
Kalista bangun nyaris jam delapan pagi alias sebentar lagi jam masuk sekolah. Tapi alih-alih panik, Kalista malah terduduk di kasurnya menyesali kenapa kemarin ia menangis pada Rahadyan.
Aaaaakkkhh! Dasar dirinya tidak tahu malu!
Kalista itu tipe tsundere yang selalu menganggap kalau dirinya bersikap begini, berarti ia lemah. Bagi Kalista, kalau ia menerima perhatian Rahadyan, maka seketika itu juga Kalista tidak punya harga diri.
Makanya Kalista tidak pernah benar-benar luluh. Karena ia tidak mau!
"Nona?"
"Aku males sekolah." Kalista keluar dari kamar setelah cuci muka. "Tapi enggak ada kerjaan jadi pergi aja."
Agas tersenyum. "Saya akan bilang Nona akan masuk di jam kedua pelajaran."
Bagusnya sekolah elit, telat pun tidak banyak masalah.
Kalista cukup santai waktu ganti baju, turun ke bawah buat sarapan. Pikirnya semua orang sudah pergi kerja, ternyata masih ada Opa sama Oma, bahkan Om Raynar dan Rahil.
"Kalista." Oma memanggilnya dengan ekspresi rumit.
Pikiran Kalista lebih dipenuhi oleh penyesalan sudah menangis pada Rahadyan, jadi ia tidak mengerti kenapa semua orang menatapnya begitu.
Kalista agak lupa soal insiden kemarin.
"Sayang, sini dulu." Opa mengangkat tangan, mengisyaratkan Kalista mendekat.
Setelah mencomot satu roti cokelat di meja, Kalista bergegas datang. Membiarkan Opa langsung memeluknya dan mengusap-usap kepala Kalista.
Kayaknya, cuma Opa satu-satunya manusia di rumah ini yang membuat Kalista tidak terlalu canggung. Entah kenapa.
"Kenapa, Opa?"
Opa mengusap-usap kepalanya dalam diam.
__ADS_1
"Kalista." Om Raynar memanggilnya. "Om minta maaf soal kemarin. Soal mamanya Cassie."
Baru Kalista konek mereka kenapa.
Ah, tidak enak karena besan mereka bersikap kurang ajar yah?
"Aku udah bilang sama Kak Cassie enggak peduli." Kalista menjawab santai. "Om enggak usah khawatir. Aku enggak suka dengerin orang yang aku enggak suka."
Semua orang di ruangan itu juga tahu bahwa Kalista bukan anak cengeng. Tapi, mereka pun sudah cukup dewasa untuk paham bahwa Kalista pasti cuma bersikap tegar.
Dia tidak benar-benar mengabaikan ucapan kemarin.
"Walaupun dia besannya Oma sama Opa, mertuanya Om Raynar, kalo emang dia enggak suka yaudah biarin aja. Musingin dia juga bikin capek."
Kalista melepaskan diri dari Opa.
"Yaudah, yah. Aku ke sekolah dulu. Dah."
Sikap itu malah membuat semua orang semakin tidak nyaman, takut jika Kalista diam-diam merasa tercekik.
"Sergio kenapa enggak pernah nyari aku lagi yah, Kak?"
Agas di depan mengintip dari kaca tengah. "Saya rasa Nona sudah sedikit menduga. Keluarganya juga bermasalah dengan Nona."
"Kalo gitu dari awal enggak usah disuruh jadi temen aku. Ribet amat, sih," gerutu Kalista sebal.
"Menangani hubungan keluarga tidak sesederhana itu, Nona. Nenek dari anak itu yang setuju agar Nona dan dia berteman, karena mungkin dia tidak mempermasalahkan Nona. Lagipula, Nona diterima dengan baik. Tapi, orang tuanya bisa saja berbeda. Mereka terpaksa setuju demi kesopanan, tapi mereka juga terus merasa tidak senang."
Manusia adalah makhluk yang terlalu rumit, sampai Kalista pernah berpikir apakah Tuhan kurang kerjaan menciptakan manusia?
Kalau tidak suka ya bilang saja tidak suka, lalu jauh-jauh.
Hah. Merepotkan.
__ADS_1
Ketika sampai di sekolah, Kalista berdiri menunggu Agas selesai memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah.
Saat itu ....
"Kalista."
Gadis itu menoleh, terkejut melihat Bu Direktur keluar dari gedung sekolah. Biasanya Bu Direktur cuma menghabiskan waktu di gedung direktorat.
"Halo, Bu." Kalista tersenyum ramah. Sudah menganggap Bu Direktur sebagai teman setelah beliau mengobati kakinya kemarin-kemarin.
"Halo." Bu Direktur tersenyum. Mengusap-usap kepala Kalista tanpa alasan. "Kamu telat hari ini. Kenapa? Ketiduran lagi?"
Kalista menyengir. "Hehe, maaf, Bu."
"Saya enggak masalah orang bolos atau telat asal nilainya selalu bagus."
"Kalo itu enggak ada masalah, Bu."
Kalista bukanlah tipe anak yang harus duduk berjam-jam di kelas demi jadi pintar. Kalau ditekan begitu, Kalista malah tidak suka sekolah dan malas belajar.
Makanya Kalista suka peraturan sekolah yang membebaskan.
"Kamu udah sarapan?"
"Cuma makan roti sih, Bu, tapi saya enggak ada mag jadi enggak masalah."
"Hmmm." Bu Direktur mengedik. "Temenin saya sarapan kalo gitu."
"Loh?"
"Saya lagi bosen," jawab wanita itu santai. "Ayok. Ngobrol sama kamu bikin saya seneng jadi temenin aaya."
Kalista memiringkan wajah, tapi seketika tersenyum cerah.
__ADS_1
Guru ini favorit Kalista selama hidupnya sebagai siswa. "Oke, Bu."
*