My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
86. Kehidupan Membosankan


__ADS_3

Agas tersenyum. "Setidaknya saya setuju."


"Tapi bentar. Antara Lissa sama aku, mana yang lebih baik? Aku dong?"


"Benar."


Eh? Kalista pikir dia bakal menjawab 'Nona Lissa paling baik'.


"Nona Lissa adalah salah satu gadis tercantik di dunia, menurut saya. Tapi beliau juga ... gadis terburuk yang pernah ada."


*


"Nona tidur di kamar Anda, Pak."


Dari seberang sana, Rahadyan jelas tersentak mendengar laporan dari Agas. Untuk sesaat Rahadyan merasakan perasaan berdebar di hatinya, karena berpikir Kalista juga rindu sebagaimana ia merindukan anak gadisnya tersayang.


Tapi ....


"Nona sepertinya lelah karena semua orang terus bertanya apakah mereka merindukan Anda atau tidak. Nona bilang tidak ada alasan bagi Nona merindukan Anda. Lalu karena senggang, Nona memutuskan masuk ke kamar Anda dan tertidur. Sepertinya hari ini Nona akan bolos sekolah."


Rahadyan menghela napas 'apa boleh buat'. Ternyata cuma kurang kerjaan makanya dia masuk kamar Rahadyan. Tidur di sana juga cuma buat bolos pula.


Tidak ada alasan merindukan katanya. Jadi bapaknya ternyata tidak cukup jadi alasan buat Kalista rindu padanya.

__ADS_1


"Sergio mana? Dia enggak gangguin Kalista kan?"


"Tidak. Interaksi Nona dan Sergio belakangan berkurang. Saya rasa itu karena tekanan dari keluarga Sergio sendiri. Saya dengar dia bermasalah dengan tunangannya."


"Hah, bagus. Kalo bisa mending dia pulang aja ke rumahnya." Rahadyan tersenyum puas. "Terus, Kalista udah makan?"


"Nona bangun pagi membuat bekal tadi."


"Bikin bekal tapi enggak jadi sekolah. Dasar." Rahadyan malah tertawa. "Yaudah. Lapor ke saya kalo ada apa-apa."


"Ya, Pak."


Rahadyan mematikan panggilan setelah itu dan Agas langsung mengantongi ponselnya.


Perhatian Agas bergeser pada Kalista yang berbaring telentang di kasur, tertidur pulas padahal tadi bangun membuat bekal ke sekolah.


Diam-diam Agas merasa bahwa Lissa dan Kalista memang memiliki kemiripan. Sama-sama hidup dalam dunia yang membosankan. Bedanya, Kalista sampai sekarang belum bisa mengatasi itu.


Dia tidak memiliki beban apa pun di pundaknya makanya dia tidak bisa terhibur pada apa pun.


"Agas, Kalista mana?" Cassandra tiba-tiba muncul dari depan pintu, melihat Agas sebelum dia menemukan jawabannya sendiri di kasur. "Loh, kok malah tidur? Katanya tadi bikin bekal?"


"Pak Rahadyan berkata Nona boleh izin dari sekolah hari ini."

__ADS_1


Cassandra menepuk dahi tak habis pikir. "Gitu, yah. Yaudah, deh."


Karena Kalista adalah hak Rahadyan, siapa pun tidak berhak memaksanya. Cassandra pergi setelah memastikan Kalista tidak ke sekolah, kembali meninggalkan Agas menunggui nonanya bangun.


Gadis itu tidur sangat nyenyak. Dari jam yang tadinya menunjuk ke angka 6, tahu-tahu sudah menunjuk ke angka 10.


Kalista bangun dengan polosnya. Menengok kesana-kemari tanpa rasa bersalah.


"Aku bosen." Kalista menguap seolah dia masih bisa tidur sampai jam enam sore. "Ohiya, aku lupa ke sekolah."


"Nona boleh libur hari ini."


"Ohya? Yaudah. Kita belanja, yuk. Sekalian makan di luar."


"Baik, Nona."


Agas mengulurkan tangan untuk membantu Kalista turun, pergi meninggalkan kamar Rahadyan begitu saja.


Tatapan Agas diam-diam terus mengamati Kalista bahkan setelah mereka turun untuk minta izin mau belanja.


Kehidupan Kalista sekarang benar-benar membosankan. Dia sepertinya juga menyadari itu. Pertanyaannya, sampai kapan dia akan tahan dengan situasinya itu?


*

__ADS_1


__ADS_2