My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
37. Gadis Cantik Menakutkan


__ADS_3

Sergio juga salah satu yang tersentak kaget karena permintaan maaf Kalista. Tapi keterkejutan itu berakhir jadi curiga setelah Sergio memikirkannya lagi.


Lemah dan lembek adalah hal yang sangat tidak bisa disandingkan dengan Kalista.


Bahkan kalau dia punya perasaan dan bisa menangis bersedih atas kesulitannya, tetap saja Kalista itu licik, manipulatif dan tidak pernah mau kalah.


Masa sih tiba-tiba minta maaf?


Hmmm, mencurigakan. Kemarin juga dia tiba-tiba menjadi pacar Sergio, padahal mereka baru ketemu.


Ya, Sergio tidak akan bisa dibodohi. Nyatanya Kalista adalah manusia yang seperti itu.


"Kalista, kamu jangan ngomong kayak gitu, Nak. Oma enggak masalahin kamu siapa. Udah."


Apalagi soal ibunya. Kalista pasti bukan orang yang bakal menangis menyesal sudah bertingkah kurang ajar dan bangga menyebut dirinya anak gundik.


Sergio semakin curiga.


"Agas mana?" Rahadyan terlihat sangat marah sekarang.


Itu membuat Sergio heran, karena Kalista sekarang mau tak mau jadi mengorbankan Agas. Masa sih dia sampai rela orang yang dia gilai itu dipecat?


Tidak, tapi—


"Jangan, Om." Kalista menahan tangan Rahadyan sambil terus menangis. "Udah, bukan salah Kak Agas. Kak Agas cuma bilang keluarga Om sayang aku, jadi aku mesti bersyukur."

__ADS_1


Lalu kenapa dia menangis? Kalau cuma itu, kenapa dia menangis?


Sergio terus mengerutkan keningnya, tidak termakan pada tangisan Kalista.


Kayaknya palsu, gumam Sergio mengamati sudut-sudut mata dan bibir Kalista. Palsu pasti, palsu.


"Kalista, kamu jangan dengerin omongan orang soal kamu." Rahadyan memegang kedua bahu Kalista, menatapnya dengan kening berkerut serius. "Kamu bebas ngapain aja. Saya yang salah sama kamu. Saya yang bikin kamu begini. Kamu enggak salah, Nak, enggak salah."


Hmmmmmm. Sergio semakin bergumam gelisah.


Alurnya sekarang jadi berbalik. Kalista yang tadi teriak-teriak, tapi sekarang dia pula yang dibilang tidak salah.


Sergio melirik ke arah Cassandra secara kebetulan dan tersentak melihat wanita itu tersenyum penuh arti.


Tuh, kan! Sergio langsung berseru dalam hati. Ini jurus cewek ini pasti. Kak Cassie aja paham.


Ckckck, memang dasar cewek. Sergio langsung merinding melihat Kalista dikelilingi oleh keluarganya, tanpa tahu bahwa mereka semua telah dimanipulasi.


Menakutkan.


Kalista adakah gadis cantik yang menakutkan.


*


"Kak Agas."

__ADS_1


Agas tersenyum kecil begitu Kalista berseru semangat melihatnya. "Nona sepertinya berbakat dalam bersandiwara. Itu bakat yang sangat berguna di masyarakat."


"Hehe." Kalista tertawa bangga. "Tapi Kak Agas enggak kenapa-napa, kan? Om enggak pecat Kakak, kan?"


"Bukannya saya sudah bilang? Tidak semudah itu."


Agas cuma tinggal berkata kalau dia menasehati Kalista agar tahu keluarganya mencintai dia, karena itulah Kalista menangis. Agas juga bersumpah bahwa ia tak berbicara kasar sampai Kalista menangis, karena memang tidak.


Hasilnya sesuai dugaan. Agas sedikit disalahkan, tapi Kalista mengendalikan semua orang dengan baik.


"Memusuhi seseorang hanya akan membuat dia kesal dan muak, Nona."


Agas membelai puncak kepala Kalista, merasakan kebanggaan aneh dalam dirinya karena Kalista bisa memainkan peran dengan baik.


"Jika Nona ingin membuat seseorang benar-benar terganggu, buat dia merasa sedih atas Nona."


Kalista tersenyum polos menikmati usapan di kepalanya.


"Tapi omong-omong, apa yang mau Nona lakukan sekarang? Nona benar-benar tidak ingin berangkat ke sekolah?"


"Kakak juga pergi?"


"Tentu saja. Di mana Nona, di sana saya."


"Kalo gitu aku mau."

__ADS_1


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊


__ADS_2