My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
96. Itu Pilihan Kamu


__ADS_3

Bu Direktur memutuskan menemani Kalista. Alasan utamanya memang karena Kalista adalah salah satu murid istimewa di sekolah yang dikawal oleh pengawal Narendra—dan Bu Direktur bekerja untuk Narendra itu.


Tapi, menepikan alasan utama, Bu Direktur juga bersimpati pada anak ini, maka dari itu beliau duduk mendengarkan Kalista menangis.


Lalu setelah lama rasanya Kalista menumpahkan semua emosi dari perasaannya, gadis itu menoleh.


Tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Bu Direktur.


"Kamu mau jawab pertanyaan kepo saya?" Bu Direktur memutuskan lebih dulu bicara lahi. "Soal urusan pribadi kamu."


Bu Direktur tidak berharap banyak kalau Kalista memang tidak mau, tapi ternyata anak itu mengangguk.


"Kamu enggak punya temen sama sekali? Di luar sekolah ini."


Kalista mendadak murung. "Enggak," jawabnya samar-samar. "Waktu SD saya dibully secara verbal, ngatain saya anak haram, anak enggak bener jadi kebanyakan jauhin saya."


"Waktu SMP, saya mulai ngelawan. Saya benci sama orang-orang yang ngatain saya, makanya orang tambah benci sama saya."


"Waktu SMA, saya enggak ngomong lagi sama siapa-siapa. Biarpun ada orang yang enggak ngatain saya, saya udah enggak mau."


Jadi bisa dibilang, seumur hidup Kalista tidak punya teman. Kalaupun ada, itu hanya teman yang bukan bergelar sahabat. Hanya orang asing yang sekarang tidak terlalu merasa aneh bahkan jika Kalista tidak menghubungi mereka.


"Cuma Mama temen saya. Juga, temen-temen Mama yang bisa dibilang bukan temen juga."

__ADS_1


Makanya, buat Kalista, Agas segalanya. Segala-galanya yang bisa ia punya. Bahkan kalau Agas terang-terangan menolak perasaan Kalista sekalipun, dia masih jadi orang pertama yang Kalista butuhkan di dunia ini.


"Kalista." Bu Direktur mengulurkan tangan tiba-tiba, pada daun kering yang menyelip di rambut anak itu. "Kamu yakin itu karena Agas?"


Apa maksudnya?


"Karena Agas satu-satunya yang bikin kamu nyaman ... atau karena kamu mutusin Agas aja yang bikin kamu nyaman?"


Kalista melebarkan mata untuk alasan yang tidak ia ketahui. Kenapa Bu Direktur berbicara seakan-akan itu salah Kalista?


"Kamu enggak mau kalo Papa kamu, yang menurut kamu punya dosa besar, jadi tempat kamu nyaman. Kamu enggak mau dia. Kamu juga enggak mau Sergio. Kamu enggak mau percaya sama Sergio lebih dari 'temen' biasa. Kamu maunya Agas."


"...."


"Kepercayaan itu didapet atau dikasih, Kalista?" Bu Direktur menyerahkan daun tadi ke tangan Kalista. "Saya kasih kamu daun, it's your choice to accept or refuse. Jadi sebenernya siapa yang jadiin Agas tempat kamu nyaman? Kamu atau Agas sendiri?"


Itu dirinya. Dirinya yang memutuskan.


Bahkan kalau Agas membuatnya bisa dipercaya, yang memutuskan percaya tetap Kalista.


"Itu juga yang terjadi soal Papa kamu, saya rasa." Bu Direktur mengangkat bahu. "Bukan soal dia salah, bukan soal dia dosa, bukan soal dia ngecewain kamu. Tapi kamu milih enggak terima."


Kalista kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara lutur yang berdarah. "Terus salah saya?"

__ADS_1


"Jelas bukan. Namanya juga pilihan. Enggak selalu harus sama."


"...."


"Tapi, kalo Agas pergi dari kamu dan kamu enggak punya lagi tempat buat ngerasa nyaman, tempat buat kamu baik-baik aja, pertanyaan saya, itu tanggung jawab siapa?"


Kalista.


Kalista yang memilih hanya Agas, jadi itu tanggung jawab Kalista atas perasaannya sendiri kalau Agas pergi.


"Tapi sama aja kan, Bu, kalo saya milih Om. Enggak ada jaminan dia enggak bakal nyakitin saya. Enggak ada jaminan dia bakal lebih baik dari Kak Agas."


"Emang."


Pembenaran Bu Direktur yang terlalu mudah malah membikin Kalista tersentak. Ia pikir Bu Direktur mau bilang 'bukan gitu'. Atau sesuatu seperti 'Papamu beda karena dia Papa'.


"Tadi kan saya udah bilang. Semua orang, even orang tua, even itu anak kita, even itu pasangan sehidup semati kita, akan ada waktu mereka ngecewain kita. Makanya, itu pilihan dan tanggung jawab kita."


Bu Direktur menepuk-nepuk kepala Kalista.


"Jangan nunggu orang lain ngelakuin sesuatu buat kamu. Kamu yang mesti ngelakuin itu buat diri kamu sendiri, karena kamu yang mau, kamu yang butuh. Itu baru kuat."


Kelopak mata Kalista terpejam, membiarkan kepalanya terus dielusi.

__ADS_1


Rasanya baru pertama kali setelah kehilangan Mama, Kalista benar-benar mendengar sebuah saran yang membuat cuma ingin diam mendengar.


*


__ADS_2