My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
22. Nyawa Sergio Terancam


__ADS_3

Oh tentu saja tidak boleh kalau cuma berakhir di sana. Kalista dan Sergio tanpa kesepakatan mulai saling memanggil sayang-baby satu sama lain, demi melihat Rahadyan terkena syok mental.


Kini setelah Kalista puas membeli baju buat dirinya sendiri, mereka pun mulai membeli baju couple yang menurut mereka berdua sangat norak.


Bahkan, mereka sengaja mencari-cari baju menjijikan dengan love-love, warna pink-pink fanta biar kelihatan cinta mereka berbusa-busa.


"Sayang, aku lucu enggak pake ini?" Kalista berputar-putar memakai topi norak tapi mahal yang memiliki tulisan 'Queen' di atasnya. "Bisa enggak yah suruh bordir nama kita? Kamu satu aku satu."


"Haha, lucu, Baby."


Sergio menelan ludah di antara tawa terpaksanya. Entah kenapa ia mulai merasa nanti di rumah bakal dicambuk beneran.


Oke, pasti tidak. Rahadyan pasti tidak mau dilaporkan ke polisi oleh Mami-Papinya Sergio jadi pasti aman.


Walau rasanya tidak aman-aman banget.


Rasa tak aman itu semakin kuat Sergio rasakan. Bahkan akhirnya Sergio merespons rasa takut itu dan menghampiri Kalista.


"Bokap lo nanti mutilasi gue gimana, Babi?"

__ADS_1


"Siapa yang lo panggil babi, hah?" Kalista melotot diam-diam. "Udah deh enggak usah bacot. Nikmatin aja."


"Ya lo enak nikmatin. Gue korban."


"Lo bilang mau bantuin gue."


"Tapi enggak bawa-bawa nyawa, Babi." Sergio menghela napas. "Yaudah deh, biar gue yang bayar barang couple-nya. Sumpah gue ngeri."


"Emang lo punya duit?"


"Waaaah." Sergio geleng-geleng tak habis pikir pada pertanyaan Kalista itu.


Mohon maaf nih yah, Sergio dari lahir bahkan tidak tahu rasanya kurang duit. Cuma Sergio cuma tidak suka saja gitu jalan-jalan sambil pakai cincin batu kayak Hotman Paris biar kelihatan kaya.


"Nih." Sergio meletakkan blackcard di tangan Kalista. "Bayar pake itu."


"Wuih, kaya juga yah lo." Kalista memandangi kartu itu dengan satu alis terangkat, tidak terlalu terkesan.


Kenapa? Ya soalnya orang tidak berguna di belakang sana bilang Kalista boleh beli kapal pesiar. Black card begini mah kelihatan kayak kartu domino doang.

__ADS_1


"Tapi gak." Kalista mengembalikan kartu itu tanpa berpikir. "Gue mau bikin dia kesel, bukan mau belanja doang. Shu-shu, jangan ganggu kesenangan orang."


"Lo tuh—"


Kedua anak muda yang pura-pura pacaran itu sibuk berdebat dan Rahadyan tidak bisa dengar mereka bicara apa.


Sebenarnya Rahadyan malah tidak bisa fokus pada apa pun sekarang selain Sergio.


Di kepala Rahadyan ....


Cara pembunuhan seperti apa yang bagus untuk dia melenyapkan anak ini? Haruskah Rahadyan minta secara langsung pada organisasi pembunuh terbaik di dunia bawah buat memutilasi Sergio?


Ah, tidak, tidak. Memutilasi masih terlalu ringan.


Ayo kuliti dia sesenti demi senti setiap jamnya. Benar. Lalu kemudian rebus dia, lalu kemudian tusuk-tusuk dengan lidi, lalu kemudian jadikan babi giling.


Dia udah bukan manusia, gumam Rahadyan dalam dirinya. Ini anak udah jadi babi. Babi haram dimakan, tapi enggak haram dibakar. Jadi gue bakar aja terus gue kasih ke orang yang makan babi.


Dasar anak muda predator. Beraninya dia berpura-pura jadi anak baik untuk mendekati anak Rahadyan. Bahkan kalau Kalista adalah gadis liar, anak itu pasti polos dan bodoh karena percaya pada makhluk melata ini.

__ADS_1


Mati lo, Bocah. Rahadyan sudah siap menyiksanya sampai dia kehabisan darah. Mati lo sama gue entar. Mati, mati, mati, mati.


*


__ADS_2