
Kontraknya sudah diperpanjang? Sejak awal?
Kalista membeku tak bergerak pada fakta itu. Tapi, lebih dari ia senang karena Agas masih bisa bersamanya ... kenapa jantung Kalista malah lebih berdebar mendengar kata 'sejak awal'?
Seakan-akan ia merasa senang karena Rahadyan ingat janjinya.
Tidak. Itu kan tidak penting! Yang penting kan Agas lalu kenapa ....
"Kalista?"
"Oh." Kalista buru-buru berdehem. "Yaudah."
"Kamu udah enggak marah kan?"
"Hm."
"Kamu mesti selalu inget yah, Papa enggak bakal bohong sama kamu apalagi ngelanggar janji sama kamu. Enggak bakal. Jadi jangan kemakan omongan Papa kalo Papa ngomongnya ke orang lain. Kecuali ke kamu."
Kalista membuang muka meskipun Rahadyan tidak melihatnya. Entah sejak kapan kakinya sudah selesai diobati dan suster perawatnya telah pergi.
Hanya ada Kalista sendiri di bilik itu. Menunduk melihat perban di lututnya yang cidera akibat berlari tadi.
Padahal biasanya Kalista kesal karena cidera ini disebabkan oleh kebohongan Rahadyan. Tapi kenapa Kalista tidak terlalu kesal yah sekarang?
"Kamu di mana?" tanya Rahadyan ketika mendengar keheningan di sisi Kalista.
__ADS_1
Tentu saja di ujung sana Rahadyan terus tersenyum-senyum menikmati teleponan dengan anaknya.
"Papa denger tadi kamu ngusir Agas sama Sergio. Kamu di mana, Sayang? Udah pulang sekolah?"
".... Udah."
Nampaknya Agas adalah sogokan terbaik buat menjinakkan Kalista.
Hah! Tidak sia-sia si manusia dua miliar itu.
"Papa kangen kamu, Kalista." Rahadyan mengutarakan perasaannya tanpa menahan apa pun.
Karena cuma dengan cara ini ia bisa berkomunikasi.
"Kamu udah liat progres gaun kamu yang dikerjain Aca, kan? Kalo kamu minta yang lain, Aca bakal bikinin yang baru kok. Terus kalo kamu mau yang lain, tinggal kamu notain."
"Hm."
"Kamu makan apa tadi, Sayang?"
Kalista membuang muka dari ponselnya. "Ngapain juga mau tau," gumam gadis itu pelan.
Niatnya tidak memperdengarkan, tapi ternyata Rahadyan dengar. Pria itu tertawa seolah jawaban Kalista lucu.
"Emang enggak boleh kepo sama anak kesayangan Papa?"
__ADS_1
Wajah Kalista mendadak merah.
Tidak, tidak, tidak! Kenapa jantungnya malah makin berdebar mendengar Om Tidak Berguna ini perhatian?! Cih, cih, cih! Dan apa yang merasuki Kalista sekarang?
Keluar sana keluar!
"Enggak makan apa-apa!" Kalista mendadak berseru, menutup panggilan segera seolah kalau dilanjutkan maka detik itu juga ia terbakar.
Gadis itu memegangi jantungnya yang berdebar-debar. Kalista sumpah demi Tuhan dan langit bumi tidak mau mengakui bahwa tadi ia melunak.
Ia melunak pada Rahadyan cuma karena dia menepati janjinya.
"Bahaya." Kalista menggeleng-gelengkan kepala berharap sadar. "Hah, enggak bakal gue telepon lagi. Enggak bakal."
Sedangkan di sisi Rahadyan, dia terkejut anaknya mematikan panggilan begitu saja. Tapi sesaat kemudian Rahadyan tersenyum.
Rasanya mendadak Rahadyan mau pulang karena rindu. Tapi Rahadyan juga tidak menampik kalau ternyata saran meninggalkan Kalista sebentar itu manjur juga.
Dia bukan cuma menelepon Rahadyan duluan, dia bahkan bertahan meneleponnya selama beberapa menit.
Nanti telepon lagi, ah. Rahadyan menjadi sangat riang, melanjutkan perjalanan ke kafe tempat janjian dengam Laura. Sudah dua minggu setelah mereka membicarakan pernikahan, jadi hari ini adalah hari Rahadyan mendengarkan lamarannya diterima atau ditolak.
Kalau diterima, ia bakal menjadikan itu alasan buat menelepon Kalista nanti.
"Rahadyan." Dari meja di dekat jendela kafe, Laura melambaikan tangan. "Sini."
__ADS_1
*