My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
93. Nelfon Om


__ADS_3

Sergio belakangan jarang bergaul dengan Kalista. Soalnya belakangan Astrid menuntutnya agar hadir sebagai 'pasangan'. Terlebih, Mami juga sudah tahu kalau Sergio tidak mengajari Kalista apa-apa, jadi jika Sergio bersikeras menolak Astrid, Mami pasti bakal menyuruhnya pulang.


Sebenarnya, Sergio sudah betah di rumah Kalista jadi yah rencananya untuk pulang tidak ada.


"Sergio!!!!!!!!"


Orang-orang di kelas Sergio seketika menutup telinga mereka rapat-rapat, terkejut akan teriakan menggelegar dari seseorang.


Jelas, yang paling tercengang adalah Sergio. Kalista benar-benar tidak memedulikan sekitaran padahal dia tahu sangat banyak orang tidak menyukainya di sekolah ini.


"Sergio!"


Orangnya buru-buru beranjak walaupun wajahnya masih tercengang. "Lo gila apa teriak-teriak di sini?!" Sergio menarik tangannya buat pergi, sekaligus panik kalau Kalista menggila di depan umum.


Orang ini otaknya rada tidak waras jadi susah kalau diminta normal.


"Lo kenapa sih?! Ada teknologi namanya HP! HP lo baru pula beli kemaren! Bisa-bisanya lo—"


"Telfonin Om!" Kalista memotong ocehan tak penting Sergio, segera masuk pada urusannya.


"Hah?"


"Om itu, telfonin!"


Sergio menatap Kalista aneh. "Lo kangen sama Om Rahadyan?"

__ADS_1


"Amit-amit!" Kalista menggigit lengan Sergio saking tidak menyangkanya dia bisa memberi fitnah keji begitu.


Cuih. Ngapain juga Kalista kangen pada orang enggak guna? Ini masalah penting karena ini mengenai Agas!


"Ade-de-de-de! Kalista! Sakit, bego!" Sergio melompat mundur sambil melindungi tangannya. "Lo nih manusia apa anjing, sih?!"


"Gak! Gue setan!" Kalista melotot. "Udahlah, bacot. Pokoknya telfonin Om."


Sergio punya seribu satu pertanyaan mengenai kewarasan Kalista plus alasannya dia apa. Tapi kayaknya kalau bertanya ia bakal digigit lebih keras, jadi Sergio putuskan tidak peduli.


Dikeluarkan ponselnya buat menghubungi Rahadyan.


Butuh waktu beberapa saat karena ia menghubunginya lintas benua. Dan jeda itu cukup buat Agas memberitahu Rahadyan tentang apa yang ia lakukan lewat teks.


Ketika panggilan Sergio dijawab, segera anak itu berbicara. "Om, ini Kalista mau—"


"Sssshhhhhhhhhtttt!" Kalista mendelik tajam. "Jangan bilang gue juga, bego. Bilang aja elo," bisiknya penuh penekanan. "Pokoknya bukan gue."


Ribet amat sih ni cewek. Sergio menggerutu tapi masih mau hidup jadi ia menurut.


"Om, ini Sergio. Aku mau ngomongin Kalista."


"Kenapa? Saya lagi sibuk."


Lalu Sergio menatap Kalista, soalnya dia belum bilang maksudnya apa.

__ADS_1


Tanpa suara sama sekali, Kalista berbicara dan menyuruh Sergio mengulang ucapannya.


"Om, kontraknya Agas udah diperbaharuin?"


"Ngapain kamu ngurusin kontrak pengawal Kalista?!" balas Rahadyan sewot.


"Ya, nanya aja Om siapa tau Om lupa." Sergio mendengkus sebal karena dirinya juga tidak sudi bertanya. Malah kalau bisa si Agas jauh-jauh saja dari Kalista biar Sergio bisa mendekatinya lebih leluasa.


Tapi berhubung ia dipelototi sekarang, ya Sergio bisa apa kecuali menuruti kebohongan itu?


"Gimana, Om?"


"Gak."


Sergio melihat Kalista tiba-tiba membeku di tempat. Gadis itu melebarkan mata bukan untuk melotot, melainkan seperti tak percaya bahwa itu adalah kenyataan di depan matanya.


"Gak apa, Om?" Kayaknya ini serius, jadi Sergio membantu.


"Kontraknya enggak diperpanjang." Rahadyan berucap dingin. "Agas mahal, jadi enggak ada gunanya saya panjangin."


Ngaco kali ini orang padahal dia sendiri yang menyewa. Sergio mau bilang 'Kalista pasti sedih', tapi sebelum kata keluar dari mulutnya, Sergio tersentak.


Kalista di depannya tiba-tiba menutup wajah dan menangis.


"Lah?" Sergio cengo. "Lo kenapa?"

__ADS_1


Kalista tidak menjawab, melainkan berbalik dan lari meninggalkan Sergio, telepon yang terhubung dengan Rahadyan, juga Agas yang menyaksikan semuanya dalam diam.


*


__ADS_2