menangis. Dia menangis karena dirinya pernah berbuat kesalahan yang terlalu fatal.
"Enggak ada orang yang Papamu sayang kayak dia sayang sama kamu. Seenggaknya Oma jamin itu."
Kalista membatu.
Sesuatu terasa aneh di tenggorokannya. Memaksa itu terasa kering dan butuh dibasahi.
Kalista ingin minum, tapi ia tak dapat menjangkau air minum sekarang hingga cuma bisa menelan ludah.
__ADS_1
Pandangannya mendadak gelap. Tak tahu kenapa sesuatu terasa mencekik di dadanya.
"Papamu sering bilang dia mau deket sama Kalista tapi Kalista enggak mau deket sama dia." Suara Bu Direktur ikut terdengar di kepala Kalista.
Membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
Kenapa? Kenapa Om Tidak Berguna menyayanginya? Kalista tetap tidak mengerti bahkan jika semua orang menjelaskannya.
Tapi Kalista butuh penjelasan. Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kenapa orang yang baru melihatnya menyayanginya?
"Kamu mungkin enggak terlalu suka sama ini," Oma Harini menarik tangannya dari Kalista, "tapi Papamu mungkin nahan beban dari dosanya kemarin-kemarin. Dia enggak mau dimaafin sama siapa pun termasuk saya, kecuali kamu udah mau maafin dia."
Mulut Kalista terbuka, tapi kemudian terkatup.
Wajahnya berpaling ke arah lain, meski tak akan mungkin menyembunyikan kenyataan ia menangis.
Entah kenapa.
*
__ADS_1